Pada Desember 2025, Teresa Hon terpaksa menghadapi kenyataan pahit ketika dokter di Singapura menemukan massa berukuran lebih dari 6 sentimeter di otaknya. Wanita 31 tahun yang sebelumnya bekerja sebagai pramugari Singapore Airlines itu divonis menderita glioblastoma, jenis kanker otak dengan tingkat agresivitas tertinggi dan pertumbuhan tercepat. Kondisi tersebut memaksanya menjalani operasi saraf yang rumit hanya beberapa pekan sebelum perayaan Natal.
Suami Teresa, Bjorn Chua, masih mengingat momen ketika istrinya digelar ke ruang operasi dengan tim medis 10 hingga 20 orang. Rencana awal bedah berlangsung empat hingga enam jam, namun neurosurgeon keluar hanya dalam waktu dua setengah jam. Kecepatan itu sempat membuat Bjorn panik karena mengira istrinya meninggal, padahal tindakan berjalan sukses dan lebih dari 40 persen tumor berhasil diangkat.
Glioblastoma merupakan penyakit langka. Di Singapura, tercatat sekitar 100 kasus baru setiap tahunnya menurut dokter onkologi Dr Valerie Yang Shiwen dari OncoCare Cancer Centre. Belum diketahui penyebab pastinya, meski sebagian kecil pasien memiliki kecenderungan genetik turunan. Tumor gred 4 ini menyerang fungsi otak yang mengatur kognisi, memori, bahasa, hingga kepribadian.
Gejala yang dialami Teresa muncul dengan kecepatan mencengangkan. Usai meninggalkan SIA pada 2025 untuk bekerja di area ritel Marina Bay Sands, ia mulai mengeluh sakit kepala hebat yang tak membaik meski minum obat pereda nyeri. Muntah terus-menerus menyusul, lalu kejang dan tarikan keras pada rambut sendiri karena rasa sakit luar biasa. Matanya bahkan tak lagi sejajar akibat tekanan tumor.
Kondisi itu membuat dunia Teresa runtuh dalam sebulan lebih. Sebelum sakit, ia dan Bjorn menikah pada 2023 serta rutin berolahraga, golf, dan berlibur. Diagnosis gred 4 glioblastoma mengubah rencana masa depan menjadi perjuangan hidup-mati. Pengangkatan total tumor tidak mungkin dilakukan tanpa memicu kelumpuhan, hilangnya kemampuan bicara, atau gangguan penglihatan karena letaknya dekat pusat saraf vital.
Bagi pembaca di Indonesia, kisah ini menyiratkan pentingnya kewaspadaan terhadap gejala neurologis persisten. Data nasional mengenai insiden glioblastoma belum terpublikasi rinci, tetapi layanan bedah saraf di Tanah Air telah tersedia di rumah sakit rujukan seperti RS Cipto Mangunkusumo dan beberapa pusat swasta besar. Kendala utama masyarakat Indonesia sering kali terletak pada keterlambatan rujukan dan minimnya kesadaran awal untuk memeriksakan keluhan sakit kepala kronis.
Perbandingan dengan sistem kesehatan Singapura menunjukkan betapa sulitnya penanganan kanker otak meski di negara dengan fasilitas mutakhir. Di Indonesia, akses terhadap kemoterapi dan radioterapi pasca operasi juga tidak merata, sehingga pasien di daerah harus merantau ke kota metropolitan. Dukungan psikososial keluarga seperti yang ditunjukkan Bjorn melalui tindakan sederhana membantu recovery mental pasien.
Tokoh seperti Teresa sebenarnya mewakili kelompok usia produktif yang rentan terkena penyakit degeneratif tanpa peringatan. Masyarakat luas perlu memahami bahwa kanker otak tidak hanya menyerang lansia. Edukasi kesehatan di tingkat komunitas dapat menekan angka keterlambatan diagnosis yang berujung pada prognosis buruk.
Bjorn menuturkan bagaimana ia menyambut istri keluar dari ICU dengan perasaan lega campur syok. "Dia tersenyum dan berkata 'hello, baby'," kenang pria tersebut. Tindakan Bjorn menutup kaca mobil dengan tint gelap sebelum operasi mencerminkan harapan agar Teresa memiliki ruang aman saat perjalanan pulih, tanpa harus menunjukkan kondisi fisik yang membengkak dan botak di sebagian kepala.
Dr Valerie menegaskan bahwa meski tumor terlihat telah diangkat, sel kanker mikroskopis biasanya tetap bersarang di jaringan otak sekitarnya. Radiasi dan kemoterapi pun kerap gagal memusnahkan seluruh sisa sel tersebut. Pasien dengan glioblastoma secara umum memiliki harapan hidup 12 hingga 18 bulan sejak diagnosis.
Teresa kini menjalani fase pemulihan dengan rutinitas baru yang jauh berbeda. Steroid pra operasi memengaruhi nafsu makannya, sementara bekas sayatan di kulit kepala meninggalkan area tanpa rambut. Ia mengaku terbangun sebagai orang yang berbeda, namun tekad untuk bertarung tetap menyala. "I want to fight," tuturnya dalam semangat yang sama seperti saat tenang sebelum masuk ruang bedah.
Ke depan, komunitas medis global masih berupaya mencari terapi target dan imunoterapi untuk glioblastoma. Di Indonesia, penguatan jejaring neuro-onkologi dan program deteksi dini menjadi krusial agar lebih banyak pasien mendapat kesempatan penanganan optimal. Kisah Teresa menjadi pengingat bahwa di balik angka kelangsungan hidup yang singkat, kemanusiaan dan cinta keluarga tetap menjadi tiang utama perjuangan.