Chief Economist & Head of Research Mirae Asset Sekuritas, Rully Arya Wisnubroto, menyoroti tantangan berat yang dihadapi perekonomian Indonesia di tengah dinamika ketidakpastian ekonomi global. Fokus utama dari kekhawatiran tersebut terletak pada kondisi defisit fiskal yang menunjukkan tren peningkatan signifikan dalam beberapa waktu terakhir.
Berdasarkan data terbaru, defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) Indonesia dalam lima bulan pertama tahun 2026 telah menyentuh angka Rp135 triliun. Angka tersebut setara dengan 0,5 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB), sebuah lonjakan drastis dibandingkan periode yang sama pada tahun sebelumnya yang tercatat hanya sebesar Rp21 triliun atau 0,1 persen dari PDB.
Kondisi ini memicu munculnya keraguan di kalangan pelaku pasar mengenai kemampuan pemerintah dalam menjaga defisit anggaran tetap berada di bawah ambang batas aman, yakni 3 persen terhadap PDB. Rully menekankan bahwa komunikasi strategi fiskal yang jelas dari pemerintah sangat krusial saat ini, terutama terkait langkah-langkah konkret dalam optimalisasi penerimaan negara maupun efisiensi belanja.
Selain isu fiskal, Indonesia juga tengah menghadapi fenomena 'twin deficit' atau defisit kembar, di mana defisit fiskal terjadi beriringan dengan defisit transaksi berjalan. Hal ini dipicu oleh tingginya volume impor minyak untuk kebutuhan energi domestik, serta adanya arus modal keluar (capital outflow) yang memberikan tekanan tambahan pada neraca finansial dan nilai tukar Rupiah.
Untuk menjaga stabilitas Rupiah dan kepercayaan investor, Rully menilai bahwa Bank Indonesia perlu mengambil langkah strategis, termasuk potensi penyesuaian suku bunga acuan. Di sisi lain, peran Bank Indonesia sebagai penyangga pasar obligasi melalui pembelian Surat Berharga Negara (SBN) yang kini menembus Rp2.000 triliun menjadi instrumen penting dalam menjaga likuiditas pasar.
Ke depan, mempertahankan peringkat layak investasi (investment grade) di level BBB menjadi agenda yang tidak kalah penting. Peringkat ini menjadi indikator vital bagi investor global untuk tetap menanamkan modalnya di Indonesia, sekaligus menjadi benteng pertahanan agar ekonomi nasional tidak terperosok ke dalam prospek negatif di tengah gejolak geopolitik global.