Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka meninjau proyek Jembatan Way Bungur di Lampung Timur pada Rabu (15/7) dengan menumpang perahu klotok menyusuri sungai. Kunjungan itu dilakukan untuk memastikan infrastruktur yang sempat terbengkalai sejak 2010-an tersebut akhirnya rampung sesuai target pemerintah.
Jembatan penghubung Desa Tanjung Tirto dan Desa Kali Pasir, Kecamatan Way Bungur, itu masuk dalam daftar proyek strategis nasional (PSN). Gibran didampingi Wakil Gubernur Lampung Jihan Nurlela, Kapolda Lampung Irjen Pol Helfi Assegaf, Bupati Lampung Timur Ela Siti Nuryamah, serta jajaran TNI, Polri, dan kejaksaan setempat. Dari atas perahu, ia memantau langsung konstruksi dan mendengar paparan Kementerian PUPR soal tahapan pekerjaan.
Proyek ini sempat mangkrak sejak 2016 dan baru kembali bergulir setelah viralnya cerita warga yang menyeberangi Sungai Way Bungur menggunakan perahu tanpa alat keselamatan. Pelajar menjadi kelompok paling rentan karena harus menyeberang setiap hari demi mencapai sekolah. Kondisi itu makin berbahaya saat musim hujan ketika arus sungai meningkat drastis.
Ketiadaan jembatan permanen membuat mobilitas ekonomi warga terhambat. Hasil pertanian, perkebunan, dan perikanan harus dipikul melintasi jalur air yang tidak stabil. Lamanya waktu tempuh antardesa turut menekan produktivitas petani di Bumi Tuwah Bepadan, sebutan Lampung Timur.
Pemerintah menargetkan jembatan gantung bernama Merah Putih itu selesai pada akhir Juli 2026. Sebelum struktur permanen siap, jembatan darurat diproyeksikan rampung dalam dua pekan ke depan. Gibran menegaskan sepeda motor sudah bisa melintas di jembatan darurat sehingga pelajar tak lagi naik perahu.
Kehadiran jembatan ini bukan sekadar urusan konektivitas fisik. Infrastruktur kecil di daerah sering kali menentukan laju pertumbuhan ekonomi lokal. Ketika akses membaik, biaya logistik turun dan nilai jual komoditas warga naik. Hal serupa terlihat pada sejumlah jembatan gantung di Jawa Barat dan Sulawesi Selatan yang mendorong desa terisolasi masuk jaringan pasar.
Persoalan pembebasan lahan dan sinergi teknis masih menjadi tantangan. Gibran meminta pemerintah daerah proaktif menyelesaikan urusan nonteknis agar jembatan permanen segera dibangun. Tanpa dukungan kabupaten, proyek pusat berisiko tertunda seperti pengalaman mangkrak sebelumnya.
Usai meninjau sungai, Gibran menyapa warga dan membagikan buku serta kaos kepada anak-anak. Ia juga mengunjungi MTs Muhammadiyah I Way Bungur, lahan singkong di Desa Muara Jaya, dan situs purbakala Pugung Raharjo. Situs tersebut akan dikembangkan sebagai destinasi wisata sejarah dan edukasi.
Bupati Lampung Timur Ela Siti Nuryamah menyatakan kunjungan Wapres menjadi motivasi bagi pemda untuk mempercepat proyek. "Kehadiran beliau menjadi bukti nyata kepedulian pemerintah pusat terhadap infrastruktur daerah," ujarnya. Ia berjanji memperkuat sinergi agar pembangunan merata dan pelayanan publik membaik.
Gibran menekankan peninjauan lapangan adalah cara memastikan PSN memberi manfaat nyata. "Pembangunan harus sesuai rencana agar segera dimanfaatkan masyarakat," kata dia di lokasi. Bagi warga, kalimat itu bukan retorika karena mereka telah delapan tahun menunggu akses aman.
Dua pekan ke depan menjadi ujian pertama. Jika jembatan darurat berfungsi, rutinitas berbahaya pelajar berakhir. Selanjutnya, kecepatan pembebasan lahan akan menentukan apakah jembatan permanen selesai tanpa kendala. Pemerintah daerah punya waktu membuktikan komitmen yang dibutuhkan pusat.
Tren peninjauan langsung pejabat tinggi ke proyek mangkrak menunjukkan pergeseran pengawasan infrastruktur. Tekanan publik lewat media sosial membuat proyek terabaikan sulit lagi disembunyikan. Ke depan, pendekatan serupa diperkirakan makin lazim di wilayah dengan ketertinggalan akses serupa.