Nasional

Gempa NTT Hancurkan Rumah, Keluarga di Panggil ke Kandang Babi

Gempa NTT Hancurkan Rumah, Keluarga di Panggil ke Kandang Babi

Ringkasan

  • Gempa di NTT menghancurkan rumah keluarga di Manggarai, memaksa sang istri dan tiganya tinggal di kandang babi setelah stok bantuan hampir habis.

Serangan gempa di Nusa Tenggara Timur belum lama ini menghancurkan rumah sekeluarga di Kampung Nara, Dusun Wancang, Kecamatan Cibal, Kabupaten Manggarai. Akibatnya, keluarga Seriani Wati Mengo dan suaminya Siprianus Baeng diturunkan ke dalam sebuah kandang babi yang sudah tidak lagi digunakan. Dengan tiga anaknya, keluarga ini kini terpaksa menghabiskan hari-harinya di antara reruntuhan dan stengah bangunan sempit yang dulunya hanya tempat memelihara hewan ternak.

Seriani, yang kini berusia sekitar 40-an, menceritakan betapa menyakitkannya nasib yang menimpa keluarganya. Rumah yang mereka bangun selama satu dekade setelah merantau ke Kalimantan itu musnah dalam hitungan detik. "Sebelumnya ini kandang babi, sekarang kami jadikan tempat tinggal," ujarnya kepada CNNIndonesia.com. "Rumah kami rusak berat, tak ada lagi tempat lain."

Mereka sempat mencoba mengungsi ke posko pengungsian sementara. Namun karena kondisinya yang masih sangat darurat, lengkap dengan debu, rawan hujan, dan tak layak huni, keluarga memilih untuk kembali memperbaiki kandang babi di pekarangan rumah. "Kami sempat di posko, tapi di sana juga belum layak," impalnya. "Takut hujan, banyak debu. Akhirnya kami pilih perbaiki kandang babi dan tinggal di sini."

Kehidupan sehari-hari kini semakin terjepit. Sebagai petani dan penenun, keduanya tak bisa lagi bekerja dengan normal. Di sisi lain, kebutuhan dasar seperti makan, obat-obatan, air bersih, hingga biaya sekolah ketiganya tetap harus dipenuhi. Stok beras bantuan pemerintah yang dulunya diterima kini hanya tersisa tiga kilogram. "Beras sisa bantuan tinggal tiga kilo," katanya cemas. "Kami tak bisa bekerja, padahal butuh makan. Kami butuh beras, obat-obatan, air bersih, belum lagi biaya sekolah anak-anak."

Yang tak kalah menyakitkan adalah masa depan pendidikan ketiga anaknya. Anak pertama sedang duduk di kelas III SMA, anak kedua di kelas II SMP, dan bungsu berusia enam tahun. Di tengah reruntuhan rumah, mereka terpaksa bertanya-tanya bagaimana cara menyekolahkan anak-anak ketika rumah sendiri sudah tak layak huni. "Kami sudah berpikir, bagaimana cara menyekolahkan anak kalau rumah saja sudah tak ada?" tanya Seriani.

Rumah yang runtuh itu bukanlah bangunan sembarangan. Ia adalah hasil perjuangan sepuluh tahun mereka merantau ke Kalimantan, menabung pelan-pelan demi kembali pulang dan membangun tempat bernaung di kampung halaman. Seluruh mimpi dan doa yang terkumpul selama satu dekade musnah dalam hitungan detik. "Sepuluh tahun kami merantau ke Kalimantan hanya untuk bangun rumah ini," tutur Seriani sambil menahan tangis. "Tapi sekejap gempa datang, semuanya hancur. Yang paling sedih, sekarak kami tinggal di kandang babi dan kandang ayam."

Di tengah keterbatasan dan kesedihan, satu harapan masih tersisa: agar pemerintah benar-benar turun ke lapangan, melihat kondisi nyata keluarga ini, dan memberikan bantuan yang konkret untuk membangun kembali rumah yang direnggut oleh bencana alam. "Kami berharap pemerintah bisa melihat langsung keadaan kami," harapnya. "Semoga ada bantuan untuk merenovasi rumah kami yang rusak berat."

Situasi ini juga memicu pertanyaan lebih luas mengenai betapa rentan komunitas miskin terhadap bencana alam. Di Indonesia sendiri, banyak keluarga di daerah rawan gempa atau bencana lainnya yang tidak memiliki sistem dukungan yang memadai untuk pulih sepenuhnya. Menurunnya jumlah bantuan, terutama beras, menjadi sinyal bahwa kebutuuan logistik belum optimal. Sehingga keluarga seperti Seriani terpaksa berbagi masa depan dengan hewan ternak yang tak lagi berguna.

Pemerintah daerah dan lembaga sosial perlu mengkaji ulang strategi pengungsian darurat. Posko yang tersedia belum memastikan standar layak huni. Terutama bagi keluarga dengan anak-anak sekolah. Tanpa dukungan pendidikan, masa depan generasi muda akan semakin terancam.

Di sisi lain, inisiatif swadaya masyarakat bisa menjadi solusi jangka pendek. Namun, untuk pemulihan jangka panjang, diperlukan kebijakan yang lebih inklusif. Termasuk akses ke perumahan layak huni dan program mikrountuk kemandirian ekonomi pasca-bencana.

Pemerintah juga perlu memastikan alokasi anggaran bencana tidak hanya fokus pada evakuasi. Melainkan juga pada rehabilitasi psikososial, akses pendidikan, dan pemulihan ekonomi lokal. Bencana alam tak bisa dihindari. Tapi dampaknya bisa diminimalisir dengan persiapan yang matang.

Bagi pembaca, berita ini mengingatkan betapa pentingnya solidaritas sosial. Setiap kronik gempa yang menghancurkan bukan hanya soal angka korban. Tapi juga soal kemanusiaan yang harus tetap terjaga. Bahkan di tengah reruntuhan.

Kami mengimbau pembaca untuk tetap mengikuti perkembangan situasi di NTT. Juga mendukung kampanye bantuan yang transparan dan bertanggung jawab. Agar tidak hanya membantu saat krisis. Tapi juga membantu membangun kembali hidup para korban.

Akhir kata, semoga keluarga Seriani dan ribuan keluarga serupa dapat segera pulih. Dengan rumah yang layak. Dan masa depan yang cerah untuk anak-anak mereka.

Mengapa Ini Penting

Berita ini menggambarkan betapa rentannya masyarakat miskin terhadap bencana alam. Di Indonesia, banyak keluarga di daerah rawan gempa tidak memiliki sistem dukungan yang memadai untuk pulih sepenuhnya. Kasus Seriani menyoroti kegagalan infrastruktur pengungsian darurat dan kebutuhan akan kebijakan inklusif pasca-bencana. Selain itu, dampaknya tidak hanya fisik, tetapi juga pada masa depan pendidikan anak-anak. Tanpa intervensi yang tepat, bencana alam akan semakin memperdalam kesenjangan sosial. Ini penting bagi pembaca Indonesia yang peduli pada kemanusiaan dan keadilan sosial.

Pertanyaan Umum

Apa isi utama artikel "Gempa NTT Hancurkan Rumah, Keluarga di Panggil ke Kandang Babi"?

Gempa di NTT menghancurkan rumah keluarga di Manggarai, memaksa sang istri dan tiganya tinggal di kandang babi setelah stok bantuan hampir habis.

Mengapa Nasional ini penting?

Berita ini menggambarkan betapa rentannya masyarakat miskin terhadap bencana alam. Di Indonesia, banyak keluarga di daerah rawan gempa tidak memiliki sistem dukungan yang memadai untuk pulih sepenuhnya. Kasus Seriani menyoroti kegagalan infrastruktur pengungsian darurat dan kebutuhan akan kebijakan inklusif pasca-bencana. Selain itu, dampaknya tidak hanya fisik, tetapi juga pada masa depan pendidi

Sumber Asli
CNN Indonesia Nasional
Tanggal
1 September 2026
Waktu Baca
5 menit