Wali Kota Moskwa, Sergei Sobyanin, mengonfirmasi gelombang serangan berlangsung tanpa henti sejak malam hingga fajar. Radar dan sistem peluru anti-pesawat berhasil menetralkan sebagian besar target, meski sekitar 200 unit lain berhasil ditembak jatuh oleh personel pertahanan titik vital. Gubernur Wilayah Moskwa, Andrey Vorobyov, menyebut insiden itu sebagai salah satu serangan drone paling masif yang tercatat dalam memori terbaru, dengan enam warga dilaporkan cedera ringan hingga sedang.
Ledakan paling merusak terjadi di Podolsk, di mana drone menumbangkan gudang milik raksasa e-commerce Wildberries di Kawasan Industri Koledino. Api menggutomi bangunan berjam-jam sebelum padamkan oleh tim pemadam kebakaran. Ini bukan pertama kalinya fasilitas Wildberries jadi sasaran — sejak pertengahan Juli, minimal 20 gudang dan bangunan terkait perusahaan tersebut diserang secara sistematis oleh Kyiv.
Ukraina mengakui tanggung jawab dan memframingkan serangan balasan ini sebagai respons atas kampanye rudal Rusia yang menghancurkan kota-kota dan infrastruktur sipil di wilayah mereka. Strategi baru Kyiv tampak bergeser: dari menyerang basis militer dan fasilitas energi, kini fokus ke jaringan logistik dan komersial yang mendukung ekonomi perang Moskow. Wildberries, sebagai platform ritel terbesar Rusia, dipandang sebagai simbol kekuatan ekonomi Kremlin.
Di sisi lain, Rusia tidak diam menunggu. Selama Moskwa diguyur drone, rudal balistik dan tempur Rusia menghujani sejumlah wilayah Ukraina. Dua orang tewas di Zaporizhzhia dan Kryvyi Rig — kota kelahiran Presiden Volodymyr Zelensky — sementara lebih dari 20 warga cedera tersebar di Kyiv, Brovary, Odesa, dan Dnipropetrovsk. Wali Kota Kyiv, Vitali Klitschko, mendesak warga tetap di bunker hingga peringatan dinyatakan berakhir.
Eskalasi ganda ini memperlihatkan dinamika perang asimetris yang semakin tajam. Drone murah dan massal — beberapa di antaranya diproduksi domestik Ukraina — dipakai untuk menguras sistem pertahanan udara mahal Rusia seperti S-400 dan Pantsir. Setiap drone yang berhasil tembus memaksa Moskow mengeluarkan puluhan kali lipat biaya untuk menembaknya. Perang atrisi teknologi ini mengubah kalkulasi militer konvensional.
Bagi Indonesia, peristiwa ini menawarkan pelajaran kritis. TNI AU saat ini mengandalkan sistem pertahanan udara generasi lama serta sejumlah radar survei yang belum sepenuhnya terintegrasi. Kemampuan menanggapi ancaman drone swarm — gerombolan drone yang menyerang serentak — masih menjadi celah besar. Akuisisi sistem C-UAS (Counter-Unmanned Aircraft System) modern dan pengembangan drone tempur domestik oleh PT Dirgantara Indonesia (PTDI) serta anak usaha Pindad harus dipercepat.
Industri pertahanan dalam negeri sudah memulai langkah. Drone Elang Hitam buatan PTDI telah terbang uji, sementara drone loitering munition jenis baru sedang dalam tahap pengembangan bersama riset universitas. Namun, integrasi sensor, jaringan data link, dan sistem komando tunggal yang mampu memproses ratusan target sekaligus — seperti yang dihadapi Moskwa — belum terealisasi sepenuhnya.
Diplomatikamente, pertempuran drone ini mempersulit upaya perdamaian. Setiap serangan balasan menciptakan siklus kebalikan yang semakin sulit dihentikan. Negara-negara ASEAN termasuk Indonesia, yang konsisten menentang penggunaan kekuatan dan mendorong diplomasi, kini menghadapi realitas di mana teknologi militer murah merubah wajah perang tanpa menunggu keputusan politik tingkat tinggi.
Analis militer memprediksi intensitas serangan drone akan naik seiring musim dingin mendekat, di mana aktivitas rudal cruise Rusia biasanya meningkat. Ukraina kemungkinan akan memperbanyak produksi drone jarak jauh seperti tipe "Palianytsia" yang dijangkau hingga 700 kilometer. Rusia akan menjawab dengan penembakan elektronik (jamming) yang lebih canggih dan peluncuran satelit rekayasa untuk deteksi dini.
Kesimpulannya, Moskwa malam Minggu bukan sekadar statistik angka 600 drone. Ia adalah bukti nyata bahwa superioritas udara tradisional sudah tidak lagi mutlak. Negara-negara menengah seperti Indonesia harus mempersiapkan doktrin, teknologi, dan sumber daya manusia untuk era di mana langit bisa dihuni ratusan ancaman otomatis dalam satu malam.