Pada Selasa (14/7) pukul 10.47 EDT, roket Soyuz MS-29 lepas landas dari Kosmodrom Baikonur di Kazakhstan. Misi ini membawa Anil Menon (astronaut AS), Pyotr Dubrov, dan Anna Kikina (kosmonaut Rusia) menuju Stasiun Luar Angkasa Internasional (ISS). Mereka akan menetap di laboratorium luar angkasa seukuran lapangan sepak bola itu selama delapan bulan sebagai awak rotasi ke-75.
Proses docking berlangsung cepat. Hanya tiga jam setelah peluncuran, kapsul bersandar di ISS saat mengorbit di atas Laut Mediterania. Ketiganya lantas bergabung dengan tiga astronaut AS, dua astronaut Eropa, dan dua kosmonaut Rusia yang sudah lebih dulu berada di sana.
Peluncuran kali ini memiliki nilai simbolis tinggi. Ini merupakan penerbangan berawak pertama dari Landas Pacu Sit 31 Baikonur sejak insiden kerusakan parah akibat ledakan roket beberapa waktu lalu. Rusia baru mengoperasikan kembali situs peluncuran tunggal miliknya yang mampu membawa awak tersebut pada Maret lalu, namun hanya untuk misi kargo tak berawak ke ISS.
Kehadiran kepala badan antariksa kedua negara di lokasi peluncuran menambah bobot historis misi ini. Administrator NASA, Jared Isaacman, terbang langsung ke Baikonur untuk bertemu Direktur Roscosmos, Dmitry Bakanov. Kunjungan pejabat tertinggi NASA ke kosmodrom Rusia itu merupakan yang pertama sejak 2018. Ketegangan perang Rusia-Ukraina sebelumnya membuat mantan kepala NASA era Joe Biden, Bill Nelson, enggan atau terhalang melakukan lawatan serupa.
Kerja sama di ISS yang berusia 27 tahun memang tetap bertahan meski hubungan diplomatik kedua negara merenggang. Hal ini murni didorong oleh kebutuhan teknis yang tak terhindarkan. Panel surya Amerika Serikat menyuplai seluruh daya listrik stasiun, sementara pendorong (thruster) Rusia berfungsi menjaga orbit ISS agar tidak jatuh ke Bumi.
Bagi Indonesia, dinamika kerja sama antariksa negara adidaya ini memberikan pelajaran berharga mengenai pentingnya ketahanan dan kolaborasi lintas batas dalam teknologi tinggi. Meski Indonesia belum memiliki stasiun luar angkasa, langkah strategis NASA dan Roscosmos menunjukkan bahwa infrastruktur kritis tak bisa diserahkan pada satu pihak saja. BRIN saat ini terus mengembangkan satelit dan roket sonda, namun belum menyentuh kemampuan penerbangan berawak.
Kisah kebocoran udara di ISS yang sempat memicu kesiagaan evakuasi astronaut AS juga relevan dengan tantangan yang dihadapi satelit Indonesia. Ketergantungan pada komponen impor dan keterbatasan kemampuan perbaikan di orbit menjadi isu nyata. Jika negara dengan anggaran triliunan dolar seperti AS dan Rusia saja kesulitan mengatasi kebocoran pada modul tua, Indonesia harus belajar merancang satelit dengan margin keandalan yang lebih ketat.
Di sisi lain, partisipasi Anna Kikina sebagai satu-satunya wanita dari 23 kosmonaut aktif Rusia sekaligus veteran penerbangan SpaceX Crew Dragon pada 2022, membuka wacana tentang kesetaraan gender di sektor antariksa. Indonesia memiliki talenta perempuan unggul di bidang aerospace, seperti para engineer satelit di PT DI atau BRIN, yang perlu terus didorong agar tak hanya menjadi penonton di panggung global.
Isaacman yang merupakan miliarder astronaut privat sempat menuliskan apresiasi mendalam untuk Menon di platform X pasca-peluncuran. 'Anil telah menghabiskan seluruh hidupnya mempersiapkan momen ini. Ia adalah seorang sarjana, perwira militer, dokter, pilot, suami, ayah, dan tak diragukan lagi akan menjadi salah satu astronaut AS terhebat,' tulis Isaacman.
Hubungan personal antar tokoh antariksa nyatanya menjadi perekat diplomasi yang retak. Pada musim panas lalu, Bakanov sempat berkunjung ke Florida untuk menyaksikan peluncuran bersama menggunakan kapsul SpaceX. Pertemuan dengan pejabat sementara NASA saat itu, Sean Duffy, membahas kelanjutan ISS dan eksplorasi bulan, meski belum menghasilkan kesepakatan proyek baru.
Terlepas dari dinamika diplomasi, masa depan ISS memang mulai dihitung. Stasiun tersebut diproyeksikan pensiun setelah 2030, dan isu kesehatan struktural pasti menjadi agenda utama dalam pembicaraan Isaacman dan Bakanov di Baikonur. Video yang diunggah Roscosmos di Telegram menunjukkan keduanya berdiskusi didampingi pejabat senior, meski detailnya belum dibeberkan.
Tren militarisasi orbit Bumi yang meningkat juga akan menjadi titik gesek baru antara Washington dan Moskow. Namun, dengan dilanjutkannya peluncuran berawak dari Baikonur dan kembalinya interaksi tingkat tinggi, jalur komunikasi ilmiah dipastikan masih akan terjaga demi menjaga kelangsungan program penerbangan manusia di luar angkasa.