Dunia bisnis Zimbabwe tengah dirundung duka sekaligus tanda tanya besar setelah Wicknell Chivayo, seorang pengusaha kelas kakap yang dikenal luas karena kedekatannya dengan lingkaran kekuasaan, tewas dalam insiden kecelakaan helikopter. Peristiwa nahas yang merenggut nyawa Chivayo bersama istrinya, Lucy Muteke, terjadi pada Rabu (30/9) di kawasan tenggara ibu kota Harare. Otoritas setempat masih melakukan investigasi mendalam terkait penyebab teknis jatuhnya pesawat tersebut.
Sosok Chivayo bukanlah nama asing bagi publik Afrika. Ia dikenal sebagai pendukung utama Presiden Zimbabwe, Emmerson Mnangagwa, dan kerap menjadi sorotan media karena gaya hidupnya yang sangat mewah. Koleksi mobil kelas atas, pakaian desainer, hingga kebiasaannya membagi-bagikan uang dalam jumlah besar kepada publik menjadikannya figur 'crazy rich' yang kontroversial namun memiliki pengaruh politik yang kuat.
Karier bisnisnya berakar pada perusahaan Intratrek Zimbabwe. Nama perusahaan ini mencuat ke permukaan publik saat memenangkan tender Proyek Tenaga Surya Gwanda dengan nilai fantastis mencapai 200 juta dolar AS atau setara dengan Rp3,5 triliun. Proyek ini sempat digadang-gadang sebagai solusi energi masa depan Zimbabwe, namun ironisnya, hingga saat ini progres fisiknya justru mandek dan memicu polemik panjang.
Jejak karier Chivayo penuh dengan dinamika hukum yang cukup tajam. Pada tahun 2018, ia sempat terjerat dakwaan serius terkait penipuan dan pencucian uang yang berkaitan dengan uang muka proyek tenaga surya tersebut. Meski sempat terancam hukuman berat, seluruh tuduhan tersebut akhirnya dibatalkan. Tidak berhenti di sana, namanya juga sempat terseret dalam skema korupsi terkait pengadaan materi pemilihan nasional tahun 2023, namun ia kembali berhasil lolos dari jeratan hukum.
Sebelum mencapai puncak kekayaannya, Chivayo meniti karier sebagai penukar mata uang asing ilegal di jalanan Harare. Pada tahun 2004, ia bahkan sempat mendekam di balik jeruji besi selama tiga tahun atas kasus penipuan transaksi. Transformasi dari seorang pemain pasar gelap menjadi pengusaha yang memiliki akses langsung ke pucuk pimpinan negara menjadi potret nyata bagaimana relasi kekuasaan dan bisnis sering kali beririsan di banyak negara berkembang.
Bagi masyarakat Indonesia, fenomena 'crazy rich' yang memiliki kedekatan dengan lingkaran kekuasaan bukanlah hal yang asing. Kasus seperti Chivayo mencerminkan risiko besar dalam proyek infrastruktur strategis yang melibatkan aktor bisnis dengan latar belakang rekam jejak yang meragukan. Ketika sebuah proyek negara diserahkan kepada pihak yang lebih mengandalkan lobi politik daripada kapasitas teknis, risiko kegagalan proyek menjadi sangat tinggi.
Dalam konteks tata kelola bisnis di Indonesia, transparansi tender menjadi kunci utama untuk menghindari kasus serupa. Kegagalan proyek tenaga surya senilai triliunan rupiah di Zimbabwe menjadi pelajaran berharga bahwa ketergantungan pada satu figur pengusaha yang memiliki 'backing' politik kuat sering kali mengabaikan prinsip akuntabilitas publik. Industri energi baru terbarukan di Indonesia, yang kini sedang tumbuh pesat, harus belajar dari preseden ini untuk memastikan setiap investor memiliki kredibilitas mumpuni.
Selain aspek hukum, Chivayo juga dikenal sebagai tokoh yang piawai membangun citra publik melalui media sosial. Ia sering mengunggah foto bersama pemimpin-pemimpin Afrika dan tokoh agama, yang secara tidak langsung memperkuat posisinya di mata masyarakat sebagai sosok yang tak tersentuh. Strategi ini sering kali digunakan untuk menutupi kelemahan operasional perusahaan di balik kemewahan yang ditampilkan secara vulgar.
Kematiannya menyisakan teka-teki mengenai nasib proyek-proyek yang ia tinggalkan. Tanpa kehadiran Chivayo, pemerintah Zimbabwe kini menghadapi tantangan besar untuk mengaudit kembali kerja sama bisnis yang selama ini menjadi perdebatan publik. Fokus utama saat ini beralih pada upaya transparansi terkait dana publik yang telah mengalir namun tidak menghasilkan output infrastruktur yang nyata.
Para pengamat ekonomi di Afrika memprediksi bahwa insiden ini akan memicu perdebatan panjang mengenai regulasi tender pemerintah. Ke depan, diharapkan ada perombakan sistem yang lebih ketat dalam melakukan verifikasi latar belakang mitra bisnis pemerintah agar tidak lagi ada pengusaha yang mendapatkan kontrak besar hanya berdasarkan kedekatan personal.
Kematian Chivayo bukan sekadar berita kecelakaan helikopter biasa, melainkan titik balik bagi iklim bisnis dan politik di Zimbabwe. Sejarah mencatat bahwa sosok yang membangun kekayaan di atas fondasi relasi politik yang rapuh akan selalu menghadapi tantangan besar saat realitas hukum atau insiden tak terduga datang menjemput. Dunia kini menanti bagaimana pemerintah Zimbabwe akan merespons skandal proyek yang sempat terbengkalai tersebut pasca kepergian tokoh utamanya.