Berita

Wamen LH Ungkap Karakteristik Kebakaran TPA Jatiwaringin Serupa Lahan Gambut

Wamen LH Ungkap Karakteristik Kebakaran TPA Jatiwaringin Serupa Lahan Gambut

Ringkasan

  • Wamen LH Diaz Hendropriyono menyebut kebakaran TPA Jatiwaringin mirip kebakaran gambut dan berisiko meledak karena kandungan gas metana.

Wakil Menteri Lingkungan Hidup (Wamen LH), Diaz Faisal Malik Hendropriyono, mengungkapkan bahwa kebakaran yang melanda Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Jatiwaringin di Kecamatan Mauk, Kabupaten Tangerang, memiliki pola dan karakteristik yang serupa dengan kebakaran lahan gambut. Fenomena ini menjadi tantangan tersendiri bagi tim pemadam karena api tidak sekadar membakar permukaan, melainkan terus menjalar di bagian dalam tumpukan sampah yang tebal.

Dalam kunjungannya ke lokasi kebakaran pada Sabtu (4/7), Diaz menjelaskan bahwa kondisi di lapangan sering kali menipu. Meskipun permukaan tumpukan sampah tampak sudah padam atau dingin, api di kedalaman timbunan tetap aktif menyala. Hal inilah yang membuat upaya pemadaman konvensional dengan hanya menyemprotkan air dari permukaan menjadi kurang efektif untuk mematikan titik api secara menyeluruh.

Lebih lanjut, Diaz menekankan bahwa risiko kebakaran di TPA Jatiwaringin justru lebih berbahaya dibandingkan kebakaran gambut biasa. Hal ini dikarenakan tumpukan sampah yang membusuk menghasilkan gas metana (CH4). Gas tersebut memiliki potensi eksplosif yang tinggi, sehingga jika tidak ditangani dengan presisi, dikhawatirkan dapat memicu ledakan di area pembuangan sampah tersebut.

Sebagai langkah mitigasi yang lebih teknis, pemerintah telah menerjunkan 30 personel Manggala Agni yang memiliki keahlian khusus dalam menangani kebakaran lahan gambut. Tim ini menerapkan metode injeksi (injection) untuk memadamkan api langsung ke titik-titik panas yang berada jauh di bawah permukaan. Metode ini dinilai paling relevan untuk menembus struktur timbunan sampah yang padat.

Selain upaya pemadaman darat, pemerintah juga tengah menyiapkan operasi modifikasi cuaca (OMC) untuk mempercepat proses pemadaman. Namun, efektivitas operasi ini sangat bergantung pada ketersediaan awan di atmosfer. Berdasarkan koordinasi dengan BMKG, diharapkan terdapat potensi hujan ringan dalam waktu dekat yang memungkinkan tim untuk melakukan penyemaian awan guna memadamkan api yang sulit dijangkau.

Hingga hari kelima pasca-insiden yang dimulai sejak Selasa (30/6), petugas gabungan masih berjibaku di lapangan. Upaya pengendalian api melibatkan berbagai sumber daya, mulai dari armada pemadam kebakaran, alat berat untuk memecah tumpukan sampah, hingga pengerahan dua helikopter water bombing. Sinergi lintas sektoral ini dilakukan guna memastikan kebakaran tidak meluas dan dampak polusi udara bagi warga sekitar dapat segera dikendalikan.

Mengapa Ini Penting

Kebakaran TPA merupakan ancaman serius bagi kesehatan masyarakat akibat polusi udara dan risiko ledakan gas metana. Kejadian ini menyoroti urgensi modernisasi manajemen pengelolaan sampah di Indonesia agar lebih tahan terhadap risiko bencana lingkungan.

Sumber Asli
Cnnindonesia
Tanggal
4 Juli 2026
Waktu Baca
3 menit