Ayodhya, India – Kuil Ram yang megah di Ayodhya, Uttar Pradesh, kini tengah diselimuti awan gelap menyusul mencuatnya dugaan skandal korupsi besar. Tempat suci yang dibangun di atas bekas reruntuhan Masjid Babri ini, yang diresmikan oleh Perdana Menteri Narendra Modi sekitar dua setengah tahun lalu, kini menjadi pusat perhatian bukan karena kesuciannya, melainkan karena tuduhan penggelapan dana donasi umat yang mencapai jutaan dolar AS.
Bagi sebagian besar umat Hindu, kuil ini merupakan simbol kebenaran dan keadilan yang diwakili oleh Dewa Ram. Namun, kepercayaan masyarakat mulai runtuh setelah muncul laporan mengenai penyimpangan dana yang dikelola oleh Shri Ram Janmabhoomi Teerth Kshetra Trust. Lembaga independen ini bertanggung jawab penuh atas operasional kuil, namun kini berada di bawah tekanan hebat setelah mantan supervisor tim akuntansi mereka, Mahipal Singh, mengungkap adanya ketidakberesan dalam pengelolaan keuangan.
Reaksi masyarakat sangat keras terhadap dugaan ini. Brajesh Kumar, seorang warga setempat berusia 65 tahun, mengungkapkan kekecewaannya yang mendalam. Ia merasa dikhianati oleh pihak manajemen yang dinilai telah mengorbankan keyakinan umat demi kepentingan pribadi dan keuntungan finansial. Sentimen serupa juga menyebar di kalangan masyarakat luas, yang memandang tindakan tersebut sebagai pengkhianatan terhadap nilai-nilai religius yang selama ini mereka junjung tinggi.
Tekanan politik pun tak terelakkan. Akhilesh Yadav, mantan Menteri Utama Uttar Pradesh sekaligus tokoh oposisi dari Partai Samajwadi, secara vokal mengangkat isu ini ke permukaan. Ia menuntut pertanggungjawaban atas hilangnya donasi dalam jumlah fantastis tersebut. Hal ini memaksa pemerintah negara bagian yang dipimpin oleh Partai Bharatiya Janata (BJP) untuk segera membentuk tim investigasi beranggotakan tiga orang guna melakukan audit internal.
Eskalasi kasus ini bergerak cepat. Meskipun isi laporan investigasi belum dipublikasikan secara resmi, pihak kepolisian setempat telah menindaklanjuti dengan mendaftarkan kasus kriminal. Sejauh ini, sedikitnya delapan orang telah ditangkap, termasuk beberapa staf yang bertugas menghitung uang tunai dan persembahan berharga di area kuil. Penangkapan ini menandai babak baru dalam krisis kepercayaan yang melanda situs keagamaan paling berpengaruh di India tersebut.
Kasus ini diprediksi akan memiliki dampak politik yang signifikan, terutama mengingat pemilihan umum di negara bagian terpadat di India tersebut akan segera berlangsung dalam beberapa bulan ke depan. Skandal ini tidak hanya menguji integritas pengelola kuil, tetapi juga menjadi ujian berat bagi kredibilitas pemerintah yang selama ini menjadikan pembangunan kuil sebagai salah satu pencapaian utama mereka di mata pemilih.