Internasional

Trump Murka pada Netanyahu Usai Kritik Penjualan Jet F-35 ke Turki

Ringkasan

  • Trump murka pada Netanyahu usai kritik penjualan F-35 ke Turki di Fox News pertengahan Juli 2026.

Presiden Amerika Serikat Donald Trump kembali menunjukkan amarahnya kepada Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menyusul penampilan sang pemimpin Israel di stasiun Fox News yang mengkritik rencana penjualan jet tempur F-35 ke Turki. Kemarahan tersebut dilaporkan terjadi pada pertengahan Juli 2026 dan memperlihatkan retaknya hubungan dua sekutu politik yang selama ini berada di kubu sayap kanan.

Laporan yang dihimpun Axios pada Kamis, 16 Juli 2026, dan dikutip Raw Story menyebutkan bahwa staf Gedung Putih terkejut membaca pemberitaan di media Israel beberapa hari sebelumnya. Media tersebut menulis bahwa Trump akan menerima kunjungan Netanyahu pada Senin, 13 Juli 2026, padahal tidak ada jadwal pertemuan resmi antara keduanya. Seorang sumber internal mengungkapkan bahwa Trump memang pernah menyebut Netanyahu boleh datang setelah presiden kembali dari KTT NATO di Ankara, namun rencana itu tidak pernah terealisasi.

Kesan di kalangan internal Gedung Putih saat itu cukup jelas. Netanyahu dinilai berupaya memaksakan pertemuan demi kepentingan politik domestiknya. Sikap tersebut membuat Trump merasa diremehkan dan coba dikendalikan oleh pemimpin negara sekutu yang selama bertahun-tahun dianggap sebagai mitra erat.

Keretakan hubungan keduanya sebenarnya sudah berlangsung berbulan-bulan sebelum insiden wawancara tersebut. Salah satu pemicu utamanya ialah frustrasi Trump terhadap ketiadaan penyelesaian tuntas atas invasi Israel ke Gaza yang dimulai pada Oktober 2023. Operasi militer itu telah memicu genosida yang menewaskan sedikitnya 73.000 warga Palestina, mayoritas perempuan dan anak-anak.

Trump beberapa pekan lalu sempat membentak Netanyahu dalam percakapan telepon yang diwarnai kata-kata kasar. Dalam dialog tersebut, Trump secara langsung menyatakan, "semua orang membencimu." Ungkapan itu mencerminkan kejengkelan mendalam presiden AS terhadap langkah Netanyahu yang dianggap merugikan citra koalisi Barat di mata masyarakat internasional.

Bagi Indonesia, gejolak di tingkat kepemimpinan dua negara adidaya ini memiliki implikasi pada stabilitas keamanan global yang beririsan dengan kepentingan nasional. Sebagai negara dengan populasi Muslim terbesar di dunia, Indonesia secara konsisten menekankan pentingnya penyelesaian konflik Palestina melalui jalur diplomasi. Perselisihan internal antara Washington dan Tel Aviv berpotensi mengubah peta dukungan politik di forum internasional, termasuk di Perserikatan Bangsa-Bangsa.

Di sisi lain, rencana penjualan F-35 ke Turki turut relevan dengan kawasan Asia Tenggara. Meski Indonesia belum mengoperasikan pesawat tempur generasi kelima tersebut, TNI AU saat ini tengah mengevaluasi kebutuhan alutsista strategis sebagai bagian dari modernisasi pertahanan. Gesekan antara AS dan Israel terkait transfer teknologi militer dapat memengaruhi harga dan ketersediaan sistem persenjataan di pasar global.

Masyarakat Indonesia juga terbiasa melihat dinamika politik luar negeri melalui lensa kedaulatan dan kemandirian. Perseteruan Trump dan Netanyahu menunjukkan bahwa aliansi militer sekuat apa pun tidak kebal dari kepentingan nasional yang berbeda. Hal ini sejalan dengan prinsip bebas aktif yang dianut Jakarta dalam menghadapi tekanan blok kekuasaan manapun.

Pejabat Gedung Putih yang berbicara kepada Axios menegaskan bahwa Trump "sangat marah" akibat wawancara Netanyahu di Fox News. Kemarahan itu muncul tepat sebelum Trump bertolak ke Ankara untuk menghadiri KTT NATO, yang membuat kritik terbuka Netanyahu dianggap sebagai pengkhianatan terhadap agenda luar negeri presiden AS.

Sumber internal lain menyebut bahwa manuver Netanyahu mempublikasikan rencana kunjungan yang belum pasti menunjukkan upaya menguji batas kesabaran Trump. Tindakan itu dinilai tidak profesional dalam protokol diplomasi negara sahabat dan memperlebar jarak politik antara Gedung Putih dan pemerintahan Israel.

Ke depan, hubungan Trump dan Netanyahu diprediksi akan terus dingin selama tidak ada titik temu mengenai Gaza dan strategi pertahanan di Timur Tengah. Jika Trump memutuskan memperketat penjualan senjata ke Israel atau sebaliknya, hal itu akan mengubah keseimbangan kekuatan di kawasan yang berdampak pada harga energi global.

Tren pecahnya aliansi tradisional di era politik sayap kanan juga memperlihatkan bahwa kepemimpinan personal semakin mendominasi kebijakan luar negeri. Indonesia perlu memantau erosi kepercayaan antara AS dan Israel guna merumuskan posisi diplomasi yang menguntungkan stabilitas kawasan Indo-Pasifik.

Perspektif Indonesia: Konflik terbuka antara Trump dan Netanyahu mengingatkan Jakarta akan pentingnya diversifikasi mitra pertahanan. Indonesia tidak boleh bergantung pada satu kekuatan besar mengingat fluktuasi politik dalam negeri di negara pemasok senjata dapat mengganggu rencana modernisasi TNI. Masyarakat luas di Tanah Air juga akan melihat ini sebagai bukti bahwa solidaritas global untuk Palestina harus terus didorong lewat jalur independen.

Mengapa Ini Penting

Pergeseran hubungan AS-Israel memengaruhi posisi diplomasi Indonesia di isu Palestina dan forum global. Potensi perubahan alur senjata F-35 ke Turki berdampak pada harga serta ketersediaan alutsista di pasar pertahanan yang dievaluasi TNI. Masyarakat Indonesia melihat erosi aliansi ini sebagai penguat prinsip bebas aktif dan kemandirian strategis kawasan.

Sumber Asli
Tempo Dunia
Tanggal
17 Juli 2026
Waktu Baca
5 menit