Internasional

Spektakel dan Simbolisme Pemakaman Khamenei

Ringkasan

  • Analisis liputan pemakaman Khamenei menyoroti strategi media Iran dan dampak geopolitiknya di Selat Hormuz serta transisi kekuasaan.

Pemakaman Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, yang berlangsung baru-baru ini telah berubah menjadi sebuah pertunjukan massa yang luar biasa sekaligus sarana simbolisme politik yang mendalam. Menurut laporan The Listening Post dari Al Jazeera, jutaan warga Iran memadati jalanan untuk memberikan penghormatan terakhir kepada pemimpin yang telah menduduki posisi tersebut sejak 1989. Pemerintah Tehran secara tidak biasa memberikan akses kepada ratusan jurnalis asing dan influencer media sosial untuk meliput prosesi tersebut, sebuah langkah yang menandakan betapa hati-hatinya rezim dalam mengkalibrasi pesan media mereka di tengah krisis global.

Ali Khamenei merupakan figur sentral dalam sistem politik Iran, memegang otoritas tertinggi atas militer, kebijakan luar negeri, dan urusan keagamaan. Kematiannya tidak hanya meninggalkan kekosongan kekuasaan, tetapi juga memicu pertanyaan mengenai kelanjutan revolusi Islam dan stabilitas rezim. Oleh karena itu, pemakaman yang dihadiri oleh jutaan orang tersebut bukan sekadar ritual keagamaan, melainkan demonstrasi kekuatan negara untuk menunjukkan legitimasi dan kohesi sosial di hadapan dunia.

The Listening Post dalam episodenya mengangkat bagaimana liputan pemakaman ini memperlihatkan batas-batas narasi yang selama ini familiar tentang Iran. Kontributor seperti HA Hellyer dari Royal United Services Institute, Samira Mohyeddin, Negar Mortazavi, dan Alex Vatanka dari Middle East Institute membedah strategi komunikasi Tehran. Mereka mencatat bahwa dengan mengizinkan kamera asing masuk, Iran berusaha mengontrol narasi internasional, menampilkan gambar persatuan nasional yang kontras dengan retorika konfrontasi yang sering dilontarkan oleh pihak Barat.

Konteks geopolitik memperumit situasi. Hanya beberapa hari setelah jutaan orang turun ke jalan, gencatan senjata antara Iran, Amerika Serikat, dan sekutu-sekutunya runtuh. Ketegangan kembali memuncak di Selat Hormuz, jalur perairan strategis yang menjadi pusat eskalasi terbaru. Kehadiran jurnalis asing selama pemakaman secara ironis bertepatan dengan momen di mana diplomasi gagal, menggarisbawahi bahwa pertunjukan domestik dan konflik internasional saling bersilangan.

Akses langka yang diberikan kepada influencer media sosial merupakan dimensi baru dalam diplomasi publik Iran. Para influencer ini, dengan jutaan pengikut di platform seperti Instagram dan X, menjadi saluran langsung yang melaporkan suasana di lapangan tanpa filter media arus utama. Hal ini memungkinkan Tehran untuk membypass narasi yang dianggap bias, sekaligus menunjukkan betapa pentingnya ruang digital dalam perang informasi modern.

Namun, para analis memperingatkan bahwa spektakel tersebut juga menutupi realitas domestik yang lebih kompleks, termasuk ketidakpuasan ekonomi dan perpecahan politik yang mungkin tidak terlihat dalam siaran resmi. Simbolisme pemakaman—bendera, poster raksasa, dan pidato-pidato—merupakan alat negara untuk mengonsolidasikan kekuasaan transisional. Dengan demikian, liputan yang diizinkan tersebut tetap berada dalam batas-batas yang dikendalikan secara ketat oleh aparatur keamanan.

Episode The Listening Post tersebut juga menyoroti segmen lain yang relevan dengan strategi media global. Turki baru saja menjadi tuan rumah KTT NATO, di mana Presiden Recep Tayyip Erdogan dan Presiden AS Donald Trump memanfaatkan ajang tersebut untuk memproyeksikan citra persatuan dan kekuatan antara Ankara dan Washington. Jurnalis Elettra Scrivo menganalisis bagaimana gambar dan pesan yang disebarkan membentuk narasi tentang aliansi tersebut, mencerminkan pola serupa di mana negara menggunakan media untuk kepentingan geopolitik.

Tidak kalah menarik, program tersebut membahas tema bagaimana industri makanan besar memasarkan produk ultraproses pada masyarakat. Nicholas Muirhead menelusuri cara perusahaan multinasional mengemas makanan olahan industri sebagai produk bernutrisi meski ada kekhawatiran kesehatan global. Dengan menghadirkan pakar seperti Marion Nestle dan Christopher Snowdon, segmen ini mengungkap strategi narasi korporasi yang mirip dengan manipulasi citra negara: mengemas pesan untuk mengubah persepsi publik demi keuntungan politik atau ekonomi.

Secara keseluruhan, liputan pemakaman Khamenei oleh media internasional dan influencer menunjukkan bahwa dalam konflik kontemporer, arena media sama pentingnya dengan medan tempur. Bagi pengamat di Indonesia, peristiwa ini menyajikan studi kasus tentang bagaimana rezim dapat memanfaatkan keterbukaan sesaat untuk memperkuat posisi tawar. Transisi kekuasaan di Iran dan dampaknya terhadap Selat Hormuz juga akan berimplikasi pada harga energi dan keamanan maritim di Asia, termasuk Indonesia.

Mengapa Ini Penting

Bagi Indonesia, spektakel media ini menggarisbawahi betapa krusialnya literasi informasi di era di mana influencer dan jurnalis asing menjadi alat proyeksi kekuasaan negara. Industri teknologi lokal perlu menyadari bahwa platform digital rentan dimanfaatkan untuk narasi geopolitik yang terkalibrasi, memengaruhi opini publik regional. Selain itu, ketidakstabilan Selat Hormuz akibat eskalasi pasca-pemakaman dapat mengganggu rantai pasok energi dan ekonomi digital Indonesia yang bergantung pada impor minyak.

Sumber Asli
Internasional
Tanggal
12 Juli 2026
Waktu Baca
4 menit