Nasional

Angin Kencang dan Bahan Bakar Melimpah Hambat Pemadaman Karhutla di Riau

Ringkasan

  • Manggala Agni Daops Dumai berjuang memadamkan kebakaran hutan dan lahan seluas 10 hektare di Rokan Hilir, Riau, yang telah berlangsung dua hari akibat angin kencang dan bahan bakar melimpah.

Tim Manggala Agni Daops Dumai masih berupaya keras memadamkan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang melanda Kepenghuluan Bagan Punak, Kecamatan Bangko, Kabupaten Rokan Hilir, Provinsi Riau. Kebakaran yang menghanguskan lahan seluas 10 hektare ini telah berlangsung selama dua hari dan belum sepenuhnya tertangani.

Kepala Balai Dalkarhut Sumatera, Ferdian Krisnanto, menyatakan bahwa proses pemadaman mengalami kendala signifikan di lapangan. Angin kencang dan ketersediaan bahan bakar yang berlimpah di lokasi kejadian membuat api sulit dikendalikan. Bantuan helikopter waterbombing dari satuan tugas udara pun diturunkan untuk membantu menyemprotkan air dari udara.

Kebakaran di Bagan Punak pertama kali terdeteksi pada Senin (13/7) oleh satgas udara. Tim Manggala Agni Dumai yang berjumlah satu tim langsung melakukan pengecekan ke lokasi menggunakan sepeda motor untuk mencari titik awal kebakaran. Namun, perjalanan tim pemadam yang menggunakan kendaraan roda empat terkendala kemacetan.

Kendaraan roda empat tersebut baru dapat mencapai lokasi pada Selasa sore (14/7). Alhasil, upaya pemadaman baru bisa dieksekusi pada Rabu pagi (15/7). Ferdian menuturkan, tim awal harus melakukan pendataan terlebih dahulu untuk memastikan sumber air, kondisi bahan bakar, serta akses jalan sebelum memulai operasi pemadaman secara penuh.

Kondisi geografis Riau yang didominasi lahan gambut memang rawan terhadap kebakaran, terutama saat memasuki periode kemarau. Lahan gambut memiliki pori-pori yang menyimpan karbon dan bahan organik kering. Jika terbakar, api tidak hanya menjalar di permukaan, tetapi juga merambat di bawah tanah, membuat proses pemadaman memakan waktu lama dan energi besar.

Di sisi lain, Manggala Agni juga harus membagi kekuatan karena tim sedang menghadapi karhutla di wilayah Rokan Hilir lainnya. Di Kepenghuluan Sungai Segajah Jaya, Kecamatan Kubu, tim tengah berjibaku dengan api yang membakar lahan seluas 7,5 hektare. Pada Selasa (14/7) saja, total luas lahan yang berhasil dipadamkan di lokasi tersebut mencapai 4 hektare.

Bagi masyarakat Riau, ancaman karhutla bukan sekadar persoalan lingkungan, melainkan juga krisis kesehatan dan ekonomi. Asap tebal yang ditimbulkan dapat mengganggu jarak pandang penerbangan serta menurunkan kualitas udara hingga level berbahaya. Sektor pariwisata dan perkebunan kelapa sawit di wilayah tersebut kerap terpukul saat bencana ini meluas.

Pola ini mengingatkan pada tragedi kabut asap nasional beberapa tahun lalu yang melumpuhkan aktivitas di Sumatra dan Kalimantan. Kendati pemerintah telah meningkatkan kesiapsiagaan melalui satuan tugas darat dan udara, tantangan di lapangan seperti akses jalan buruk dan cuaca ekstrem tetap menjadi batu sandungan utama.

"Ini pemadaman hari kedua di Bagan Punak, Bangko, Rohil dengan estimasi luasan 10 Ha oleh Manggala Agni Daops Dumai bersama para pihak. Kondisi belum padam, besok akan dilanjutkan," ucap Ferdian Krisnanto dalam keterangan resmi yang diterima di Pekanbaru, Rabu malam.

Ia menambahkan, kolaborasi antarinstansi sangat krusial mengingat luasnya area dan keterbatasan personel di lapangan. Bantuan helikopter waterbombing menjadi opsi vital ketika upaya pemadaman manual menggunakan alat seadanya tidak membuahkan hasil maksimal karena tiupan angin yang membesar.

Proses pemadaman di Rokan Hilir diproyeksikan masih akan berlanjut hingga beberapa hari ke depan. Pemerintah daerah setempat bersama Balai Dalkarhut Sumatera terus memantau pergerakan titik panas (hotspot) melalui pantauan satelit untuk mencegah meluasnya kebakaran ke pemukiman warga.

Memasuki pertengahan Juli, potensi kekeringan di sebagian besar wilayah Sumatra memang meningkat. Kesiagaan warga dan patroli terpadu menjadi kunci utama agar bencana karhutla tidak kembali merembet menjadi bencana nasional yang merugikan jutaan orang.

Mengapa Ini Penting

Kebakaran lahan di Riau memiliki efek domino bagi negara tetangga seperti Singapura dan Malaysia melalui polusi lintas batas, sehingga penanganan dini sangat krusial bagi diplomasi regional Indonesia. Kerugian ekonomi akibat kabut asap, terutama di sektor penerbangan dan perkebunan, dapat mencapai triliunan rupiah jika api tidak segera dikendalikan. Masyarakat luas perlu menyadari bahwa praktik pembukaan lahan dengan cara membakar oleh oknum masih menjadi akar masalah yang sulit dieradikasi tanpa patroli terpadu yang masif. Investasi pada teknologi deteksi dini berbasis satelit dan drone juga menjadi kebutuhan mendesak untuk meminimalisasi risiko ke depan.

Sumber Asli
Antara News Terkini
Tanggal
15 Juli 2026
Waktu Baca
4 menit