Bisnis & Startup

BI Perkuat Sinergi Pusat dan Daerah untuk Kendalikan Inflasi di Tengah Ketidakpastian Global

BI Perkuat Sinergi Pusat dan Daerah untuk Kendalikan Inflasi di Tengah Ketidakpastian Global

Ringkasan

  • Bank Indonesia memperkuat koordinasi dengan pemerintah pusat dan daerah guna menjaga stabilitas inflasi di tengah ketidakpastian ekonomi global.

Bank Indonesia (BI) terus memperkuat koordinasi dengan pemerintah pusat maupun daerah sebagai langkah strategis dalam menjaga stabilitas inflasi di tengah dinamika ketidakpastian ekonomi global. Langkah ini diambil sebagai respons atas tren kenaikan harga komoditas dunia yang berpotensi berdampak pada daya beli masyarakat serta stabilitas fiskal dan moneter di dalam negeri.

Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo, dalam Rapat Kerja bersama Badan Anggaran DPR RI menegaskan bahwa sinergi yang erat antarlembaga merupakan kunci utama untuk memastikan inflasi tetap berada dalam koridor yang terkendali. Menurut Perry, stabilitas harga adalah prasyarat mutlak bagi kesejahteraan masyarakat serta ketahanan ekonomi nasional secara keseluruhan.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) per Juni 2026, inflasi Indeks Harga Konsumen (IHK) tercatat berada di level 3,34 persen secara tahunan (year-on-year). Capaian ini dinilai masih berada dalam rentang sasaran yang ditetapkan, berkat keberhasilan kebijakan moneter yang konsisten serta implementasi Program Ketahanan Pangan Nasional yang berjalan efektif.

Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI, Ramdan Denny Prakoso, menyatakan keyakinannya bahwa inflasi akan tetap berada dalam rentang target 2,5 plus minus 1 persen pada tahun 2026 dan 2027. Keyakinan tersebut didasarkan pada proyeksi penguatan ekonomi domestik yang didukung oleh koordinasi kebijakan yang disiplin antara bank sentral dan pemerintah.

Dalam laporannya, inflasi inti tercatat sebesar 2,76 persen secara tahunan. Meskipun angka ini mengalami sedikit kenaikan dibandingkan bulan sebelumnya, BI menilai bahwa ekspektasi inflasi masyarakat masih tetap terjaga dengan baik. Kenaikan inflasi inti lebih dipengaruhi oleh tingginya harga komoditas global, sementara permintaan domestik tetap stabil dan terukur.

Sementara itu, kelompok volatile food mencatatkan inflasi sebesar 5,58 persen secara tahunan, sebuah penurunan dibandingkan periode sebelumnya. Meskipun terdapat tekanan pada komoditas seperti bawang merah, bawang putih, dan beras akibat faktor cuaca dan berakhirnya masa panen, pemerintah dan BI terus melakukan intervensi melalui rantai distribusi dan penguatan stok pangan nasional agar lonjakan harga tidak berlanjut.

Mengapa Ini Penting

Stabilitas inflasi menjadi penentu utama iklim investasi dan daya beli masyarakat yang berdampak langsung pada keberlangsungan bisnis di Indonesia. Koordinasi antara BI dan pemerintah memberikan kepastian bagi pelaku usaha dalam menyusun strategi keuangan jangka panjang di tengah volatilitas pasar global.

Sumber Asli
Antaranews
Tanggal
7 Juli 2026
Waktu Baca
2 menit