Nasional

398 Korban ISPA dari Kebakaran TPA Jatiwaringin Dinyatakan Sembuh Total

Ringkasan

  • Dinkes Tangerang nyatakan 398 korban ISPA akibat asap TPA Jatiwaringin sembuh.
  • Pemadaman terkendali cegah pneumonia warga Rajeg.

Dinas Kesehatan Kabupaten Tangerang memastikan 398 warga yang menderita Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) akibat paparan asap kebakaran Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Jatiwaringin telah pulih sepenuhnya. Pemulihan itu sejalan dengan terkendalinya proses pemadaman dan pendinginan di area TPA yang berlokasi di Kecamatan Mauk tersebut.

Kepala Dinkes Kabupaten Tangerang Hendra Tarmizi menyatakan, dari total 1.285 jiwa yang terdampak peristiwa tersebut, seluruh korban ISPA yang sebelumnya sempat mengungsi sudah kembali ke rumah masing-masing. Pengendalian kesehatan warga berjalan tanpa menimbulkan komplikasi serius seperti pneumonia.

Kebakaran di TPA Jatiwaringin mencuat sebagai krisis lingkungan dan kesehatan masyarakat karena lokasinya yang berdekatan dengan permukiman padat di Kecamatan Rajeg dan sekitarnya. Asap pekat dari tumpukan sampah yang terbakar menyebar ke pemukiman, memicu keluhan pernapasan dalam hitungan hari sejak api meluas.

TPA Jatiwaringin merupakan salah satu titik pembuangan akhir sampah dengan kapasitas tinggi di Banten. Penumpukan limbah domestik dan industri tanpa pengelolaan gas metan yang memadai membuat area tersebut rawan terbakar secara spontan, apalagi saat musim kemarau.

Insiden ini menambah daftar panjang kebakaran TPA di Indonesia yang berujung pada krisis kesehatan. Data historis menunjukkan pola serupa kerap terjadi di TPA Cipayung, TPA Leuwigajah, hingga TPA Sumur Batu, di mana asap hitam selalu menjadi ancaman ISPA massal bagi warga sekitar.

Bagi masyarakat Indonesia, peristiwa Tangerang mengingatkan bahwa tata kelola sampah belum merata di level kabupaten. Ketergantungan pada TPA konvensional memicu risiko kesehatan berulang setiap tahun, khususnya bagi kelompok rentan seperti anak dan lansia.

Dinkes setempat tidak hanya menangani korban di fasilitas statis. Layanan kesehatan mobile disiagakan untuk menjangkau warga yang sebelumnya terdampak asap di Rajeg dan wilayah tetangga.

"Yang terdampak itu ada sebanyak 1.285 jiwa. ISPA-nya yang kita tangani ada sekitar 398 jiwa seluruhnya sudah pulih," kata Hendra Tarmizi. Ia menambahkan, posko keliling dari tiga puskesmas, termasuk Puskesmas Rajeg, tetap beroperasi sebagai antisipasi.

Berdasarkan pemantauan terakhir pada hari Minggu, angka kasus ISPA akibat asap tercatat nol. Hendra menegaskan, penanganan cepat mencegah eskalasi ke radang paru-paru akut yang memaksa rujukan ke rumah sakit.

"Pneumonia tidak ada karena cepat kita tangani dan berikan obat, sehingga tidak sampai terjadi radang paru," ujarnya. Upaya itu menjadi catatan positif bagi sistem tanggap darurat kesehatan di daerah.

Ke depan, BPBD dan Dinkes akan terus melakukan pendinginan di bekas titik api guna mencegah kebakaran susulan. Status darurat berlaku hingga pertengahan Juli sebagai payung operasional penanganan.

Pergeseran ke pengelolaan sampah terpadu dengan sistem daur ulang dan pengambilalihan gas metan tampak mendesak. Tanpa perubahan struktural, kebakaran TPA dan gelombang ISPA akan terus mengancam kabupaten berpenduduk padat di Indonesia.

Perspektif Indonesia: Kasus TPA Jatiwaringin mencerminkan kelemahan sistemik pengelolaan limbah di tingkat lokal yang belum tersentuh teknologi pengolahan modern secara luas. Berbeda dengan negara dengan insinerasi bertenaga tinggi, Indonesia masih bertumpu pada TPA terbuka sehingga risiko kesehatan masyarakat tetap tinggi. Ke depan, investasi pada sanitary landfill dan pengolahan metan menjadi energi perlu dipercepat agar bencana asap rutin tidak terus membebani layanan kesehatan gratis pemerintah.

Mengapa Ini Penting

Kasus ini menunjukkan bahwa infrastruktur TPA konvensional di Indonesia masih menjadi bom waktu bagi kesehatan publik, bukan sekadar insiden lokal. Ketergantungan pada pembuangan akhir terbuka membuat negara terus menanggung biaya perawatan gratis akibat bencana buatan sendiri. Tanpa transisi ke pengelolaan metan dan daur ulang, pola kebakaran massal akan terus menguras anggaran BPBD dan Dinkes tiap musim kemarau. Masyarakat di kawasan padat harus mulai menuntut audit lingkungan sebagai bagian dari perlindungan hak sehat.

Sumber Asli
Antara News Terkini
Tanggal
16 Juli 2026
Waktu Baca
4 menit