Fenerbahce telah menyelesaikan rekrutan besar mereka di musim panas ini dengan mengamankan jasa Mason Greenwood dari Olympique de Marseille. Klub berbasis Istanbul itu mengonfirmasi kesepakatan telah dicapai dengan kedua belah pihak, pemain dan klub Prancis, Senin (14/7) malam waktu setempat. Nilai transfer €39 juta, setara Rp 670 miliar, akan dilunasi dalam tiga angsuran setara per tahun, sementara biaya solidaritas FIFA ditanggung sepenuhnya oleh Fenerbahce.
Keputusan Greenwood berpindah ke Liga Turki menandai babak baru dalam karier kontroversial sang striker. Pemain berusia 24 tahun itu hanya menghabiskan satu musim di Stade Vélodrome setelah meninggalkan Manchester United pada Juli 2024. Di Prancis, ia mencatatkan 37 gol liga dari 66 penampilan — statistik yang membuktikan kemampuan finishing-nya tetap tajam meski harus bangkit dari tekanan luar lapangan.
Perjalanan Greenwood ke Turki tidak terlepas dari sejarah kelam di Old Trafford. Januari 2022, ia ditangkap polisi Manchester atas dugaan kekerasan seksual dan ancaman membunuh. Meskipun kasus dibatalkan Februari 2023 karena bukti tidak memadai, United memutuskan tidak mengembalikan pemain akademi mereka itu ke tim utama. Pinjaman ke Getafe musim 2023/2024 menjadi jembatan sebelum Marseille mempertaruhkan masa depannya dengan kontrak lima tahun.
Di Marseille, Greenwood menemukan stabilitas di bawah pelatih Roberto De Zerbi. Sistem 3-4-2-1 memanfaatkan kecepatan dan kemampuan satu lawan satu Greenwood di sayap kanan, sering kali bergerak ke tengah untuk menciptakan peluang. 17 gol dan 5 assist di Ligue 1 musim lalu membuatnya menjadi penyerang paling efisien di luar Paris Saint-Germain. Performa itu menarik minat klub-klub Premier League, namun Fenerbahce yang paling cepat bertindak.
Bagi Fenerbahce, kedatangan Greenwood adalah jawaban atas kelamannya lini depan musim lalu. Edin Dzeko yang berusia 38 tahun tidak bisa memainkan 90 menit penuh setiap pekan, sementara Youssef En-Nesyri sering kali tersandung cedera. Manajer sportif Mario Branco melihat Greenwood sebagai solusi jangka panjang: cukup muda untuk dikembangkan, sudah terbukti di level Eropa, dan memiliki kelapangan kontrak yang masih panjang.
Nilai €39 juta menjadikan Greenwood transfer termahal kedua dalam sejarah Fenerbahce, hanya kalah dari pembelian Dimitris Pelkas dari PAOK pada 2020 yang bernilai €40 juta. Namun, skema pembayaran bertahap memberikan kelonggaran *cash flow* bagi klub yang sedang menata keuangan agar mematuhi aturan *Financial Fair Play* UEFA. Angsuran pertama €13 juta dibayar tahun ini, sisanya dua tahun mendatang.
Pelatih Jose Mourinho — yang baru resmi memimpin Fenerbahce Juni lalu — dikenal sangat selektif dalam rekrutan. *Special One* menginginkan pemain dengan mentalitas juara dan kemampuan teknis tinggi. Greenwood, yang pernah dilatih Mourinho di tim muda United, dipandang cocok dengan filosofi *counter-attacking* yang jadi trademark pelatih Portugal itu. Hubungan lama keduanya jadi nilai tambah dalam proses negosiasi.
Reaksi suporter Fenerbahce beragam. Sebagian besar menyambut gembira kehadiran bakat berkelas dunia, tapi segelintir mengkritik *baggage* moral yang dibawa Greenwood. Petisi online menolak rekrutan ini pernah beredar di media sosial, mengumpulkan puluhan ribu tanda tangan. Manajemen klub menjawab dengan pernyataan resmi bahwa klub telah melakukan *due diligence* menyeluruh dan percaya Greenwood berhak mendapat kesempatan kedua setelah proses hukum berakhir.
Di sisi Marseille, kepergian Greenwood menciptakan celah besar di formasi De Zerbi. Klub Prancis kini harus mencari pengganti dengan anggaran terbatas karena *Financial Fair Play* liga Prancis yang ketat. Presiden Pablo Longoria sudah menargetkan beberapa nama, termasuk Jonathan David dari Lille dan Elye Wahi dari Lens, tapi keduanya memiliki harga pasar di atas €40 juta. Marseille mungkin harus puas dengan pinjaman atau pemain bebas transfer.
Liga Turki musim depan diprediksi akan lebih kompetitif dengan hadiahnya Greenwood. Galatasaray, Beşiktaş, dan Trabzonspor juga memperkuat tim masing-masing. Galatasaray merekrut Victor Osimhen secara pinjaman dari Napoli, Beşiktaş membawa Ciro Immobile dari Lazio, sementara Trabzonspor mengandalkan Simon Banza. Greenwood akan bersaing langsung dengan Osimhen dalam perebutan *top scorer* — duel yang akan menarik perhatian penonton global ke Liga Turki.
Bagi Greenwood sendiri, pindah ke Istanbul adalah kesempatan untuk menulis ulang narasi karirnya. Di usia 24 tahun, ia masih memiliki 5-6 tahun puncak performa. Jika berhasil membawa Fenerbahce meraih gelar liga pertama sejak 2014, stigma masa lalu akan semakin pudar. Mourinho, yang punya rekam jejak membangun tim juara di mana pun ia melangkah, bisa jadi mentor ideal untuk fase ini.
Transfer ini juga mengirim sinyal ke pasar Eropa: Liga Turki kini sanggup menarik bintang level *Champions League* dengan paket finansial yang kompetitif. Klub-klub Turki memanfaatkan keuntungan pajak yang lebih rendah dan daya beli euro yang kuat terhadap lira. Tren ini kemungkinan akan berlanjut musim depan, mengubah lanskap transfer Eropa yang selama ini didominasi Premier League, La Liga, dan Serie A.