Doha, Qatar – Kantor Amiri Diwan mengumumkan wafatnya Mantan Emir Qatar, Sheikh Hamad bin Khalifa Al Thani, pada Minggu pagi (12 Juli 2026) dalam usia 74 tahun. Pernyataan resmi menyebutkan bahwa bangsa Qatar kehilangan tokoh besar yang telah meletakkan fondasi modernisasi negara tersebut. Beliau dikenal sebagai "Father Emir" setelah menyerahkan kekuasaan kepada putranya, Sheikh Tamim bin Hamad Al Thani, pada tahun 2013.
Sheikh Hamad memegang tampuk kepemimpinan Qatar sejak tahun 1995 setelah mengambil alih kekuasaan dari ayahnya, Emir Khalifa bin Hamad Al Thani, dalam sebuah manuver politik yang saat itu mengejutkan dunia Arab. Selama 18 tahun memimpin, ia bertransformasi dari seorang putra mahkota yang relatif tidak dikenal menjadi arsitek utama perubahan besar di semenanjung Arab. Masa kekuasaannya ditandai oleh visi strategis untuk mengubah Qatar dari negara pantai kecil yang bergantung pada perekonomian mutiara menjadi kekuatan energi global.
Di bawah kepemimpinannya, Qatar melakukan investasi masif pada industri gas alam cair (LNG). Dengan memanfaatkan cadangan gas raksasa di ladang North Field, Sheikh Hamad menjadikan negaranya sebagai eksportir LNG terbesar di dunia. Kebijakan ekonomi yang pro-investasi dan kemitraan internasional yang luas menarik perusahaan multinasional serta membangun infrastruktur modern, termasuk pelabuhan, bandara, dan pusat finansial. Pertumbuhan ekonomi yang pesat ini memberi ruang fiskal bagi Qatar untuk melakukan diplomasi aktif di berbagai forum internasional.
Aspek sosial dan budaya juga mengalami lompatan signifikan. Sheikh Hamad bersama istriya, Sheikha Moza bint Nasser, mendorong pendidikan tinggi melalui pendirian Qatar Foundation dan Education City yang menaungi kampus-kampus universitas dunia. Saluran berita Al Jazeera yang diluncurkan pada era awal pemerintahannya menjadi suara alternatif di Timur Tengah dan memperkuat pengaruh soft power Qatar. Transformasi ini tidak hanya meningkatkan taraf hidup warga, tetapi juga memposisikan Qatar sebagai pusat intelektual dan budaya di kawasan Teluk.
Dalam arena geopolitik, Sheikh Hamad menerapkan politik luar negeri yang independen dan pragmatis. Ia menjalin hubungan erat dengan Amerika Serikat, menjadi tuan rumah Pangkalan Udara Al Udeid, sekaligus berperan sebagai mediator dalam konflik regional seperti Lebanon dan Gaza. Kunjungannya ke Jalur Gaza pada 2012 untuk meletakkan batu pertama pusat rehabilitasi yang didanai Qatar menunjukkan komitmen humanitarian yang melampaui batas politik sektarian. Foto-foto archival yang dirilis menampilkan pertemuan beliau dengan sejumlah pemimpin dunia, mulai dari Presiden AS George W Bush, Barack Obama, hingga Ratu Elizabeth II dan Kanselir Jerman Angela Merkel.
Salah satu keputusan paling bersejarah adalah pengunduran diri sukarela pada Juni 2013, ketika ia menyerahkan tampuk kekuasaan kepada putranya Sheikh Tamim yang saat itu berusia 33 tahun. Langkah abdikasi ini sangat langka di kalangan penguasa herediter Teluk Arab yang biasanya memegang jabatan hingga akhir hayat. Transisi yang mulus tersebut mengonsolidasikan stabilitas internal dan menegaskan bahwa institusi negara Qatar telah matang untuk kelanjutan kepemimpinan generasi baru.
Hubungan dengan Indonesia juga memiliki catatan tersendiri. Pada Mei 2009, Sheikh Hamad dan Sheikha Moza berkunjung ke Jakarta atas undangan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Kerja sama energi dan pendidikan menjadi agenda utama, serta membuka jalan bagi investasi Qatar di sektor infrastruktur Tanah Air. Kehadiran sovereign wealth fund Qatar di pasar global termasuk Asia Tenggara memberikan pelajaran bagi Indonesia tentang bagaimana pengelolaan kekayaan sumber daya alam dapat dialihkan menjadi modal pembangunan jangka panjang.
Kini, dengan wafatnya Sheikh Hamad, Qatar memasuki babak refleksi atas warisan pendiri modernisasi tersebut. Emir Tamim bin Hamad Al Thani telah melanjutkan banyak kebijakan ayahnya, termasuk mempertahankan posisi Qatar sebagai tuan rumah Piala Dunia FIFA 2022 yang sukses dan navigasi krisis Teluk 2017. Masyarakat internasional menyampaikan belasungkawa, mengenang sosok yang telah mengubah lanskap geopolitik Timur Tengah melalui kebijakan energi dan diplomasi yang berani.
Dari perspektif ekonomi global, kepemimpinan Sheikh Hamad meninggalkan cetak biru ketahanan energi yang relevan bagi negara berkembang seperti Indonesia. Investasi pada teknologi LNG dan diversifikasi pendapatan melalui edukasi serta olahraga menunjukkan bahwa negara dapat melepaskan diri dari ketergantungan pada minyak mentah. Bagi industri teknologi di Indonesia, kolaborasi dengan ekosistem riset Qatar yang dibangun selama era beliau dapat menjadi jalan baru untuk transfer pengetahuan dan inovasi digital di sektor energi terbarukan.