Internasional

Rupiah Tertekan ke Level Rp17.907 Akibat Ketidakpastian Geopolitik AS-Iran

Rupiah Tertekan ke Level Rp17.907 Akibat Ketidakpastian Geopolitik AS-Iran

Ringkasan

  • Rupiah melemah ke level Rp17.907 per dolar AS dipicu ketidakpastian negosiasi AS-Iran dan proyeksi kenaikan suku bunga The Fed.

Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) mengalami tekanan pada penutupan perdagangan Selasa sore. Mata uang Garuda melemah sebesar 56 poin atau 0,31 persen, sehingga menetap di posisi Rp17.907 per dolar AS, dibandingkan penutupan sebelumnya yang berada di level Rp17.851 per dolar AS.

Analis pasar uang, Ibrahim Assuaibi, mengungkapkan bahwa pelemahan ini dipicu oleh meningkatnya ketidakpastian dalam negosiasi perdamaian antara Iran dan AS. Situasi di Selat Hormuz yang masih rentan mengganggu aliran minyak global membuat pelaku pasar khawatir, terutama setelah kesepakatan gencatan senjata pada 17 Juni lalu tampak rapuh menyusul serangan rudal yang terjadi akhir pekan lalu.

Harapan pasar akan adanya pertemuan negosiasi di Qatar kini memudar. Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baghaei, secara tegas menyatakan bahwa tidak ada agenda pertemuan tingkat apa pun dengan pihak Amerika dalam beberapa hari mendatang, yang semakin menambah sentimen negatif bagi pasar keuangan global.

Selain faktor geopolitik, sentimen hawkish dari Federal Reserve (The Fed) juga turut menekan mata uang regional. Para pembuat kebijakan di bank sentral AS tersebut mengisyaratkan kemungkinan kenaikan suku bunga setidaknya sekali pada tahun ini, menyusul hasil pertemuan bulan Juni yang menunjukkan sikap lebih agresif dalam mengendalikan inflasi.

Investor saat ini tengah menantikan rilis data pasar tenaga kerja AS, khususnya laporan Nonfarm Payrolls (NFP) yang dijadwalkan terbit pada Kamis (2/7). Analis memperkirakan ekonomi AS akan menyerap sekitar 114 ribu lapangan kerja baru, dengan tingkat pengangguran diproyeksikan bertahan di angka 4,3 persen. Data ini sangat krusial karena akan menjadi acuan utama bagi kebijakan moneter The Fed ke depannya.

Di dalam negeri, pelaku pasar sedang mencermati data neraca perdagangan bulan Mei. Penurunan surplus perdagangan secara kumulatif dibandingkan tahun lalu dikhawatirkan akan membebani defisit transaksi berjalan (CAD). Tanpa adanya aliran modal asing yang kuat, ketahanan eksternal Indonesia berpotensi terganggu, yang pada akhirnya memberikan tekanan lanjutan terhadap stabilitas kurs rupiah di pasar domestik.

Mengapa Ini Penting

Pelemahan rupiah berdampak langsung pada biaya impor barang modal dan bahan baku industri yang sangat krusial bagi ekosistem bisnis dan startup di Indonesia. Kenaikan suku bunga The Fed juga dapat memicu pengetatan likuiditas global yang memaksa perusahaan teknologi untuk lebih konservatif dalam perencanaan arus kas dan pendanaan.

Sumber Asli
Antaranews
Tanggal
30 Juni 2026
Waktu Baca
3 menit