Federasi Sepak Bola Skotlandia (SFA) mengumumkan pada Minggu, 16 Agustus, bahwa Sebastien Pocognoli telah ditunjuk sebagai pelatih kepala tim nasional pria dengan kontrak awal dua tahun. Keputusan ini datang setelah Steve Clarke mengundurkan diri pasca penampilan Skotlandia di Piala Dunia 2026 di Amerika Utara, di mana tim tersebut keluar di fase grup setelah 28 tahun absensi dari pesta besar FIFA.
Clarke memimpin Skotlandia kembali ke kancah dunia setelah hampir tiga dekade, namun hasil di fase grup Piala Dunia dianggap tidak memuaskan sehingga ia memilih mundur. SFA kemudian mencari sosok yang mampu membawa segar taktis dan pengalaman internasional, hingga pilihan jatuh pada Pocognoli, 39 tahun, yang baru saja mengakhiri masa jabatannya di AS Monaco.
"Saat pertama kali mendengar minat Skotlandia, saya langsung tersanjung dan antusias," ujar Pocognoli dalam pernyataan resmi. "Suporter Skotlandia dikenal sangat bersemangat, baru-baru ini terlihat di Piala Dunia AS, dan saya sendiri merasakannya saat bermain untuk Belgia di sana pada 2013." Pernyataan itu menunjukkan betapa ia menghargai budaya pendukung yang menjadi identitas timnas Skotlandia.
Sebelum ditunjuk, Pocognoli sempat memimpin AS Monaco selama beberapa bulan. Namun, klub Prancis itu memutuskan hubungan kerja pada Juni setelah Monaco menyelesaikan Ligue 1 di posisi ketujuh dan gagal lolos ke Liga Champions. Keputusan Monaco dianggap cepat, mengingat Pocognoli hanya memiliki waktu singkat untuk menata tim.
Namun, riwayat Pocognoli di Belgium berbicara lebih keras. Ia pernah membawa Union Saint-Gilloise meraih gelar liga dan dinobatkan sebagai Pelatih Terbaik Belgium pada musim sebelumnya. Prestasi itu membuktikan kemampuannya membangun tim yang kompeten secara taktis dan mental, meski dengan sumber daya terbatas.
Sebagai bek kiri mantan, Pocognoli pernah memperkuat Standard Liège, West Bromwich Albion, dan Brighton & Hove Albion di Liga Inggris. Pengalaman bermain di tiga liga besar Eropa memberinya perspektif unik tentang intensitas fisik dan disiplin pertahanan, aspek yang sering menjadi kelemahan timnas Skotlandia.
Pocognoli menjadi pelatih asing kedua dalam sejarah timnas pria Skotlandia setelah Berti Vogts (2002-2004). Kehadirannya menandai pergulatan SFA untuk mencari filosofi bermain modern yang lebih proaktif, bukan sekadar bergantung pada semangat dan fisik semata.
Dari sudut pandang Indonesia, penunjukan ini menarik perhatian karena sejumlah pemain Skotlandia — seperti Lyndon Dykes dan Che Adams — sering dibahas di komunitas sepak bola lokal sebagai calon rekrutan liga domestik. Gaya latih Pocognoli yang menekankan transisi cepat dan pressing tinggi bisa menjadi referensi bagi pelatih Indonesia yang ingin mengadopsi sistem serupa.
Kendati demikian, konteks Indonesia berbeda: timnas Garuda saat ini berada di bawah naungan pelatih asing yang juga berasal dari Eropa, namun stabilitas jabatan masih menjadi tantangan. Kasus Pocognoli menunjukkan bahwa federasi berani mempertaruhkan kontrak jangka menengah meski pelatih baru baru saja gagal di klub besar, asalkan rekam jejak pengembangan tim muda terbukti.
Langkah selanjutnya bagi Pocognoli adalah mempersiapkan tim untuk kampanye Liga Bangsa UEFA (Nations League) yang akan dimulai bulan depan. Jadwal padat menuntut ia cepat mengenal karakter pemain, menyusun sistem taktis, dan membangun kohesi di tengah keterbatasan waktu latihan internasional.
Jangka panjang, keberhasilan Pocognoli akan diukur dari kemampuannya mengintegrasikan bakat muda akademi Skotlandia ke tim senior, serta apakah ia bisa membawa tim kembali ke pesta besar seperti Euro 2028. Bagi penggemar sepak bola Indonesia, perkembangan ini jadi pengingat bahwa regenerasi pelatih dan konsistensi proyek jangka panjang adalah kunci — hal yang masih menjadi rumah kerja federasi dan klub di tanah air.