Dunia pers Indonesia kembali berduka. Anggota Dewan Kehormatan Persatuan Wartawan Indonesia (PWI), Diapari Sibatangkayu Harahap, dilaporkan telah meninggal dunia pada Sabtu (4/7). Kabar duka ini dikonfirmasi langsung oleh mantan Pemimpin Umum Perum LKBN ANTARA, Asro Kamal Rokan, yang juga menjabat sebagai anggota Dewan Penasihat PWI.
Menurut keterangan yang diberikan oleh Asro Kamal Rokan di Jakarta, Minggu, almarhum mengembuskan napas terakhirnya pada pukul 10.40 WIB saat menjalani perawatan medis di RS Polri, Jakarta. Kepergian sosok senior di dunia jurnalistik ini tentu meninggalkan kesedihan mendalam bagi rekan-rekan sejawat serta insan pers tanah air.
Asro Kamal Rokan mengenang almarhum sebagai sosok yang memiliki kepribadian unik dan berintegritas tinggi. Di mata Asro, Diapari dikenal sebagai pribadi yang santun dalam bertutur kata, namun memiliki ketegasan yang luar biasa ketika berbicara mengenai prinsip-prinsip dasar jurnalistik, terutama dalam hal penegakan etika profesi.
Lebih lanjut, Asro menekankan bahwa bagi Diapari, etika jurnalistik adalah harga mati yang tidak bisa ditawar. Integritas almarhum dalam menjaga marwah profesi wartawan menjadi teladan bagi generasi penerus di tengah dinamika media massa yang terus berubah dan penuh dengan tantangan etika.
Selain kiprahnya di dunia pers, Diapari Sibatangkayu Harahap juga dikenal sebagai seniman yang berbakat. Ia tercatat sebagai pencipta lagu, salah satunya adalah Mars Persatuan Tinju Amatir Indonesia (Pertina) yang berjudul 'Jayalah Pertina'. Karya ini menjadi bukti dedikasi almarhum di luar bidang jurnalistik yang ia tekuni.
Semasa hidupnya, almarhum juga aktif dalam dunia musik daerah. Bersama grup Trio Harahap, ia menciptakan dan membawakan sejumlah lagu berbahasa Mandailing yang cukup populer, di antaranya adalah 'Rap Ra Ra Ro', 'Sidimpuan Nauli', dan 'Boru Ni Namora'. Karya-karya musiknya kini masih dapat dinikmati masyarakat melalui berbagai platform digital, sebagai kenangan abadi bagi sosok yang multi-talenta ini.