Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, secara terbuka mengecam Iran atas apa yang ia sebut sebagai pelanggaran bodoh terhadap kesepakatan gencatan senjata. Pernyataan ini muncul setelah sebuah kapal kargo mengalami serangan drone saat melintasi perairan di sekitar Selat Hormuz, tepatnya di lepas pantai Oman. Meskipun Trump tidak merinci identitas kapal tersebut dalam unggahannya di Truth Social, militer Inggris telah mengonfirmasi adanya serangan proyektil terhadap sebuah kapal di wilayah tersebut pada hari Kamis lalu.
Kapal yang menjadi sasaran dilaporkan adalah Ever Lovely, sebuah kapal berbendera Singapura milik perusahaan Taiwan, Evergreen Marine. Kapal tersebut diketahui telah tertahan di Teluk selama lebih dari 100 hari setelah memuat kargo dari Irak. Beruntung, tidak ada awak kapal yang terluka dalam insiden tersebut dan kapal tetap mampu melanjutkan perjalanannya meskipun mengalami kerusakan pada dek atas akibat hantaman drone.
Selain satu drone yang berhasil mengenai sasaran, pasukan Amerika Serikat di wilayah tersebut mengklaim telah berhasil mencegat tiga drone lainnya yang diluncurkan dalam serangan terkoordinasi tersebut. Trump menegaskan bahwa meskipun kapal tersebut mengalami kerusakan, kemampuan kapal untuk terus berlayar menunjukkan bahwa serangan tersebut tidak melumpuhkan operasional kargo, namun tetap merupakan provokasi yang tidak dapat diterima dalam konteks gencatan senjata yang sedang berjalan.
Insiden ini terjadi di tengah periode yang sangat rentan bagi hubungan Washington dan Teheran, yang saat ini sedang dalam masa berlaku nota kesepahaman (MoU) 60 hari. Kedua negara sebelumnya telah sepakat untuk mengakhiri blokade laut dan membuka Selat Hormuz bagi lalu lintas kapal komersial sebagai langkah awal menuju negosiasi jangka panjang terkait program nuklir dan keringanan sanksi ekonomi.
Ketegangan meningkat setelah Iran mengeluarkan arahan agar semua kapal komersial berkoordinasi langsung dengan Angkatan Laut Iran saat melintasi selat tersebut. Kapal Ever Lovely diketahui memilih rute selatan di sepanjang pantai Oman untuk menghindari koridor yang ditetapkan oleh Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC). Akibat serangan ini, upaya Organisasi Maritim Internasional (IMO) untuk mengevakuasi ratusan kapal yang terjebak di Teluk kini terpaksa dihentikan sementara.
Di sisi lain, Iran membantah keterlibatan langsung dan menolak pernyataan Amerika Serikat mengenai adanya jalur komunikasi langsung antara kedua negara terkait keamanan selat. Wakil Menteri Luar Negeri Iran, Kazem Gharibabadi, menegaskan bahwa keamanan di Selat Hormuz tidak bisa dijamin melalui pengaturan yang ambigu dan menuntut agar peran Iran sebagai negara pesisir harus diakui dalam setiap pengambilan keputusan terkait navigasi internasional.