PT Geoprima Solusi Tbk (GPSO), perusahaan yang bergerak di bidang perdagangan besar mesin dan perlengkapan, secara resmi telah merampungkan aksi korporasi berupa Penambahan Modal Tanpa Memberikan Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (PMTHMETD) atau private placement. Dalam aksi strategis ini, perseroan berhasil menghimpun dana segar dengan nilai total mencapai Rp28,46 miliar.
Direktur Utama GPSO, Dionysius Tjokro, dalam keterangan resminya di Jakarta menyampaikan bahwa sebanyak 66.674.000 saham biasa telah diterbitkan. Seluruh saham baru tersebut diserap sepenuhnya oleh PT PIMSF Pulogadung (PIMSF), yang kini resmi menjadi Pemegang Saham Pengendali (PSP) baru bagi perusahaan. Masuknya PIMSF merupakan langkah strategis karena entitas ini merupakan bagian dari jaringan bisnis Tjokro Group yang memiliki ekosistem bisnis luas.
Secara rinci, aksi korporasi ini dieksekusi dengan nilai nominal sebesar Rp50 per saham dan harga pelaksanaan ditetapkan pada Rp274 per saham. Partisipasi PIMSF sebagai investor tunggal dalam private placement ini menegaskan komitmen Tjokro Group dalam memperkuat struktur permodalan sekaligus arah bisnis Geoprima Solusi ke depannya.
Seiring dengan perubahan kendali dan masuknya investor strategis, Geoprima Solusi melakukan transformasi model bisnis melalui penyesuaian Klasifikasi Baku Lapangan Usaha Indonesia (KBLI). Perubahan ini dilakukan agar perseroan dapat menciptakan sinergi yang lebih solid dengan ekosistem bisnis Tjokro Group, sekaligus menangkap peluang pasar yang lebih luas di masa depan.
Perseroan menambahkan tiga lini KBLI baru, yakni KBLI 70209 untuk aktivitas konsultasi manajemen dan bisnis, KBLI 46591 untuk perdagangan besar mesin kantor dan industri, serta KBLI 68129 yang mencakup aktivitas real estat atas bangunan dan lahan nonhunian. Meski demikian, Dionysius memastikan bahwa lini bisnis utama perseroan di bidang alat survei, pemetaan tanah, dan jasa pengukuran akan tetap dipertahankan sebagai fokus operasional.
Khusus terkait penambahan KBLI di sektor real estat, langkah ini merupakan bagian dari rencana aksi korporasi berikutnya berupa akuisisi aset milik PT JIC dengan estimasi nilai mencapai Rp78 miliar. Aset tersebut nantinya akan dikelola melalui skema penyewaan, yang diharapkan mampu menjadi sumber pendapatan baru (recurring income) bagi perusahaan di masa mendatang. Aksi ini sebelumnya telah mendapatkan restu dari para pemegang saham melalui Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) pada 22 Juni 2026.