PT Angkasa Pura Indonesia Kantor Cabang Bandara Internasional Syamsudin Noor menyerahkan bantuan pemenuhan gizi kepada 127 anak di Banjarbaru, Kalimantan Selatan, pada Rabu (15/7). Program bertajuk InJourney Lawan Stunting itu dibiayai dengan anggaran Rp164.625.000 sebagai bagian dari upaya menekan angka stunting di wilayah sekitar bandara.
Bantuan tersebut diserahkan langsung oleh General Manager PT Angkasa Pura Indonesia Kantor Cabang Bandara Internasional Syamsudin Noor, Stephanus Millyas Wardana. Penyaluran ini masuk dalam Program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) perusahaan dengan total nilai bantuan mencapai Rp319.625.000 untuk berbagai sektor di Banjarbaru.
Stunting masih menjadi persoalan kesehatan masyarakat yang serius di Indonesia. Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional mencatat prevalensi stunting balita sempat berada di atas 20 persen dalam beberapa tahun terakhir, sehingga pemerintah menetapkan target penurunan melalui berbagai intervensi gizi. Keterlibatan badan usaha seperti operator bandara menjadi salah satu cara mempercepat capaian tersebut di tingkat lokal.
Bandara Syamsudin Noor memilih pendekatan pemberdayaan masyarakat sekitar karena lokasinya berbatasan langsung dengan permukiman padat di Banjarbaru. Anak-anak yang menerima bantuan gizi berasal dari keluarga yang masuk dalam pantauan program pencegahan stunting tingkat kelurahan. Pola ini memastikan bantuan tepat sasaran而不是 sekadar simbolis.
Selain gizi, perusahaan juga menyentuh sektor pendidikan melalui Program InJourney Cerdaskan Bangsa. SDN 3 Landasan Ulin Utara menerima perbaikan halaman sekolah senilai Rp30 juta agar siswa belajar dalam lingkungan yang aman. SMP Negeri 15 Banjarbaru mendapat bantuan panggung senilai Rp50 juta untuk kegiatan seni dan pengembangan kreativitas.
Di bidang lingkungan, LPM Guntung Payung, Desa Guntung Damar, memperoleh mesin pencacah sampah senilai Rp25 juta. Alat tersebut diharapkan meningkatkan pengelolaan sampah berbasis warga sekaligus memberi nilai ekonomi dari olahan sampah organik. Program ini sejalan dengan mandat pengelolaan limbah bandara yang harus ramah ekosistem.
Kesejahteraan hunian turut menjadi perhatian lewat Program InJourney Airports Rumah Layak Huni. Renovasi rumah warga yang membutuhkan dibiayai Rp50 juta agar tempat tinggal lebih sehat dan aman. Empat sektor prioritas itu—kesehatan, pendidikan, lingkungan, hunian—menunjukkan TJSL tidak lagi sekadar sumbangan insidental.
Bagi industri penerbangan domestik, langkah ini mencerminkan transformasi peran bandara dari sekadar infrastruktur transit menjadi agen pembangunan lokal. Di tengah tekanan efisiensi akibat pemulihan pasca-pandemi, operator bandara tetap mengalokasikan dana sosial karena dampaknya berkorelasi dengan reputasi dan izin operasi. Masyarakat Banjarbaru mendapat manfaat nyata yang sulit diukur hanya dari laba perusahaan.
Praktik serupa mulai tampak di bandara lain under InJourney, seperti pendampingan di Bandara Husein Sastranegara. Namun, besaran dan jenis intervensi masih beragam tergantung profil ekonomi sekitar. Bandara di kota besar cenderung fokus pada digitalisasi layanan, sementara bandara regional lebih erat dengan pemenuhan kebutuhan dasar warga.
Millyas menegaskan program TJSL merupakan komitmen perusahaan untuk tumbuh bersama masyarakat. “Bandara bukan hanya pusat konektivitas transportasi udara, tetapi juga harus mampu menghadirkan manfaat bagi masyarakat di sekitarnya,” ujarnya. Ia menambahkan harapan agar bantuan memberi manfaat berkelanjutan bagi Kota Banjarbaru.
Kutipan tersebut menunjukkan kesadaran manajemen bahwa lisensi sosial merupakan aset operasional. Tanpa dukungan warga sekitar, ekspansi fasilitas bandara kerap menemui resistensi. Keterlibatan langsung dalam stunting dan pendidikan mempermudah komunikasi perusahaan dengan pemangku kepentingan lokal.
Ke depan, kolaborasi lintas program seperti ini berpotensi diperluas ke bandara regional lain di Kalimantan. Data kesehatan balita setempat akan menjadi dasar penentuan besaran bantuan tahun berikutnya. Jika terbukti menurunkan stunting, model TJSL Syamsudin Noor bisa menjadi standar bagi anak usaha InJourney di luar Jawa.
Tren tanggung jawab sosial berbasis data diprediksi menguat seiring regulasi ESG yang makin ketat. Operator bandara tidak lagi cukup melaporkan CSR nominal, tetapi wajib menunjukkan dampak terukur. Langkah Banjarbaru hari ini adalah contoh awal yang layak dikawal konsistensinya.