Badan statistik China mengumumkan produk domestik bruto (PDB) pada kuartal kedua 2026 hanya tumbuh 4,3 persen secara tahunan, melambat dari 5 persen di kuartal pertama. Angka tersebut menjadi yang terendah dalam lebih dari tiga tahun terakhir sekaligus berada di bawah batas bawah target pertumbuhan tahunan pemerintah yang dipatok pada rentang 4,5 hingga 5 persen.
Data yang dipublikasikan pada 15 Juli 2026 di Beijing itu memperlihatkan ketimpangan struktural yang kian tajam. Sektor manufaktur dan ekspor masih mencatatkan performa gemilang, sementara konsumsi rumah tangga serta investasi domestik justru merosot tajam. Penjualan ritel naik tipis 1 persen pada Juni, sedangkan output industri mengembang 5,3 persen, gambaran bahwa mesin pertumbuhan negara itu bertumpu pada permintaan global alih-alih pasar dalam negeri.
Kondisi ini bukan kejutan mendadak, melainkan akumulasi dari berbagai tekanan sejak krisis properti meluas pada 2021. Penurunan harga rumah dan investasi properti yang kontraksi 18 persen secara tahunan pada semester pertama telah menggerus kekayaan keluarga sekaligus memangkas lapangan kerja di konstruksi. Di saat yang sama, upah pekerja tidak mengikuti laju ekonomi makro dan bahkan turun di beberapa sektor.
Lebih buruk lagi, kelebihan kapasitas industri, tarif Amerika Serikat, dan perang harga antarprodusen memicu gelombang pemutusan hubungan kerja di pabrik. Adopsi kecerdasan buatan (AI) yang cepat turut memperlambat penciptaan lapangan kerja bagi pekerja kerah putih. Puluhan juta orang terlempar dari pekerjaan formal ke ekonomi gig, mengandalkan platform ojek online dan pengantaran dengan penghasilan minim serta jaminan sosial rentan.
Pemerintah daerah yang selama ini menjadi motor investasi manufaktur dan infrastruktur kini terpaksa mengerem belanja karena tekanan fiskal. Investasi aset tetap menyusut 5,7 persen secara tahunan pada Januari-Juni, bahkan investasi sektor negara turun 2,3 persen. Kondisi ini mempertegas bahwa lambatnya laju perekonomian tidak sekadar soal angka, tetapi soal komposisi pertumbuhan yang tidak sehat.
Bagi Indonesia, perlambatan ekonomi raksasa Asia itu membawa implikasi ganda. Di satu sisi, permintaan China terhadap komoditas seperti batu bara, nikel, dan kelapa sawit bisa melemah jika konsumsi dan industri pengolahan mereka terus lesu, berpotensi menekan neraca perdagangan kita. Di sisi lain, ekspor manufaktur China yang masih ekspansif didorong oleh ledakan AI justru memperbesar banjir impor barang teknologi murah ke Tanah Air, memperebutkan pangsa pasar produk lokal.
Startup dan perusahaan teknologi Indonesia juga merasakan dampak tidak langsung. Ketergantungan pada perangkat keras serta solusi AI buatan China semakin tinggi karena harga kompetitif, namun hal ini memicu tantangan bagi ekosistem dalam negeri untuk berinovasi tanpa perlindungan. Berbeda dengan China yang mengandalkan dorongan ekspor, pertumbuhan Indonesia masih ditopang konsumsi domestik yang relatif resilien, meski kita dihadapkan pada tantangan defisit transaksi berjalan.
Analis menilai ketimpangan struktural China menawarkan pelajaran berharga bagi Jakarta: pertumbuhan yang hanya mengandalkan sektor eksternal atau industri tertentu rawan patah saat guncangan global terjadi. Penguatan daya beli masyarakat serta reformasi pasar tenaga kerja menjadi kunci supaya momentum ekonomi tidak mudah goyah.
Salah satu gambaran nyata dari lesunya konsumsi tampak pada Jane Hou, pengusaha importir barang Eropa di China timur. Pendapatannya anjlok separuh sejak awal tahun karena penjualan merosot, sementara apartemen sewaannya menganggur lebih dari enam bulan. “Selain kebutuhan pangan, saya menahan pengeluaran apa pun. Saya tidak membeli sehelai pakaian pun dalam enam bulan,” ujar Hou.
Cerita serupa datang dari Emma Cheng, perawat 28 tahun di Guilin, provinsi dengan fiskal lemah. Ia menyebut penghasilannya “jatuh dari tebing” akibat pemotongan anggaran sektor kesehatan. Dahulu ia rutin membeli langganan layanan streaming hingga gadget baru, kini ia berhenti berbelanja non-pokok. Zhiwei Zhang, ekonom Pinpoint Asset Management, menambahkan bahwa pemerintah China tampak enggan menambah defisit fiskal karena ekspor masih kuat.
Perhatian kini tertuju pada rapat Politbiro Partai Komunis akhir Juli 2026 yang akan mengevaluasi kondisi ekonomi dan menyetel kebijakan. Banyak ekonom meragukan akan ada stimulus besar, mengingat pertumbuhan semester pertama 4,7 persen masih dalam rentang target. Namun Larry Hu dari Macquarie Group menegaskan bahwa saat ekspor gagal, barulah Beijing akan beralih agresif ke permintaan domestik.
Tommy Xie dari OCBC memproyeksikan PDB China akan berada di kisaran 4,5–4,6 persen pada paruh kedua tahun ini, ditopang ekspor perangkat AI yang tangguh meski permintaan dalam negeri tetap seret. Risiko eksternal seperti berakhirnya tarif 10 persen AS pada 24 Juli dan investigasi kerja paksa Uni Eropa dapat mengubah peta perdagangan global. Transisi menuju pertumbuhan berimbang menjadi ujian panjang bagi ekonomi terbesar kedua dunia tersebut.