Wakil Menteri Koordinator Bidang Pangan, Hanif Faisol Nurofiq, secara resmi mendorong Pemerintah Kabupaten Ponorogo, Jawa Timur, untuk terus menggenjot produktivitas sektor pertanian, khususnya jagung dan padi. Langkah ini diambil sebagai upaya strategis dalam memperkuat program swasembada pangan nasional yang saat ini terus menunjukkan tren positif. Hanif menilai bahwa Ponorogo memiliki potensi agraris yang sangat besar dengan dukungan lahan pertanian seluas 35 ribu hektare serta indeks pertanaman yang mencapai tiga kali dalam setahun.
Dalam kunjungan kerjanya, Hanif menekankan pentingnya adopsi teknologi pertanian modern untuk meningkatkan efisiensi dan daya saing hasil panen. Menurutnya, metode pertanian konvensional tidak lagi relevan jika Indonesia ingin mencapai target ketahanan pangan yang kuat. Keterlibatan generasi muda dalam ekosistem pertanian diharapkan mampu membawa perubahan signifikan dalam pemanfaatan teknologi, sehingga proses produksi menjadi lebih presisi dan hasil panen lebih maksimal.
Sebelumnya, Wamenko Pangan telah melakukan panen raya jagung bersama Pelaksana Tugas (Plt) Bupati Ponorogo, Lisdyarita, di lahan Perhutani, Kelurahan Ronosentanan. Kawasan seluas 198 hektare tersebut menjadi bukti nyata kontribusi daerah dalam rantai pasok pangan nasional. Pemerintah pusat menegaskan komitmennya untuk menghentikan impor beras dan jagung, sehingga sinergi dengan pemerintah daerah menjadi kunci utama dalam menjaga stabilitas ketersediaan pangan di seluruh wilayah Indonesia.
Data menunjukkan bahwa produksi jagung nasional pada tahun 2025 telah mencapai angka 16,16 juta ton untuk jagung pipilan kering dengan kadar air 14 persen. Pemerintah telah menetapkan Harga Pembelian Pemerintah (HPP) di tingkat petani sebesar Rp5.500 per kilogram guna menjaga kesejahteraan produsen. Sementara itu, untuk komoditas beras, produksi nasional telah menembus angka 34,69 juta ton, jauh melampaui kebutuhan konsumsi domestik yang berkisar di angka 30 hingga 32 juta ton per tahun.
Plt Bupati Ponorogo, Lisdyarita, menyambut baik dorongan tersebut dan menegaskan bahwa pertanian tetap menjadi tulang punggung ekonomi daerah. Sepanjang tahun 2025, Ponorogo mencatatkan luas panen jagung sebesar 39 ribu hektare dengan total produksi 284 ribu ton, serta luas panen padi 74 ribu hektare dengan produksi 436 ribu ton. Capaian ini menempatkan Ponorogo sebagai salah satu lumbung pangan utama di Jawa Timur dengan Indeks Ketahanan Pangan yang impresif, yaitu di angka 71,22 poin.
Menutup arahannya, Pemerintah Kabupaten Ponorogo berkomitmen untuk terus memberikan pendampingan intensif kepada para petani. Fokus utama ke depan meliputi penguatan sarana produksi, optimalisasi lahan tidur, serta inovasi berkelanjutan. Dengan dukungan penuh dari pemerintah pusat dan daerah, diharapkan kontribusi Ponorogo terhadap ketahanan pangan nasional akan terus meningkat secara signifikan di masa mendatang, sekaligus menjamin stabilitas harga pangan bagi masyarakat luas.