Bisnis & Startup

Demam Durian di Vietnam: Petani Beralih dari Kopi demi Cuan

Ringkasan

  • Petani kopi di Vietnam beralih ke durian untuk memenuhi lonjakan permintaan pasar China yang masif, mengubah lanskap pertanian dan menciptakan peluang ekonomi baru yang menjanjikan.

Petani di Dataran Tinggi Tengah Vietnam kini tengah mengalami pergeseran komoditas besar-besaran. Mereka berbondong-bondong meninggalkan budidaya kopi yang telah menjadi warisan turun-temurun, beralih menanam durian demi mengejar lonjakan permintaan pasar China. Fenomena ini mengubah lanskap pertanian di wilayah yang menyumbang sekitar seperenam dari total produksi kopi dunia tersebut.

Pham Xuan Lan, seorang petani di Dak Lak, menjadi salah satu bukti nyata transformasi ini. Setelah dua dekade mendiversifikasi lahannya, ia kini memiliki 400 pohon durian yang mampu menghasilkan 60 ton buah setiap musim. Baginya, kopi mungkin cukup untuk bertahan hidup, namun durian adalah komoditas yang menjanjikan kemakmuran finansial. Tahun ini, ia memproyeksikan pendapatan sebesar US$76.000, angka yang jauh melampaui US$10.000 yang ia peroleh saat masih fokus sepenuhnya pada kopi.

Lonjakan minat ini dipicu oleh protokol perdagangan tahun 2022 yang membuka pintu lebar bagi durian Vietnam ke pasar China. Dalam waktu singkat, Vietnam berhasil menggeser dominasi Thailand yang selama dua dekade memegang kendali atas ekspor durian ke Negeri Tirai Bambu. Data menunjukkan bahwa luas lahan durian di Vietnam melonjak lima kali lipat dalam satu dekade terakhir, mencapai 200.000 hektare secara nasional.

Permintaan China tidak lepas dari peran media sosial. Video viral di platform seperti Douyin, yang menampilkan konten kreator menikmati durian, telah ditonton miliaran kali. Tren ini mengubah persepsi durian dari sekadar buah eksotis menjadi camilan mewah yang populer di kalangan generasi muda China. Akibatnya, impor durian China melonjak hampir 12 kali lipat sejak 2015, mencapai nilai US$7,5 miliar pada tahun lalu.

Di sisi lain, ambisi China untuk memproduksi durian sendiri di Pulau Hainan belum mampu menggoyahkan ketergantungan mereka pada pasokan Asia Tenggara. Ahli pertanian setempat mengakui bahwa produksi domestik hanyalah pelengkap dan belum bisa menandingi kualitas maupun kuantitas dari Vietnam atau Thailand. Hal ini membuat posisi Vietnam tetap krusial dalam rantai pasok global durian.

Bagi Indonesia, fenomena ini merupakan pengingat keras mengenai dinamika pasar ekspor. Sebagai salah satu produsen durian terbesar, Indonesia memiliki potensi serupa namun masih menghadapi tantangan dalam standardisasi kualitas dan efisiensi logistik. Vietnam menunjukkan bagaimana birokrasi perdagangan melalui protokol resmi dan integrasi rantai pasok yang masif bisa mendongkrak ekspor secara instan hingga mencapai US$4 miliar pada tahun ini.

Namun, ketergantungan pada satu pasar utama seperti China membawa risiko besar. Pemerintah Vietnam sendiri telah mengeluarkan peringatan mengenai potensi kelebihan pasokan (oversupply) dan penurunan standar kualitas. Pengalaman petani di Malaysia yang sempat mengalami kejatuhan harga akibat panen raya menjadi pengingat bahwa durian bukanlah investasi tanpa celah.

Budidaya durian ternyata jauh lebih kompleks dibandingkan kopi. Petani dituntut memiliki ketelitian tinggi dalam mengatur kelembapan, sistem irigasi, dan penggunaan pupuk. Beberapa petani yang nekat beralih sepenuhnya tanpa persiapan matang justru mengalami kegagalan dan kerugian besar. Seperti diungkapkan oleh seorang petani bernama Hung, kembali ke komoditas lama terkadang menjadi pilihan yang lebih masuk akal setelah menyadari kerasnya persaingan kualitas di pasar ekspor.

Teknologi pertanian mulai menjadi pembeda bagi petani yang berhasil. Penggunaan sensor untuk memantau curah hujan, kelembapan tanah, dan suhu menjadi standar baru di tengah ancaman perubahan iklim yang kian ekstrem. Tanpa adopsi teknologi, petani durian akan sulit mempertahankan konsistensi produksi yang diminta oleh pasar premium internasional.

Ke depan, persaingan di pasar durian diprediksi akan semakin ketat seiring dengan bertambahnya jumlah petani yang terjun ke sektor ini. Keberhasilan tidak lagi hanya bergantung pada ketersediaan lahan, melainkan pada kemampuan menjaga kualitas buah agar tetap kompetitif di tengah membanjirnya pasokan. Strategi diversifikasi, seperti yang dilakukan Lan dengan tetap mempertahankan sebagian lahan kopinya, mungkin menjadi kunci mitigasi risiko terbaik bagi para petani di masa depan.

Mengapa Ini Penting

Berita ini krusial bagi Indonesia sebagai produsen buah tropis untuk mengevaluasi strategi ekspor durian ke China. Keberhasilan Vietnam menunjukkan pentingnya diplomasi perdagangan (protokol resmi) dan standardisasi kualitas. Indonesia perlu belajar bahwa mengandalkan volume saja tidak cukup tanpa kontrol kualitas yang ketat dan adopsi teknologi pertanian untuk menghadapi perubahan iklim.

Sumber Asli
Channel NewsAsia
Tanggal
30 Agustus 2026
Waktu Baca
4 menit