Pasar saham di kawasan Asia berakhir menghijau pada perdagangan Rabu (15/7), dengan indeks Seoul memimpin penguatan setelah sempat terpuruk dalam beberapa pekan terakhir. Penguatan ditopang oleh rebound saham teknologi yang sebelumnya tertekan isu valuasi berlebih dan belanja besar-besaran untuk infrastruktur kecerdasan buatan (AI).
Indeks utama Korea Selatan, KOSPI, sempat melesat hingga 7 persen pada sesi intraday. Saham raksasa chip SK hynix melonjak 8,8 persen setelah merosot sekitar 30 persen dari rekor tertingginya bulan lalu. Selain Seoul, bursa Tokyo, Hong Kong, Sydney, Singapura, Taipei, Mumbai, Bangkok, Jakarta, dan Manila kompak naik, sementara Shanghai melemah karena data pertumbuhan ekonomi Tiongkok kuartal II di bawah ekspektasi.
Katalis utama datang dari rilis inflasi Amerika Serikat yang ternyata lebih dingin dari perkiraan. Departemen Tenaga Kerja melaporkan indeks harga konsumen (CPI) AS naik 3,5 persen pada Juni, turun tajam dari angka 4,2 persen pada Mei yang merupakan tertinggi dalam tiga tahun, sekaligus penurunan paling curam dalam enam tahun terakhir. Konsensus ekonom sebelumnya memprediksi kenaikan 3,8 persen.
Meredanya tekanan inflasi langsung mengubah ekspektasi pasar terhadap kebijakan Federal Reserve. Investor menepis taruhan akan kenaikan suku bunga acuan pada pertemuan bulan Juli ini. Namun, sentimen positif itu mendapat gangguan dari gejolak geopolitik: harga minyak mentah lanjut naik lebih dari 10 persen sejak ketegangan AS-Iran memanas pekan lalu, setelah pasukan Amerika kembali menghantam situs-situs Iran dan Presiden Donald Trump memberlakukan lagi blokade laut di pelabuhan negara tersebut.
Sebelumnya, sempat ada gencatan senjata singkat yang membuka kembali Selat Hormuz sehingga menekan biaya energi. Trump juga membatalkan ancaman memungut pajak atas kargo yang lewat selat strategis itu, yang sempat memberi napas bagi pasar. Namun, berbaliknya situasi keamanan membuat analis waspada karena lonjakan harga minyak bisa memicu kembali tekanan inflasi secara global.
Bagi Indonesia, penguatan bursa regional memberikan angin segar bagi Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang turut naik dalam sesi yang sama. Investor domestik yang berinvestasi melalui reksa dana saham global atau langsung memegang saham teknologi AS mendapat keuntungan paper gain setelah pekan-pekan suram. Namun, ketergantungan Indonesia pada impor energi membuat volatilitas harga minyak akibat konflik Timur Tengah masih menjadi risiko fiskal.
Di sisi lain, ekosistem startup teknologi Tanah Air yang banyak mengandalkan pendanaan dari investor asing akan merasakan dampak tidak langsung. Apabila The Fed menunda kenaikan suku bunga, aliran modal ke pasar emerging market termasuk Indonesia berpotensi menguat karena yield obligasi AS tidak separah dugaan. Sebaliknya, jika inflasi AS kembali meroket karena harga minyak, bank sentral lokal mungkin harus menyesuaikan BI Rate untuk menjaga stabilisasi rupiah.
Perbandingan dengan situasi domestik memperlihatkan bahwa saham sektor teknologi di BEI, seperti emiten telekomunikasi dan perusahaan digital, juga ikut tertekan saat terjadi selloff global bulan lalu. Namun, mereka relatif lebih tangguh ketimbang peers di Korea atau Jepang karena porsi investasi AI yang belum seagresif di Negeri Ginseng. Hal ini membuat rebound di Jakarta cenderung moderat namun stabil.
"Data inflasi yang lebih lunak kemungkinan disambut pejabat Federal Reserve karena mengurangi tekanan langsung untuk menaikkan suku bunga lebih lanjut," tulis Fiona Cincotta, analis di City Index. Namun ia mengingatkan bahwa rebound harga minyak dan ketegangan AS-Iran dapat mempersulit outlook inflasi jika biaya energi tinggi bertahan lama.
Stephen Innes dari SPI Asset Management menyebut The Fed "bisa menyimpan senjata di atas meja tanpa menembaknya". Menurutnya, pasar masih mematok setidaknya satu kenaikan suku bunga tahun ini, dengan peluang tambahan kenaikan kedua, sehingga narasi pengetatan belum hilang. Di sisi lain, Gubernur Fed Kevin Warsh menegaskan terlalu dini untuk merayakan. "Masih banyak pekerjaan yang harus diselesaikan," katanya di hadapan Komite Jasa Keuangan DPR AS, menekankan nol toleransi terhadap harga tinggi yang bandel.
Menyongsong akhir bulan, pelaku pasar akan memantau rilis kinerja keuangan kuartal II perusahaan Wall Street yang sudah dibuka dengan laba lebih tinggi dari JP Morgan, Citigroup, Bank of America, Goldman Sachs, dan Wells Fargo. Namun, IBM anjlok lebih dari 25 persen setelah pra-rilis hasil Q2 mengecewakan, dengan alasan pergeseran belanja pelanggan akibat prediksi harga chip memori dan infrastruktur AI naik.
Ke depan, arah bursa Asia akan sangat ditentukan oleh dua variabel: perkembangan geopolitik di Selat Hormuz dan sikap resmi Federal Reserve pada 30-31 Juli nanti. Jika harga minyak kembali tenang, reli saham teknologi dapat berlanjut. Sebaliknya, jika konflik memanas dan inflasi AS rebound, sentimen risk-off akan kembali menghantam pasar emerging market, termasuk Indonesia.