Singapura mengumumkan komitmen dana sebesar 2 juta dolar AS atau setara Rp32 miliar untuk merespons wabah virus Ebola Bundibugyo yang melanda Republik Demokratik Kongo (DRC) dan Uganda. Kementerian Kesehatan (MOH) serta Badan Penyakit Menular (CDA) setempat menyatakan bantuan ini diumumkan pada Selasa (14/7) waktu setempat guna mempercepat penanganan krisis kesehatan di Afrika Timur dan Tengah.
Dana tersebut akan difokuskan pada penguatan kapasitas laboratorium, pelacakan kontak, serta pencegahan dan pengendalian infeksi di lapangan. Selain itu, bantuan ini juga menjamin ketersediaan alat pelindung diri (APD), peralatan diagnostik, obat-obatan esensial, hingga pasokan oksigen dan peralatan perawatan kritis bagi pasien yang terpapar.
Wabah Ebola Bundibugyo resmi dinyatakan sebagai darurat kesehatan masyarakat yang meresahkan dunia (PHEIC) oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pada 17 Mei lalu. Sehari berselang, Africa CDC menetapkannya sebagai darurat keamanan kesehatan benua. Keputusan ini memicu peluncuran Rencana Kesiapsiagaan dan Respons Benua pada 5 Juni, yang kini menjadi jalur penyaluran bantuan Singapura melalui WHO dan Africa CDC.
Kondisi di lapangan sangat mengkhawatirkan. WHO mencatat jumlah kasus di DRC meningkat drastis sejak pertengahan Mei. Hingga pekan lalu, tercatat 1.759 kasus terkonfirmasi dengan 600 kematian. Wessam Mankoula, Kepala Kesiapsiagaan dan Respons Darurat Africa CDC, menyebut ini sebagai wabah Ebola dengan pertumbuhan tercepat dalam sejarah, melampaui seluruh varian virus penyebab Ebola sebelumnya.
Virus Bundibugyo sendiri merupakan varian mematikan dengan tingkat fatalitas antara 30 hingga 50 persen. Masa inkubasi berkisar 2 hingga 21 hari. Penularan utama terjadi melalui kontak langsung dengan cairan tubuh penderita, termasuk jenazah. Hingga saat ini, belum ada vaksin atau terapi khusus yang disetujui untuk varian ini, membuat upaya pencegahan fisik dan isolasi menjadi satu-satunya tameng.
Bagi ekosistem kesehatan global, langkah Singapura mencerminkan urgensi kolaborasi lintas batas. Indonesia, sebagai negara kepulauan dengan mobilitas tinggi, memiliki kerentanan terhadap masuknya penyakit infeksi emerging. Meski belum ada kasus impor Ebola di Tanah Air, pengalaman pandemi COVID-19 membuktikan bahwa deteksi dini dan kesiapan laboratorium adalah kunci.
Kementerian Kesehatan RI selama ini telah mengembangkan sistem surveilans berbasis portal dan pelacakan kontak digital. Namun, krisis di Afrika menyoroti pentingnya ketersediaan APD dan peralatan diagnostik mandiri. Bantuan Singapura kepada Africa CDC juga relevan dengan posisi Indonesia di ASEAN, di mana Singapura sering menjadi hub logistik dan rujukan medis regional.
Kesiapan rumah sakit rujukan nasional, seperti RSUP Sulianti Saroso, pernah diuji saat wabah Ebola sebelumnya. Wabah Bundibugyo yang tak memiliki vaksin ini menekankan perlunya investasi pada riset virologi lokal. Indonesia memiliki laboratorium Biosafety Level 3 (BSL-3), namun kolaborasi internasional tetap krusial untuk berbagi sekuens genetika virus secara real-time.
Menteri Kesehatan sekaligus Menteri Koordinator Kebijakan Sosial Singapura, Ong Ye Kung, menegaskan bahwa keamanan kesehatan global adalah tanggung jawab bersama. "Keamanan kesehatan global adalah tanggung jawab bersama, dan Singapura selalu percaya menjadi mitra yang dapat diandalkan di saat dibutuhkan," ujarnya.
Ong menambahkan, prioritas utama bantuan tersebut adalah memastikan pasokan tepat sasaran dan mendukung tenaga kesehatan garis depan. Komitmen ini melanjutkan kemitraan erat Singapura dengan Africa CDC dan WHO, termasuk sumbangan 12 juta dolar AS untuk Coalition of Epidemic Preparedness Innovations (CEPI) pada Mei lalu.
Ke depan, fokus penanganan akan bergeser pada pengendalian transmisi di perbatasan DRC-Uganda yang rawan pergerakan penduduk. Africa CDC dan WHO diproyeksikan akan meminta tambahan dukungan finansial mengingat angka kematian yang terus meroket.
Di sisi lain, Singapura diperkirakan akan terus mengekspansi peran diplomatiknya di sektor kesehatan global. Setelah menyumbang 24 juta dolar Singapura untuk WHO pada 2024 dan kit diagnostik mpox, langkah terkini menegaskan posisi negara kota tersebut sebagai katalis bantuan kemanusiaan di Asia Tenggara dan Afrika.