Nasional

Bandara Radin Inten Gelar Simulasi Darurat Skala Penuh Uji Kesiapan Keamanan Penerbangan

Ringkasan

  • PT Angkasa Pura Indonesia menggelar Latihan Penanggulangan Keadaan Darurat (PKD) skala penuh di Bandara Internasional Radin Inten II, Lampung Selatan, Kamis (15/1), menguji kesiapan personel, fasilitas, dan koordinasi antar instansi menghadapi skenario kecelakaan pesawat dan penyanderaan.

Bandara Internasional Radin Inten II di Lampung Selatan menggelar Latihan Penanggulangan Keadaan Darurat (PKD) skala penuh sepanjang Kamis (15/1) sebagai kewajiban regulasi yang berlaku setiap dua tahun sekali. General Manager PT Angkasa Pura Indonesia Bandara Internasional Radin Inten II, Kiki Eprina Arieanti, menegaskan kegiatan ini bertujuan memastikan keselamatan transportasi udara serta menguji efektivitas sistem komando dan komunikasi antar instansi saat menghadapi krisis.

Pelaksanaan latihan kali ini menjadi wajib setelah edisi terakhir diselenggarakan pada 2024. Regulasi perhubungan udara mewajibkan setiap bandara internasional melakukan simulasi darurat skala penuh secara berkala untuk menjaga standar keselamatan yang ditetapkan ICAO dan Kementerian Perhubungan. Radin Inten II sebagai gerbang udara utama Lampung harus membuktikan kesiapan operasionalnya di tengah peningkatan volume penumpang dan armada maskapai yang beroperasi di bandara ini.

Skenario latihan dirancang mencakup tiga fase utama yang mensimulasikan ancaman nyata. Fase pertama berupa Table Top Exercise (TTX), simulasi meja yang menguji koordinasi dan pengambilan keputusan strategis di tingkat manajemen. Fase kedua, Airport Emergency Exercise (AEE), mensimulasikan kecelakaan pesawat akibat runway excursion saat pendaratan — skenario yang menuntut respons cepat dari tim penyelamatan, pemadam kebakaran, evakuasi penumpang, hingga penanganan korban jiwa. Fase ketiga, Airport Contingency Exercise (ACE), mengangkat skenario gangguan keamanan berupa penyanderaan personel Airport Security yang melibatkan kepolisian dalam penanganannya.

Seluruh rangkaian latihan melibatkan unsur keselamatan dan keamanan bandara, serta instansi vertikal seperti Polisi Udara, TNI AU, Basarnas, Dinas Kesehatan, dan Rumah Sakit rujukan. Kiki menilai seluruh proses berjalan efektif dan lancar sesuai dokumen prosedur yang telah disepakati. "Dokumen, personel, fasilitas, dan komunikasi semua diuji kesiapannya," ujarnya. Evaluasi menyeluruh ini mencakup waktu respons, akurasi informasi, hingga kelancaran evakuasi dan penanganan medis.

Penting untuk dicatat, latihan ini dirancang tidak mengganggu operasional penerbangan komersial. Jadwal take-off dan landing maskapai tetap berjalan normal, dengan penyesuaian slot tertentu untuk mengakomodasi area simulasi. Hal ini menunjukkan kematangan manajemen bandara dalam membagi perhatian antara kewajiban regulasi dan layanan publik. Selama latihan, tim juga menguji prosedur manajemen keterlambatan penerbangan, penyampaian informasi real-time ke penumpang dan keluarga korban, serta koordinasi logistik darurat.

Kementerian Perhubungan melalui Ditjen Perhubungan Udara telah menegaskan komitmen memperkuat keselamatan dan konektivitas nasional melalui program prioritas 2027. Program ini didukung usulan tambahan anggaran yang difokuskan pada pemenuhan fasilitas keselamatan dan keamanan penerbangan, pengawasan dan pengendalian, serta layanan angkutan udara keperintisan. Latihan PKD di Radin Inten II menjadi bukti nyata implementasi kebijakan pusat di tingkat operasional bandara daerah.

Dampak latihan ini melampaui sekadar memenuhi kotak ceklis regulasi. Bagi masyarakat Lampung dan pengguna jasa penerbangan, simulasi ini memberikan jaminan bahwa bandara tempat mereka berangkat atau tiba memiliki sistem respons darurat yang teruji. Dalam konteks industri penerbangan Indonesia yang terus berkembang — dengan penumpang domestik capai 90 juta per tahun pra-pandemi dan target pulih penuh — standar keselamatan bandara sekunder seperti Radin Inten II menjadi krusial. Bandara ini melayani rute strategis ke Jakarta, Batam, dan Palembang, serta menjadi alternatif divertion bagi bandara Soekarno-Hatta saat cuaca buruk.

Di sisi teknis, latihan runway excursion mengacu pada insiden nyata yang pernah terjadi di beberapa bandara Indonesia, termasuk kecelakaan Lion Air JT904 di Bandara Ngurah Rai (2013) dan Batik Air ID7703 di Bandara Halim Perdanakusuma (2019). Skenario penyanderaan personel keamanan pula relevan mengingat ancaman keamanan fisik di area airside bandara. Melibatkan Polri dalam ACE menunjukkan pentingnya sinergi hukum dan operasi antara pengelola bandara dan penegak hukum.

Kiki menambahkan bahwa hasil evaluasi latihan akan dijadikan masukan untuk memperbaiki Standar Operasional Prosedur (SOP) dan rencana contingensi bandara. "Ini juga sebagai bentuk antisipasi kita dalam menghadapi keadaan kedaruratan," tegasnya. Dokumen hasil latihan akan diserahkan ke Kementerian Perhubungan dan Otoritas Penerbangan Sipil sebagai bukti kepatuhan serta bahan perbaikan berkelanjutan.

Ke depan, PT Angkasa Pura Indonesia berencana mengintegrasikan teknologi simulasi berbasis digital twin dan AI untuk melatih personel tanpa harus menutup area operasial secara fisik setiap dua tahun. Pendekatan ini diharapkan mengurangi biaya dan risiko gangguan layanan, sambil menjaga ketajaman kesiapan tim. Radin Inten II sendiri sedang menyiapkan pengembangan terminal dan landasan pacu guna menampung kapasitas 5 juta penumpang per tahun, seiring dengan statusnya sebagai bandara internasional penuh sejak 2019.

Bagi penumpang dan masyarakat umum, pelaksanaan PKD ini seharusnya dibaca sebagai sinyal positif: bandara tempat mereka percayakan keselamatan telah mempersiapkan diri untuk skenario terburuk. Keselamatan penerbangan bukan hanya soal teknologi pesawat atau kemampuan pilot, tapi ekosistem lengkap — dari menara pengawasan, apron, darurat medis, hingga keamanan fisik — yang harus siap bergerak serentak saat detik-detik menentukan nyawa.

Mengapa Ini Penting

Latihan PKD di Radin Inten II bukan sekadar rutina administrasi, melainkan uji nyata ekosistem keselamatan bandara sekunder yang melayani rute strategis Sumatera-Jawa. Hasilnya akan menentukan apakah bandara ini layak mempertahankan sertifikasi internasional dan menangani lonjakan penumpang pasca-pandemi. Bagi penumpang Lampung, ini jaminan bahwa bandara terdekat telah mensimulasikan skenario terburuk — runway excursion hingga penyanderaan — dengan melibatkan Polri, Basarnas, dan rumah sakit rujukan. Di era digital, transparansi latihan seperti ini juga membangun kepercayaan publik yang rapuh setelah serangkaian insiden keamanan bandara di tahun-tahun sebelumnya. Lebih jauh, adoptasi digital twin untuk latihan masa depan menandakan pergeseran budaya keselamatan dari reaktif ke prediktif.

Sumber Asli
Antara News Terkini
Tanggal
16 Juli 2026
Waktu Baca
5 menit