Internasional

WHO Nyatakan Wabah Hantavirus di Kapal Pesiar Resmi Berakhir

WHO Nyatakan Wabah Hantavirus di Kapal Pesiar Resmi Berakhir

Ringkasan

  • WHO resmi menyatakan wabah hantavirus di kapal pesiar MV Hondius berakhir setelah seluruh kontak dinyatakan negatif virus.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) secara resmi menyatakan bahwa wabah hantavirus yang sempat menyerang penumpang kapal pesiar MV Hondius telah berakhir. Keputusan ini diambil setelah individu terakhir yang sempat dikarantina karena kontak dengan pasien terkonfirmasi dinyatakan negatif virus tersebut. Masa karantina yang berakhir pada Kamis lalu menjadi penanda bahwa rantai penularan virus ini telah berhasil diputus sepenuhnya oleh otoritas kesehatan global.

Wabah yang melibatkan strain langka Andes hantavirus ini tercatat telah menginfeksi 13 orang dan menyebabkan tiga orang meninggal dunia. Strain ini dikenal lebih berbahaya karena merupakan satu-satunya jenis hantavirus yang diketahui mampu menyebar melalui kontak fisik yang erat dan berkepanjangan antarmanusia, berbeda dengan hantavirus umum yang biasanya hanya menular melalui kontak dengan hewan pengerat.

Kapal pesiar MV Hondius sendiri memulai perjalanannya dari Ushuaia, Argentina, pada 1 April lalu. Selama pelayarannya, kapal tersebut sempat mengunjungi pulau-pulau terpencil di Samudra Atlantik Selatan sebelum akhirnya menuju Tenerife, Spanyol. Setelah melalui proses investigasi dan pembersihan menyeluruh, kapal tersebut akhirnya berlabuh di Rotterdam, Belanda, pada 18 Mei dan telah dinyatakan aman untuk beroperasi kembali sejak 30 Mei.

Direktur Jenderal WHO, Tedros Adhanom Ghebreyesus, mengungkapkan bahwa upaya pelacakan kontak yang dilakukan sangat masif. Sebanyak lebih dari 650 orang yang sempat melakukan kontak dengan penumpang kapal telah diidentifikasi dan dipantau oleh otoritas kesehatan di 33 negara berbeda. Kerjasama lintas batas ini menjadi kunci utama dalam menekan penyebaran virus agar tidak meluas ke wilayah yang lebih luas.

Sebagai langkah antisipasi masa depan, WHO kini tengah mengoordinasikan studi riset yang melibatkan 21 negara. Fokus utama dari penelitian ini adalah memahami mekanisme perkembangan penyakit serta mempercepat pengembangan alat diagnostik, terapi, dan vaksin yang efektif. Mengingat belum adanya vaksin atau pengobatan antivirus spesifik untuk hantavirus, pengembangan medis ini menjadi prioritas utama bagi komunitas kesehatan internasional.

Hantavirus sendiri umumnya menular melalui kontak dengan urine, kotoran, atau air liur tikus dan mencit. Partikel virus dapat tersebar melalui udara saat area yang terkontaminasi dibersihkan. Gejala awal yang muncul biasanya meliputi demam, sakit kepala, nyeri otot, dan masalah pencernaan. Dalam kasus yang parah, penyakit ini dapat berkembang menjadi gangguan pernapasan akut yang memerlukan penanganan medis intensif.

Mengapa Ini Penting

Kejadian ini menjadi pengingat penting bagi industri pariwisata dan transportasi laut di Indonesia untuk memperketat protokol sanitasi dan kesiapsiagaan darurat medis. Selain itu, kolaborasi riset global yang diinisiasi WHO memberikan peluang bagi ilmuwan Indonesia untuk terlibat dalam pengembangan diagnostik penyakit menular zoonosis di masa depan.

Sumber Asli
Aljazeera
Tanggal
2 Juli 2026
Waktu Baca
3 menit