Scott Bessent, Menteri Keuangan Amerika Serikat, menyatakan pada Kamis (20 Agustus) bahwa pemerintahnya akan mengeluarkan "sanksi terberat dalam sejarah" terhadap Iran. Ia mengumumkan akan menggelar konferensi pers pada Senin mendatang untuk merincikan paket kebijakan tersebut, yang digambarkannya sebagai kombinasi blokade dan tekanan ekonomi maksimal.
Presiden Donald Trump sehari sebelumnya memperingatkan bahwa negara mana pun yang memberikan "talian hayat" kepada Iran akan menghadapi konsekuensi ekonomi. Ancaman ini ditujukan untuk memaksa sekutunya dan komunitas internasional memilih sisi dalam upaya menyelesaikan konflik yang sudah berlangsung hampir enam bulan bersama Israel.
Pasar minyak merespons dengan kenaikan harga ke tingkat tertinggi dalam tiga minggu. Bessent menilai bahwa kenaikan tersebut disebabkan oleh interpretasi keliru pasar terhadap tekanan ekonomi yang diterapkan. Menurutnya, jika tekanan maksimal berjalan, kemungkinan besar tidak akan terjadi eskalasi militer berskala besar.
China menjadi fokus utama karena membeli lebih dari 80 persen ekspor minyak Iran menurut data Kpler 2025. Bessent mengingatkan bahwa Beijing memperoleh sekitar 50 persen kebutuhan energinya dari Teluk, sehingga kepentingan China selaras dengan pembukaan kembali Selat Hormuz dan penurunan harga energi. Ia menyarankan percakapan sensitif dilakukan secara tertutup.
Iran telah bertahan di bawah sanksi berat selama hampir 50 tahun sejak Revolusi Islam 1979. Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araqchi, menanggapi pernyataan Trump sebagai upaya mengalihkan perhatian opini publik AS dari masalah domestik seperti utang rekord dan suku bunga yang melonjak.
Dampak bagi Indonesia terasa melalui volatilitas harga minyak dunia. Sebagai negara importir neto minyak mentah, kenaikan harga mentah akan menambah beban subsidi bahan bakar dan mendorong inflasi, terutama di sektor transportasi dan industri manufaktur.
Pemerintah Indonesia yang mengutamakan politik bebas aktif cenderung menghindari blok konfrontatif, namun ketergantungan pada pasokan dari Timur Tengah membuat Jakarta harus memantau perkembangan ketat. Diversifikasi sumber energi dan percepatan program energi terbarukan menjadi strategis untuk mengurangi kerentanan.
Bessent menekan bahwa semua pihak ingin Selat Hormuz terbuka kembali dan harga energi turun. Ia mengklaim keuntungan besar bagi China jika ikut mendukung program AS, mengingat ketergantungan energi Beijing pada wilayah tersebut.
Konferensi pers Senin diharapkan memberikan detail teknis sanksi baru, termasuk apakah akan menargetkan entitas China yang bertransaksi dengan Iran. Jika AS melangkah lebih jauh, risiko perang dagang dan pasokan mineral langka — vital untuk industri teknologi — akan meningkat.
Jangka panjang, ketidakpastian geopolitik ini menuntut Indonesia memperkuat ketahanan energi melalui cadangan strategis, kerja sama bilateral dengan produsen lain, dan percepatan transisi ke energi bersih. Stabilitas harga minyak global tetap menjadi variabel kunci bagi kebijakan makroekonomi domestik.