Ditetapkannya tempat tinggal terbaik untuk tim cricket di Asian Games 2026 di Jepang menimbulkan sorotan, terutama mengingat sepakbola dan bulu tangkis tidak mendapat fasilitas serupa. Menurut Naoki Alex Miyaji, CEO Japan Cricket Association, tim cricket akan menginap di hotel bintang lima, sementara banyak atlet dari cabang olahraga lainnya terpaksa menginap di kabin kapal pesiar, kontainer kayu sementara, hingga hotel murah di sekitar Nagoya.
Hal ini muncul di tengah kekhawatiran yang semakin luas terkait kemampuan akomodasi yang disediakan panitia untuk 17.000 atlet peserta. Jumlah ini jauh melebihi partisipasi pada Olimpiade Paris 2024 yang hanya sekitar 11.000 atlet. Dengan skenario seperti ini, tidak mengherankan bila beberapa negara seperti India dan Sri Lanka menyampaikan kekecewaan terhadap kondisi fasilitas yang tersedia.
Cricket memang menjadi olahraga kecil di Jepang, namun keputusan untuk memberikan akomodasi terbaik justru memicu perdebatan. Lapangan pertandingan yang digunakan adalah lapangan baseball yang telah diubah di Korogi Sports Park, berjarak 40 menit dari pusat kota Nagoya. Beberapa laporan menyebut bahwa ruang ganti pemain sementara menggunakan tenda, dan fasilitas toilet jauh dari area pertandingan.
Meski demikian, Miyagi menegaskan bahwa pitch yang disiapkan oleh kurator lapangan internasional asal Sri Lanka akan memastikan kualitas tinggi. “Permukaan lapangan dan medan yang akan kami sediakan adalah terbaik dalam sejarah inklusi cricket di Asian Games,” ujurnya. Namun janji ini tampak tidak cukup untuk menenangkan para pemangku kepentingan besar sepertui Ikatan Cricket India (BCCI), yang dilaporkan tidak puas dan mempertimbangkan untuk mengirimkan skuad cadangan.
Bagi Indonesia, peristiwa ini menjadi pelajaran penting. Meskipun cricket belum dikenal luas di Indonesia, keberadaan Asian Games 2026 menjadi ajang evaluasi bagi pihak berwenang dan federasi olahraga untuk memastikan semua cabang olahraga — tidak hanya yang populer — dapat diperlakukan secara adil. Kita perlu belajar dari pengalaman Jepang agar tidak ada diskriminasi dalam penyelenggaraan acara multibangsa di masa depan.
Di sisi lain, isu ini juga menyoroti betapa pentingnya perencanaan jangka panjang dan alokasi sumber daya yang adil saat menyelenggarakan event olahraga internasional skala besar. Pemerintah dan panitia sebaiknya tidak hanya fokus pada aspek teknis, tetapi juga pada kesejahteraan psikologis dan fisik setiap atlet yang ikut bertarung di atas lapangan.