Bisnis & Startup

Berakhirnya Masa Lock-up Saham Zhipu AI dan MiniMax Uji Ketahanan Investor Hong Kong

Berakhirnya Masa Lock-up Saham Zhipu AI dan MiniMax Uji Ketahanan Investor Hong Kong

Ringkasan

  • Pasar modal Hong Kong menghadapi tekanan jual signifikan seiring berakhirnya periode lock-up saham perusahaan AI, Zhipu AI dan MiniMax.

Pasar modal Hong Kong kini tengah menghadapi tantangan signifikan menyusul berakhirnya periode lock-up saham bagi sejumlah perusahaan teknologi kecerdasan buatan (AI) terkemuka, termasuk Zhipu AI dan MiniMax. Dalam beberapa hari ke depan, bursa diperkirakan akan mengalami tekanan jual yang cukup intens seiring dengan masuknya suplai saham baru ke pasar secara masif.

Periode lock-up selama enam bulan yang diberlakukan bagi para investor awal dan pemegang saham strategis telah resmi berakhir. Bagi Zhipu AI, yang dikenal secara internasional dengan nama Knowledge Atlas Technology, masa pembatasan ini berakhir pada hari Selasa, sementara untuk MiniMax, masa tersebut berakhir pada hari Rabu. Kondisi ini memicu kekhawatiran di kalangan pelaku pasar mengenai potensi volatilitas harga yang lebih tinggi.

Secara total, terdapat sekitar 25,68 juta saham milik Zhipu AI dan 150 juta saham milik MiniMax yang kini berstatus dapat diperdagangkan bebas di pasar. Mengingat total saham yang diterbitkan masing-masing mencapai 446 juta dan 314 juta lembar, masuknya volume saham baru dalam jumlah besar ini memberikan tekanan tersendiri terhadap likuiditas pasar di Hong Kong.

Stevan Tam, Associate Director di Fulbright Financial, menyatakan bahwa pasar saat ini menghadapi tekanan ganda. Selain berakhirnya lock-up, banyak perusahaan serupa juga dikabarkan sedang mempertimbangkan penempatan saham sekunder dalam skala besar. Hal ini dinilai dapat menguras likuiditas yang tersedia dan membatasi momentum kenaikan harga saham yang sebelumnya sempat mencatatkan keuntungan signifikan.

Dalam dinamika perdagangan terbaru, saham Zhipu AI sempat mencatatkan kenaikan sebesar 5 persen pada Selasa pagi setelah mengalami koreksi tajam sebesar 14,6 persen pada hari sebelumnya. Sementara itu, MiniMax menunjukkan tren pelemahan dengan penurunan 2,3 persen pada Selasa pagi, menyusul penurunan 3,3 persen pada Senin. Fluktuasi ini mencerminkan kegugupan investor dalam merespons perubahan suplai saham.

Berdasarkan harga tengah pada hari Selasa, nilai pasar gabungan dari saham yang masa lock-up-nya telah berakhir diperkirakan mencapai HK$90 miliar atau setara dengan US$11,5 miliar. Angka yang fantastis ini menjadi indikator utama betapa krusialnya periode transisi ini bagi kesehatan pasar modal Hong Kong dalam jangka pendek, serta menjadi ujian bagi sentimen investor terhadap sektor teknologi AI yang selama ini menjadi primadona investasi.

Mengapa Ini Penting

Fenomena ini menjadi pengingat bagi investor startup di Indonesia mengenai pentingnya memahami siklus likuiditas saat perusahaan teknologi melakukan IPO. Selain itu, volatilitas di pasar regional seperti Hong Kong seringkali mencerminkan sentimen global terhadap sektor AI, yang dapat memengaruhi minat pendanaan modal ventura di Asia Tenggara.

Sumber Asli
Scmp
Tanggal
7 Juli 2026
Waktu Baca
3 menit