Pasukan Israel menyerang dua masjid di Tepi Laut, salah satunya dengan gas air mata saat jamaah berkumpul untuk shalat, sementara sekelompok penghuni yang diduduki berusaha membakar masjid lainnya. Insiden ini terjadi di Madama, dekat Nablus, dan di Bazariya, menandakan peningkatan serangan terhadap situs keagamaan Palestina.
Pada Selasa (2 September 2026), wanita dan pria tua di Madama terpaksa berkumpul di dalam ruang terbatas saat gas air mata menguar dari luar. Sejumlah warga melaporkan sesak napas dan kesulitan bernapas setelah gas masuk ke dalam ruangan. Menurut Kementerian Urusan Keagamaan Palestina, serangan ini menyebabkan luka paru-paru pada sejumlah jamaah terutama yang berusia.
Di Bazariya, masjid Nur al-Din Zanki menjadi sasaran pembakaran dan pengrusakan oleh kelompok penghuni yang diduduki. Bukti termasuk bekas bakar di sekitar jendela dan tulisan berbahasa Ibrani yang ditulis pakai spray di dinding luar. Salah seorang warga lokal, Majed Nasr, mengatakan ada ledakan kecil yang menyebabkan api muncul di dalam bangunan. "Kami berhasil memadamkannya sebelum api menyebar ke lantai atas," ujurnya kepada AFP.
Serangan ini merupakan bagian dari pola yang semakin membimbangkan. Sejak Januari 2026, setidaknya 13 masjid telah dilaporkan sebagai tempat dibacoki atau diserang oleh pasukan Israel atau kelompok penghuni yang diduduki. Kementerian Urusan Keagamaan menyebut insiden ini sebagai pelanggaran yang jelas terhadap kedaulatan tempat ibadah.
Sementara itu, serangan serupa terjadi di Beta dan Nahalin, di mana kendaraan rakyat Palestina dibakar. Pemerintah Palestina mencatat bahwa tindak kejahatan ini terjadi dalam konteks ketegangan yang sudah lama berlangsung di Tepi Laut. Presiden Mahmoud Abbas menyampaikan peringatan bahwa serangan ini bisa memicu konflik agama yang lebih luas.
Pihak PBB sebelumnya melaporkan bahwa setidaknya 76 orang Palestina tewas dan sekitar 3.800 orang terpaksa mengungsi akibat kekerasan penghuni yang diduduki serta penghancuran rumah. Lebih dari 1.430 kasus kekerasan yang menyebabkan luka atau kerusakan properti telah tercatat pada tahun 2026.
Serangan ini juga mencerminkan dinamika politik internal Israel. Pemerintah yang dipimpin oleh partai ekstremis kanan semakin memberi ruang bagi kelompok penghuni yang diduduki untuk bertindak tanpa kendali yang efektif. Hal ini memperparah ketegangan yang sudah ada di wilayah yang masih dikuokupasi.
Konteks ini penting bagi pembaca Indonesia karena menunjukkan betapa mudahnya konflik keagamaan bisa berkembang menjadi aksi kekerasan terhadap tempat ibadah. Di Indonesia, kebersamaan antarumat beragama umumnya terjalin dengan baik, namun ancaman terhadap situs keagamaan tetap menjadi isu sensitif yang perlu pengawasan internasional.
Pemerintah Indonesia selama ini konsisten mendukung solusi dua negara dan menolak aksi represif terhadap rakyat Palestina. Serangan ini hanya akan memperdalam luka dan mempersulit proses perdamaian yang sudah lama terhambat.
Di sisi lain, tindakan Israel ini juga menimbulkan reaksi diplomatik dari berbagai pihak, termasuk negara-negara anggota OIC. Beberapa negara Eropa juga mulai menyoroti pelanggaran HAM yang terjadi di Tepi Laut.
Sementara itu, warga Palestina di berbagai kampung terus berusaha mempertahankan kehidupan sehari-hari meski dengan ancaman yang terus-menerus. Upaya mereka untuk membangun kembali apa yang rusak menjadi simbol tekad untuk bertahan.
Pihak berwenang Israel belum memberikan tanggapan resmi terkait dugaan penggunaan gas air mata di dalam masjid. Namun, kelompok hak asasi manusia internasional telah lama mengkritik kebijakan Israel terhadap rakyat Palestina di Tepi Laut.
Dalam beberapa minggu ke depan, tak terjadi tanda-tanda penurunan ketegangan. Justru, kampanye penghancuran properti dan penggusuran rumah terus berlanjut. Ini menunjukkan betapa rapuhnya kondisi keamanan bagi warga sipil di wilayah yang dikuokupasi.
Pemerhatikan internasional perlu menekan agar ada investigasi independen terhadap serangan ini. Tanpa langkah konkret, siklus kekerasan akan terus berulang dan menghancurkan harapan bagi perdamaian di kawasan tersebut.