Empat nama resmi masuk sebagai kandidat calon Direktur Jenderal Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), menggantikan Tedros Adhanom Ghebreyesus. Keempat kandidat ini masing-masing diusulkan oleh negara anggota WHO, yaitu Qatar, Arab Saudi, Belgia, dan Indonesia. Pengumuman resmi dilakukan melalui laman resmi WHO pada Selasa, 25 Agustus 2026.
Kandidat dari Indonesia adalah Menteri Kesehatan Republik Indonesia, Budi Gunadi Sadikin. Ia termasuk dalam daftar kandidat yang diumumkan setelah melalui proses seleksi internal oleh Dewan Eksekutif WHO. Keempat kandidat ini akan menjalani proses seleksi lebih lanjut sebelum akhirnya dipilih oleh Majelis Direksi WHO.
Proses pemilihan ini penting karena WHO sedang berada di ambang perubahan pasca-pandemi. Tedros yang telah menjabat sejak 2017 akan segera usai masa jabatannya. Di bawah kepemimpinannya, WHO berhasil meningkatkan visibilitas organisasinya, namun juga sempat menuai kritik terkait penanganan pandemi dan komunikasi publiknya.
Budi Gunadi Sadikin menjadi kandidat yang cukup berbeda dari tiga kandidat lainnya. Ia tidak memilama pendidikan di bidang kesehatan, melainkan latar belakang di sektor perbankan dan korporasi. Sebelum menjadi Menkes, ia pernah menjadi Direktur Utama Bank Mandiri dari 2013 hingga 2016, kemudian pula menjabat sebagai Presiden Direksi PT Indonesia Asahan Aluminium (Inalum).
Meski demikian, pengalamannya sebagai Menkes selama masa pandemi Covid-19 menjadi nilai tambah. Sejak 2020, ia berhasil memimpin Indonesia melalui gelombang pandemi yang tak terduga. Kebijakannya terkait vaksinasi massal dan penanganan rumah sakit jadi acuan banyak pihak.
Di sisi lain, tiga kandidat lainnya semuanya memiliki latar belakang medis dan pengalaman panjang di bidang kesehatan. Hanan Mohammed Al-Kuwari dari Qatar pernah menjadi Menteri Kesehatan dan juga anggota Dewan Eksekutif WHO. Hanan Balkhy dari Arab Saudi saat ini menjabat sebagai Direktur Regional WHO untuk Mediterania Timur. Hans Henri P. Kluge dari Belgia telah lama berkarier di WHO, bahkan sejak 1999.
Ketiganya semua memiliki pengalaman internasional yang luas. Mereka pernah memimpin berbagai inisiatif global, termasuk terkait resistensi antimikroba, tuberculosis, dan penanganan wabah. Pengalaman mereka di berbagai negara memberi mereka perspektif global yang luas.
Bagi Indonesia, keikutsertaan Budi Gunadi sebagai kandidat ini menandakan pentingnya peran Indonesia di dunia kesehatan global. Indonesia merupakan negara dengan jumlah penduduk terbesar keempat di dunia, sehingga suaranya cukup penting dalam pengambilan keputusan global.
Kehadiran seorang Menkes Indonesia di kalangan kandidat juga menunjukkan bahwa pengalaman menghadapi pandemi secara nyata bisa menjadi nilai tambah. Indonesia berhasil mengelola pandemi relatif baik dibandingkan banyak negara lain, meski masih ada ruang untuk perbaikan.
Proses pemilihan ini diproyeksikan berlangsung selama beberapa bulan ke depan. WHO akan mengadakan forum khusus untuk para kandidat, termasuk debat terbuka dan presentasi kebijakan. Dewan Eksekutif WHO kemudian akan memberikan rekomendasi sebelum akhirnya keputusan akhir dibuat oleh Majelis Direksi.
Para ahli mengatakan, kandidat yang berhasil harus mampu menyeimbangkan antara kebijakan global dan kebutuhan lokal. Pandemi telah membuktikan bahwa kesehatan global tidak bisa dipisahkan dari sistem kesehatan nasional masing-masing negara.
Sejauh ini, belum diketahui secara pasti kapan proses akhir pemilihan akan selesai. Namun, diharapkan WHO dapat memilih seorang pemimpin baru yang mampu membawa organisasi ke tahap berikutnya, terutama di tengah tantangan baru seperti perubahan iklim dan ancaman zoonosis.