Jakarta - Anggota Komisi III DPR RI, Abdullah, mendesak Markas Besar Polri untuk melakukan pengusutan tuntas terhadap insiden gugurnya tiga anggota kepolisian saat menjalankan operasi penggerebekan bandar narkoba di Katingan, Kalimantan Tengah, pada Rabu (1/7). Abdullah menegaskan bahwa penyelidikan tidak boleh hanya berhenti pada pelaku di lapangan, melainkan harus menyasar hingga ke akar jaringan narkotika yang beroperasi di wilayah tersebut.
Dalam keterangannya di Jakarta, Senin, Abdullah menyatakan bahwa peristiwa ini merupakan ancaman serius bagi keselamatan aparat penegak hukum sekaligus masyarakat. Ia meminta jajaran Polri untuk memberikan perhatian penuh agar seluruh pihak yang terlibat dalam jaringan tersebut dapat segera dibekuk dan diproses hukum sesuai dengan ketentuan yang berlaku.
Lebih lanjut, legislator bidang penegakan hukum ini menekankan perlunya evaluasi menyeluruh terhadap prosedur operasional standar (SOP) di tubuh Polri. Menurutnya, setiap operasi pemberantasan narkoba, khususnya yang melibatkan sindikat bersenjata dan memiliki kekuatan besar, harus dirancang dengan strategi yang matang serta didukung oleh personel dan peralatan yang memadai agar kejadian serupa tidak terulang di masa depan.
Abdullah juga menegaskan bahwa insiden tragis ini tidak boleh menyurutkan semangat perang melawan narkoba di Indonesia. Sebaliknya, ia berharap peristiwa ini menjadi momentum bagi institusi kepolisian untuk memperkuat strategi pemberantasan jaringan narkotika secara nasional demi menjamin keamanan dan ketertiban masyarakat dari bahaya peredaran narkoba.
Sebagai bentuk penghormatan, Abdullah menyampaikan belasungkawa mendalam atas gugurnya tiga anggota Polri yang telah mengorbankan jiwa dalam tugas negara. Ia mendoakan agar para almarhum mendapatkan tempat terbaik di sisi Tuhan Yang Maha Esa serta keluarga yang ditinggalkan diberikan ketabahan dalam menghadapi musibah besar ini.
Sebelumnya, Direktorat Tindak Pidana Narkoba Bareskrim Polri melalui Dirtipidnarkoba Brigjen Pol. Eko Hadi Santoso menyatakan akan memberikan dukungan penuh dalam penanganan kasus ini. Insiden ini bermula dari gugurnya Aipda Yudhi Perdana Putra, yang kemudian disusul dengan ditemukannya dua personel lainnya, Aiptu Sumaryanto dan Bripda Nopandri Ramadhana, oleh tim gabungan SAR di aliran sungai setempat.