Perum Bulog secara resmi menyatakan kesiapannya untuk melakukan ekspor beras sebanyak 200 ribu ton ke sejumlah negara mitra. Direktur Utama Perum Bulog, Ahmad Rizal Ramdhani, menegaskan bahwa stok beras premium dengan tingkat pecahan 5 persen telah tersedia dan dalam kondisi siap kirim kapan pun dibutuhkan oleh pasar internasional.
Dalam keterangannya di Gudang Bulog Wilayah DKI Jakarta dan Banten, Rizal merinci bahwa target pasar ekspor tersebut mencakup beberapa negara strategis, yakni Malaysia, Singapura, dan Uni Emirat Arab. Untuk Malaysia, Bulog telah memproyeksikan volume ekspor sebesar 200 ribu ton, sementara untuk Singapura disiapkan sebanyak 10 ribu ton, dan untuk Uni Emirat Arab ditargetkan mencapai 50 ribu ton per bulan.
Selain negara-negara tersebut, Bulog juga tengah menjajaki potensi perluasan pasar ke negara tetangga lainnya, yaitu Timor Leste dan Papua Nugini. Langkah ini merupakan bagian dari upaya agresif perusahaan untuk membawa produk pangan unggulan Indonesia agar mampu bersaing dan diakui di pasar global secara lebih luas.
Sebagai langkah konkret, Bulog telah memastikan kesiapan 10 ribu ton beras yang akan segera dikirimkan ke Singapura. Proses pengiriman ini akan dilakukan secara simultan dengan pemenuhan pesanan dari pihak Malaysia, yang menunjukkan kesiapan logistik dan manajemen rantai pasok Bulog dalam menangani permintaan lintas negara secara bersamaan.
Di sisi lain, Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menyatakan dukungannya terhadap rencana ekspor ini. Menurutnya, keputusan untuk mengekspor didasari oleh kondisi cadangan beras nasional yang saat ini sangat kokoh, dengan total stok beras pemerintah mencapai 5,1 juta ton. Mengingat kapasitas gudang yang terbatas, optimalisasi stok melalui ekspor dianggap sebagai langkah strategis yang tepat.
Kerja sama ekspor ke Singapura kali ini juga menjadi perhatian khusus karena melibatkan skema kemitraan baru antara BUMN Indonesia dengan mitra swasta di Singapura. Melalui kolaborasi ini, pemerintah berharap dapat mempererat hubungan perdagangan pangan antarnegara sekaligus memperkuat posisi Indonesia sebagai salah satu pemain kunci dalam ketahanan pangan di kawasan regional maupun internasional.