Internasional

DMI dan Dewan Imam Australia Perkuat Kolaborasi Kelola Masjid

Ringkasan

  • Ketua Umum DMI Jusuf Kalla menerima Presiden Dewan Imam Australia di Jakarta untuk memperkuat kerja sama pelatihan dan pertukaran imam guna memajukan pengelolaan masjid.

Ketua Umum Dewan Masjid Indonesia (DMI) Jusuf Kalla secara langsung menerima kunjungan silaturahmi dari Presiden Dewan Imam Nasional Australia, Sheikh Shadi Al Suleiman, di Kantor Pusat DMI, Jalan Matraman, Jakarta Timur. Pertemuan yang berlangsung pada hari Rabu tersebut menjadi tonggak baru bagi hubungan kelembagaan antara organisasi Islam di Indonesia dan komunitas Muslim di Australia.

Fokus utama dalam diskusi tersebut adalah penguatan kerja sama lintas negara melalui pelatihan, pertukaran imam, serta harmonisasi sistem pengelolaan masjid. JK menegaskan bahwa pola hubungan antarumat dan organisasi keagamaan seperti ini sudah menjadi kebiasaan yang harus terus dibina demi kemaslahatan bersama di tengah dinamika global.

Perkembangan komunitas Muslim di Australia mengalami lonjakan signifikan dalam dua dekade terakhir. Hal ini ditopang oleh arus imigran dari berbagai negara yang menjadikan Islam sebagai bagian tak terpisahkan dari masyarakat multikultural Australia. Saat ini, terdapat sekitar 400 masjid yang beroperasi di seluruh penjuru Australia, berfungsi sebagai pusat aktivitas spiritual sekaligus sosial umat yang saling terhubung.

Di sisi lain, Indonesia memiliki jaringan masjid yang jauh lebih masif. DMI mencatat terdapat 800 ribu masjid yang tersebar dari Sabang hingga Merauke. Sheikh Shadi Al Suleiman menyebut angka tersebut sebagai sebuah pencapaian luar biasa yang patut dipelajari sistem kelembagaannya. Pengelolaan dalam skala raksasa seperti ini menuntut strategi distribusi sumber daya yang efektif, terukur, dan berkelanjutan agar tidak hanya berfungsi sebagai tempat ibadah semata.

Kunjungan ini bukan sekadar seremoni diplomatik biasa. Ada urgensi nyata bagi Australia untuk belajar dari pengalaman Indonesia dalam merawat toleransi dan moderasi beragama. Mengingat umat Islam di Australia merupakan kelompok minoritas, keberadaan masjid harus dapat beradaptasi dengan lingkungan sekuler tanpa kehilangan identitas ajaran Islam yang rahmatan lil alamin.

Bagi Indonesia, kolaborasi ini menjadi instrumen diplomasi budaya yang sangat efektif. Indonesia sering kali dipandang sebagai rujukan global untuk model Islam yang moderat dan harmonis. Melalui DMI, Indonesia dapat menularkan praktik tata kelola masjid yang inklusif, sekaligus menunjukkan bahwa rumah ibadah dapat berfungsi sebagai pusat peradaban masyarakat luas yang mendukung kemajuan ekonomi dan sosial.

Meskipun jumlah masjid di Indonesia sangat fantastis, tantangan pengelolaan profesional masih kerap ditemui di level lokal. Banyak masjid di tanah air yang belum tersentuh sistem administrasi modern atau pemanfaatan teknologi informasi untuk pembukuan dana dan jadwal kegiatan. Kerja sama dengan Australia, yang memiliki keterbatasan jumlah namun tinggi dalam standar manajemen komunitas, bisa menjadi ajang transfer pengetahuan dua arah yang saling menguntungkan. Pengalaman Australia dalam mengelola masjid minoritas dengan pendekatan inklusif dapat menginspirasi masjid di Indonesia untuk lebih berperan dalam isu sosial kemasyarakatan.

Sheikh Shadi menilai peran DMI dalam mengelola jaringan masjid di Indonesia merupakan hal yang luar biasa. 'Sangat penting bahwa kita mencoba membawa masjid bersama dan menyatukan aktivitas mereka agar mencapai tujuan yang sama. Membawa 800 ribu masjid di Indonesia adalah sesuatu yang indah,' ujar dia dalam pertemuan tersebut. Ia menekankan bahwa masjid adalah rumah Allah yang menyambut semua pihak.

JK menambahkan bahwa pertumbuhan Islam di Australia sangat besar karena keberagaman Muslim yang berasal dari banyak negara imigran. 'Hubungan antara umat dan organisasi itu biasa kita lakukan, seperti pelatihan-pelatihan, tukar-menukar imam dan sebagainya. Itu bisa dilakukan,' ucap JK. Menurutnya, silaturahmi ini akan mempererat tali persaudaraan antarnegara.

Ke depan, kolaborasi ini diproyeksikan akan berujung pada penandatanganan kesepakatan kerja sama yang lebih terikat dan terstruktur. Pertukaran pengetahuan akan menyentuh aspek teknis pengelolaan, seperti pelatihan imam muda dan digitalisasi administrasi masjid. Australia berharap dapat berbagi sumber daya untuk mendapatkan pengetahuan yang lebih baik tentang operasional masjid yang memberi manfaat nyata bagi masyarakat luas.

Tren globalisasi komunitas Muslim menuntut masjid untuk bertransformasi dari sekadar tempat ibadah menjadi pusat solusi permasalahan sosial. Hubungan antara Australia dan Indonesia, dari negara ke negara hingga umat ke umat, akan semakin relevan di masa depan. Kolaborasi ini juga akan membuka peluang bagi lembaga pendidikan keagamaan di kedua negara untuk berkolaborasi dalam riset tata kelola peradaban. Muslim Indonesia menjadi contoh bukan hanya untuk Australia, tetapi juga untuk peradaban dunia dalam menjaga kedamaian dan kerukunan.

Mengapa Ini Penting

Kolaborasi ini menegaskan posisi Indonesia sebagai kekuatan soft power dalam diplomasi agama global, terutama dalam menyebarkan Islam moderat di negara Barat. Pengelolaan 800 ribu masjid di Indonesia menghadapi tantangan modernisasi, sehingga transfer pengetahuan dari sistem manajemen minoritas Australia dapat menjadi katalis penerapan tata kelola berbasis data. Ke depan, sinergi lintas negara ini berpotensi melahirkan standar operasional masjid yang lebih profesional dan inklusif di Asia Pasifik. Masyarakat Indonesia secara tidak langsung akan merasakan dampaknya melalui peningkatan kualitas layanan sosial di rumah ibadah lokal.

Sumber Asli
Antara News Terkini
Tanggal
15 Juli 2026
Waktu Baca
5 menit