Mantan Perdana Menteri Spanyol Mariano Rajoy dikritik keras baik di dalam negeri maupun di Prancis setelah menyatakan bahwa tim nasional sepak bola Prancis "tidak memiliki pemain Prancis". Komentar ini muncul dalam sebuah artikel opini di situs berita daring Spanyol El Debate, ketika Spanyol bersiap menghadapi Prancis dalam pertandingan semifinal Piala Dunia yang sangat dinanti pada hari Selasa (14 Juli). Rajoy, yang memimpin pemerintahan konservatif hingga tahun 2018, mengatakan bahwa dari skuad Prancis, hanya tiga pemain yang lahir di luar negeri, menyiratkan bahwa mereka tidak benar-benar mewakili identitas nasional Prancis.
Reaksi terhadap pernyataan ini sangat cepat dan luas. Perdana Menteri Spanyol Pedro Sánchez mengecam komentar tersebut sebagai "xenofobia", menulis di platform X bahwa "kepemilikan negara masih diukur oleh nama keluarga, tempat lahir, atau warna kulit. Yang lain mengukurnya berdasarkan akar kita di sebuah negara dan keinginan kita untuk berkontribusi padanya." Sánchez menegaskan bahwa Spanyol adalah milik mereka yang mencintainya dan bekerja untuknya, bukan mereka yang merusaknya dengan pernyataan xenofobia.
Di Prancis, para politisi juga bereaksi keras. Menteri Dalam Negeri Laurent Nunez menyebut komentar tersebut "sangat tidak dapat diterima" dalam sebuah wawancara dengan BFMTV. Pemimpin Partai Komunis Fabien Roussel membandingkan pernyataan Rajoy dengan komentar kontroversial Senator Paraguay Celeste Amarilla, yang menyebut bintang Prancis Kylian Mbappé sebagai "Cameron yang terjajah yang berpura-pura menjadi Prancis". Roussel mengecam apa yang disebutnya sebagai "obsesi rasial" yang terus muncul dari pihak-pihak tertentu.
Aurore Berge, menteri yang bertanggung jawab atas upaya melawan diskriminasi, mengecam "ledakan rasial yang berulang" dan menyerukan agar olahraga kembali menjadi domain di mana bakat, bukan identitas, yang menjadi ukuran. Naima Moutchou, menteri wilayah seberang laut Prancis, menggambarkan komentar tersebut sebagai bukti "kebencian sistematis dan meluas terhadap Prancis dan apa yang diwakilinya". Dia memperingatkan bahwa setiap kali Les Bleus menang, "obsesi rasial dan penghinaan yang sama muncul kembali".
Kedutaan Besar Prancis di Madrid juga memberikan tanggapan di media sosial, menekankan bahwa "Semua pemain tim Prancis adalah warga Prancis. Dari 26 pemain, 23 lahir di Prancis. Tiga pemain yang lahir di luar negeri juga merupakan warga Prancis." Philippe Diallo, presiden Federasi Sepak Bola Prancis, menggambarkan nada bawah yang "tidak dapat ditolerir" dalam komentar Rajoy sebagai nada yang bernuansa rasis.
Insiden ini mencerminkan perdebatan yang lebih luas tentang nasionalisme, identitas, dan peran olahraga dalam masyarakat yang semakin polarisasi. Ketika media sosial mempercepat penyebaran narasi yang sensasional, para pemimpin harus lebih berhati-hati dalam menyeimbangkan kebebasan berekspresi dengan tanggung jawab untuk menghindari retorika yang dapat memperburuk ketegangan antarbangsa. Di Spanyol dan Prancis, reaksi publik menunjukkan keinginan bersama untuk menjaga olahraga tetap netral, bebas dari prasangka yang berakar pada sejarah dan politik.
Bagi pengamat di Indonesia, insiden ini menawarkan wawasan tentang bagaimana identitas nasional dapat dimanipulasi untuk kepentingan politik, sebuah dinamika yang juga muncul dalam perdebatan tentang kebijakan imigrasi dan integrasi multikultural. Selain itu, hal ini menyoroti pentingnya literasi digital dan media dalam mencegah penyebaran narasi kebencian, sebuah pelajaran yang relevan di era teknologi informasi saat ini.
Secara keseluruhan, komentar Rajoy tidak hanya merusak semangat sportivitas tetapi juga menggarisbawahi kebutuhan akan dialog yang lebih bertanggung jawab tentang identitas dan inklusi di Eropa dan di tempat lain.