Internasional

50 Tahun Tanpa Perempuan di F1: Jejak Lella Lombardi dan Harapan Generasi Baru

Ringkasan

  • Lima puluh tahun lalu, Lella Lombardi menjadi perempuan terakhir yang berkompetisi di Formula One pada Grand Prix Austria 1976, meninggalkan warisan setengah poin yang hingga kini belum terpecahkan.

Sepertiga abad sudah berlalu sejak suara mesin mobil balap Formula One digerakkan oleh seorang perempuan di ajang Grand Prix. Pada 15 Agustus 1976, Maria Grazia "Lella" Lombardi menyelesaikan balapan di Spielberg pada posisi ke-12, menutup babak partisipasi wanita di kasta tertinggi motorsport roda empat. Sejak saat itu, tidak ada lagi nama perempuan yang tercatat di starting grid kejuaraan dunia F1.

Hanya dua wanita dalam sejarah yang pernah memulai balapan kejuaraan F1, keduanya berkebangsaan Italia dan keduanya telah tiada. Maria Teresa de Filippis memulai tiga balapan pada 1958-1959, sedangkan Lombardi sendiri mencatat 12 kali start antara 1975 dan 1976. Prestasi terbaik Lombardi terukir di Grand Prix Spanyol 1976 di Sirkuit Montjuic, Barcelona, di mana ia finis keenam dan meraih setengah poin — balapan dihentikan dini sehingga pembagian poin hanya setengah dari standar biasa.

Fakta menarik, tidak ada satupun perempuan yang berhasil mengumpulkan poin penuh dalam sejarah kejuaraan F1. Desire Wilson, pembalap asal Afrika Selatan, sempat mencatat kemenangan di balapan non-kejuaraan seri British Aurora di Brands Hatch pada 1980. Namun di balapan kejuaraan resmi di sirkuit yang sama pada tahun itu, ia gagal lolos kualifikasi. Hal ini menunjukkan betapa ketatnya gerbang masuk ke dunia F1 bagi perempuan.

Tahun 1976 juga menyimpan momen langka: Grand Prix Inggris di Brands Hatch menjadi balapan terakhir di mana dua perempuan sekaligus mencoba kualifikasi. Divina Galica, mantan atlet ski Inggris, gagal lolos untuk tiga Grand Prix musim itu, bersamaan dengan Lombardi yang sudah terdaftar sebagai pembalap reguler. Sejak itu, nama perempuan di daftar pendaftar F1 hanya muncul sporadis, sering kali hanya sebagai penguji atau pengembang mobil.

Peran perempuan di F1 kemudian bergeser ke ranah pengembangan. Sarah Fisher, mantan pembalap IndyCar, menjalankan demonstrasi untuk McLaren di GP Amerika Serikat 2002. Susie Wolff kemudian mencatat sejarah modern sebagai perempuan pertama dalam 22 tahun yang ikut sesi latihan resmi F1 — praktik pertama GP Inggris 2014 di Silverstone untuk Williams. Namun tragedi juga menyayat: Maria de Villota, penguji Marussia, meninggal dunia 2013 akibat komplikasi kecelakaan uji coba tahun sebelumnya.

Tim-tim F1 terus merekrut perempuan sebagai penguji terafiliasi. Sauber merekrut Simona de Silvestro (Swiss) 2014 dan Tatiana Calderon (Kolombia) 2018. Lotus menandatangani Carmen Jorda (Spanyol) 2015. Williams mengandalkan Jamie Chadwick sebagai pengembang, sedangkan Aston Martin dan Mercedes masing-masing melibatkan Jessica Hawkins dan Doriane Pin untuk menguji mobil F1 mereka. Kehadiran mereka menandakan kesadaran industri akan pentingnya inklusi, meski jalur ke kursi pembalap resmi tetap tertutup rapat.

Kasus Giovanna Amati pada 1992 menjadi pengingat pahit. Amati gagal kualifikasi untuk tiga balapan dengan Brabham sebelum digantikan oleh Damon Hill — yang kemudian menjadi juara dunia 1996. Tim Brabham sendiri gulung tikar musim itu. Hal ini memperlihatkan bahwa kesempatan bagi perempuan sering kali datang di tim-tim yang sedang berjuang, dengan mobil yang tidak kompettif, memperkecil peluang untuk membuktikan kemampuan.

Di Indonesia, motorsport berkembang pesat melalui seri seperti Mandalika Racing Series dan partisipasi pembalap Indonesia di ajang internasional seperti MotoGP dan Formula 2. Namu nama perempuan Indonesia di kasta F1 atau feeder series-nya (F2, F3, F1 Academy) masih belum terlihat. F1 Academy, seri all-female yang diluncurkan 2023, seharusnya menjadi momentum untuk mendorong program pengembangan bakat perempuan di tanah air, baik dari sisi pendanaan, fasilitas latihan, hingga jalur karir yang jelas.

Tantangan utama bukan sekadar fisik — data telemetri modern membuktikan perempuan mampu mengendarai mobil F1 dengan beban G tinggi — melainkan struktural: kurangnya akses ke karting kompetitif sejak dini, minimnya sponsor yang percaya pada ROI perempuan, dan budaya paddock yang masih didominasi jaringan laki-laki. Tanpa intervensi sistematis dari FIA, tim, dan sponsor, siklus 50 tahun ini berpotensial berulang.

Langkah nyata mulai terlihat. F1 Academy kini terintegrasi dengan jadwal F1, memberikan visibilitas televisi dan akses ke paddock utama. Program "More than Equal" yang didirikan David Coulthard bertujuan mengidentifikasi dan melatih bakat perempuan sejak usia dini dengan pendekatan ilmiah. Di sisi tim, Mercedes dan Ferrari mulai melibatkan perempuan di program pengembang junior mereka, bukan hanya sebagai alibi keanekaragaman.

Masa depan perempuan di F1 tidak akan ditentukan oleh satu nama saja, melainkan ekosistem yang memungkinkan puluhan nama tumbuh bersamaan. Indonesia, dengan pasar motorsport yang berkembang dan minat muda yang tinggi, punya peluang emas untuk tidak hanya menonton sejarah dari pinggir, tapi ikut menuliskan babak barunya — mulai dari karting Mandalika hingga grid F1 di Monza atau Silverstone.

Mengapa Ini Penting

Artikel ini mengungkap kesenjangan historis 50 tahun yang tidak hanya soal statistik, tapi refleksi kegagalan sistemik motorsport global. Bagi Indonesia yang sedang bangkit di peta motorsport dunia lewat Mandalika dan bakat muda seperti Mario Aji, ini jadi momentum kritis: apakah kita hanya meniru struktur lama yang mengecualikan perempuan, atau membangun jalur inklusif dari akar? F1 Academy dan program 'More than Equal' menawarkan cetakan baru — tapi tanpa komitmen sponsor lokal, federasi (IMI), dan tim pengembang Indonesia, bakat perempuan Indonesia akan tersisih sebelum sempat sampai ke feeder series F1.

Sumber Asli
Channel NewsAsia
Tanggal
10 Agustus 2026
Waktu Baca
5 menit