Spanyol melangkah ke final Euro 2024 setelah mengalahkan Prancis 2-0 di Stadion AT&T, Arlington, Texas, Senin (15/7) dini hari WIB. Kemenangan itu tidak hanya mengantarkan La Roja ke laga punggung turnamen, tapi juga membuka peluang mereka meraih gelar Eropa keempat dalam sejarah — menyamai rekor Jerman. Prancis, yang sebelum laga ini mencetak 16 gol, tidak sempat mengancam gawang Unai Simón hingga menit ke-80.
Pelatih Luis de la Fuente, yang menuntun tim sejak Maret 2023, menilai performa timnya sebagai bukti bahwa karakter kolektif telah mengalahkan bakat individu. "Pesan saya: kita menghadapi salah satu tim terbaik dunia, tapi mereka menghadapi tim terbaik dunia," ujarnya di konferensi pers pasca laga. Ucapan itu bukan sekadar retorika — Spanyol memang bermain dengan kendali penuh, memaksa Prancis bermain di setengah lapangan sendiri selama 70 menit pertama.
Kembalinya semangat 2010, menurut De la Fuente, terlihat dari sikap pemain di luar lapangan. Ia mengungkapkan bahwa pemain cadangan tetap berlatih ekstra setelah laga berakhir, tanda komitmen yang langka di era sepak bola modern yang penuh ego. "Saya melihat ruang ganti yang bahagia dan bangsa yang mendukung kami. Kami telah menemukan kembali semangat 2010," tandasnya.
Secharga sejarah, Spanyol 2010 dibangun di atas fondasi tiki-taka Barcelona dan Real Madrid, dengan Xavi, Iniesta, dan Sergio Ramos sebagai tulang punggung. Kini, generasi baru seperti Lamine Yamal (16 tahun), Nico Williams (22), dan Pedri (21) membawa gaya yang lebih vertikal dan fisik, namun tetap mempertahankan filosofi penguasaan bola. De la Fuente sendiri mengakui tim ini "tidak pernah berhenti mengejutkan" dan masih memiliki ruang perbaikan tak terbatas.
Statistik memperkuat narasi dominasi: Spanyol menyamai rekor Italia 37 laga tak terkalahkan di semua kompetisi. Rekor itu dicapai Azzurri di bawah Roberto Mancini antara 2018-2021. Perbedaan mendasar: Italia membangun dari pertahanan, sedangkan Spanyol membangun dari kepemilikan bola dan tekanan tinggi. Lawan di final nanti — Inggris atau Belanda — akan menguji apakah rekor ini bisa dilanjutkan.
De la Fuente juga membuka suara soal preferensi lawan final. Ia menginginkan Argentina, bukan karena alasan taktis, tapi karena persahabatan erat dengan pelatih Lionel Scaloni. "Final ada untuk dinikmati, bukan hanya untuk dimenangkan," kata mantan pelatih Bilbao Athletic itu. Sikap santai itu kontras tajam dengan tekanan media Spanyol yang menuntut gelar setelah kekecewaan Piala Dunia 2022.
Di sisi Prancis, kekalahan ini menutup era dominasi Kylian Mbappé di tingkat senior. Kapten Les Bleus tampak frustrasi, tersandung cedera hidung di babak pertama, dan tidak sempat menembak ke gawang hingga menit ke-82. Didier Deschamps, pelatih paling sukses sejarah Prancis, kini menghadapi pertanyaan keras soal masa depan timnya menjelang Piala Dunia 2026.
Bagi penggemar sepak bola Indonesia, final Euro 2024 ini hadir di momen yang tepat: musim liburan sekolah dan awal musim Liga 1 2024/2025. Tayangan langsung di platform streaming lokal memungkinkan jutaan penonton mengikuti laga tanpa hambatan zona waktu — final dijadwalkan Minggu (14/7) pukul 02.00 WIB. Popularitas La Liga di Indonesia, yang didorong era Ronaldo-Messi, membuat timnas Spanyol punya basis penggemar solid di Nusantara.
Secara taktis, final akan mempertemukan dua falsafah berlawanan: Spanyol dengan penguasaan bola (rerata 65% posse di turnamen ini) melawan Inggris yang andal konter atau Belanda yang fisik. De la Fuente sudah menyiapkan variasi: bisa main 4-3-3 klasik atau 4-2-3-1 dengan Fabian Ruiz turun lebih dalam. Kunci akan ada di duel tengah lapangan: Rodri vs Declan Rice atau Tijjani Reijnders.
Jangka panjang, keberhasilan Spanyol ini menjadi studi kasus manajemen regenerasi yang mulus. Federasi Sepak Bola Spanyol (RFEF) tidak panik usai gagal di Qatar 2022, melainkan mempercayakan tim ke De la Fuente — mantan pelatih tim U-19 dan U-21 yang mengenal setiap pemain sejak usia remaja. Model ini layak diamati PSSI yang sedang mencari identitas bermain konsisten untuk timnas Garuda.
Final Euro 2024 di Berlin, Minggu (14/7) malam WIB, akan menjawab apakah Spanyol benar-benar waris sah kekuasaan 2008-2012, atau baru sekadar episode gemilang sesaat. Apapun hasilnya, De la Fuente sudah menanamkan kembali identitas: bermain indah, menang kolektif, dan menikmati proses. Itu warisan yang lebih abadi dari sekadar piala.