Pasukan Amerika Serikat melancarkan serangan udara intensif yang menghancurkan setidaknya enam jembatan utama di Iran pada Kamis (16/7) lalu. Serangan yang berlangsung untuk malam kelima berturut-turut ini menargetkan jaringan jembatan di Provinsi Hormozgan, tepatnya di Distrik Bandar Khamir, di sebelah barat Bandar Abbas. Jaringan jalan yang dihancurkan tersebut merupakan jalur vital yang menghubungkan pelabuhan komersial terbesar Iran dan pangkalan angkatan laut utama Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) dengan wilayah pedalaman.
Jembatan pertama yang diserang adalah Jembatan Kahurestan, yang terletak di kawasan Kahurestan. Jembatan ini merupakan bagian dari koridor utama yang menghubungkan Bandar Abbas dengan provinsi Hormozgan dan Fars di pedalaman. Gangguan pada struktur ini tidak hanya menghambat lalu lintas sipil tetapi juga aliran barang komersial yang masuk dan keluar dari pelabuhan utama tersebut. Menurut laporan kantor berita semi-resmi Iran, Tasnim, serangan tersebut menyebabkan sejumlah korban jiwa ketika sebuah kendaraan jatuh dari jembatan.
Jembatan Geriveh juga menjadi sasaran. Jembatan ini membentang di atas jalan raya utama timur‑barat Bandar Abbas‑Bandar Khamir‑Lar, yang menjadi jalur transportasi penting untuk pergerakan orang dan barang antara pantai Teluk dan pedalaman Iran selatan. Dengan demikian, jembatan ini berfungsi sebagai pintu gerbang logistik yang krusial bagi aktivitas perdagangan regional.
Di dekat desa Latidan, Jembatan Latidan mengalirkan lalu lintas di sepanjang koridor pantai yang sama, di sisi barat Bandar Abbas. Jembatan ini menyediakan jalur alternatif yang mendukung konektivitas jalan antarwilayah, terutama antara Bandar Abbas dan Bandar Khamir. Meski tidak sebesar jembatan utama lainnya, perannya sebagai jalur pengaman sangat vital.
Serangan udara juga menghantam dua jembatan kecil di wilayah Fars. Kedua struktur tersebut merupakan bagian dari jalan raya yang menghubungkan Bandar Abbas dengan kota Lar di provinsi Fars yang berdekatan. Keduanya membantu menjaga kelancaran arus lalu lintas di salah satu jalur utama Iran selatan yang menghubungkan pantai dengan kota-kota di pedalaman.
Jembatan Bandar Khamir, yang masih dalam tahap pembangunan, juga hancur. Terletak di jalan Bandar Khamir‑Keshar‑Bandar Abbas, jembatan ini direncanakan untuk meningkatkan kapasitas transportasi dan mengurangi kemacetan di wilayah barat Hormozgan. Meski belum beroperasi, pembangunannya dianggap strategis untuk masa depan.
Jembatan Marou, yang melayani desa-desa di Distrik Bandar Khamir, menjadi penghubung masyarakat setempat ke jaringan jalan yang lebih luas menuju Bandar Abbas. Meski secara strategis kurang signifikan dibandingkan persimpangan jalan raya, jembatan ini tetap penting untuk transportasi dan akses lokal.
Serangan tersebut dilakukan dengan tujuan memutus jalur pasokan militer yang menurut Washington digunakan Iran untuk mendukung serangan pesawat tanpa awak terhadap kapal-kapal di Selat Hormuz. Pejabat AS berargumen bahwa penargetan infrastruktur ini merupakan bagian dari upaya untuk melemahkan kemampuan operasional Teheran. Eskalasi ini menandai pertikaian militer terburuk sejak gencatan senjata yang disepakati Washington dan Tehran lebih dari tiga bulan lalu, dengan Presiden Donald Trump menyatakan bahwa nota kesepahaman tersebut telah berakhir.
"Pada pukul 14.00 zona waktu timur hari ini, pasukan AS mulai melakukan gelombang serangan baru terhadap Iran untuk malam kelima berturut-turut untuk lebih melemahkan kemampuan militer Iran," kata CENTCOM melalui pernyataan yang dilansir Anadolu Agency, Jumat (17/7). Pernyataan ini menegaskan bahwa operasi militer terus berlanjut dengan intensitas tinggi.
Bagi Indonesia, peristiwa ini membawa perhatian pada pentingnya menjaga stabilitas jalur maritim strategis. Indonesia mengandalkan Selat Malaka sebagai jalur utama perdagangan internasional, dan gangguan di Selat Hormuz dapat berdampak pada fluktuasi harga minyak global yang pada gilirannya memengaruhi ekonomi nasional. Selain itu, serangan terhadap infrastruktur transportasi darat mengingatkan Indonesia akan kerentanan jaringan logistik dalam negeri yang juga menghubungkan pelabuhan-pelabuhan utama dengan wilayah pedalaman. Belajar dari kasus Iran, Indonesia perlu memastikan bahwa jalur transportasi vitalnya terlindungi dari potensi gangguan, baik akibat konflik regional maupun ancaman lainnya.
Ke depan, dinamika ini dapat memicu peningkatan pengawasan terhadap aktivitas di perairan sekitarnya dan mendorong kerja sama pertahanan regional yang lebih erat. Indonesia mungkin akan mempertimbangkan untuk memperkuat sistem pertahanan pantai dan meningkatkan koordinasi intelijen maritim guna mengantisipasi gangguan serupa. Sementara itu, pasar energi global akan terus memantau perkembangan situasi di Iran, karena kerusakan pada infrastruktur transportasi darat dapat memperburuk ketegangan yang sudah ada dan berpotensi mengganggu aliran minyak melalui Selat Hormuz.
Secara keseluruhan, serangan AS terhadap enam jembatan di Iran tidak hanya menimbulkan dampak militer langsung tetapi juga menciptakan efek berantai pada ekonomi regional dan global. Bagi Indonesia, hal ini menjadi pengingat pentingnya menjaga ketahanan infrastruktur dan diversifikasi sumber energi untuk mengurangi risiko dari ketidakstabilan di kawasan sensitif secara geopolitik.