Nasional

Gibran Minta Maaf Atas Kekurangan Tanggap Darurat Gempa NTT, 75 Korban Tewas

Ringkasan

  • Wakil Presiden Gibran Rakabuming meminta maaf atas kekurangan penanganan bencana gempa NTT saat meninjau pengungsi di Maumere, Kamis (20/8), sementara korban jiwa mencapai 75 orang dan 92.375 warga mengungsi.

Wakil Presiden Gibran Rakabuming Rakabuming menghadap warga terdampak gempa bumi di Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur, dan menyampaikan permintaan maaf yang tulus atas berbagai kekurangan dalam penanganan tanggap darurat. Kunjungan kerja ke Stadion Gelora Samador, Maumere, Kamis (20/8) sore menjadi momen pertama Gibran berdialog langsung dengan korban sejak gempa berkekuatan 6,1 magnitudo mengguncang pulau Flores awal pekan ini.

Didampingi Menko PMK Pratikno, Kepala BNPB Suharyanto, dan Gubernur NTT Emanuel Melkiades Laka Lena, Gibran berkeliling tenda pengungsian sambil menyapa warga satu per satu. Ia menanyakan kondisi kesehatan, ketersediaan makanan, hingga keluhan soal sanitasi. Di tengah keramaian, Wakil Presiden sempat menggendong bayi di tenda perawatan, adegan yang merefleksikan upaya pemerintah menunjukkan kehadiran di garis depan.

Data terbaru BNPB pada Kamis pukul 16.00 WIB mencatat 75 jiwa meninggal dunia, luka-luka ratusan, dan 92.375 orang terpaksa mengungsi tersebar di 14 titik pengungsian. Angka korban jiwa bertambah dari pelaporan awal 60 orang, menandakan proses evakuasi dan identifikasi jenazah masih berlangsung di wilayah pedalaman yang sulit dijangkau kendaraan roda empat.

Permintaan maaf Gibran bukan sekadar formalitas protokol. Ia mengakui keterlambatan distribusi logistik ke pemukiman terpencil di pegunungan, di mana akses jalan putus akibat longsoran. "Keselamatan masyarakat adalah yang utama. Seluruh langkah penanganan darurat harus memprioritaskan keselamatan dan pemenuhan kebutuhan mendesak," tegasnya dalam keterangan tertulis yang dibacakan di hadapan jurnalis.

Instruksi keras disampaikan ke seluruh jajaran: bantuan dasar — makanan siap saji, air bersih, toilet portable, obat-obatan, dan layanan kesehatan — harus sampai ke setiap kepala keluarga, termasuk di dusun-dusun terisolir. Perintah ini selaras dengan arahan Presiden Prabowo Subianto yang menuntut penanganan "cepat, tepat, dan berkelanjutan" sejak hari pertama bencana.

Perhatian khusus dialokasikan untuk kelompok rentan. Ibu hamil, menyusui, lansia, penyandang disabilitas, dan anak-anak wajib didata, dipantau, dan mendapat pendampingan intensif. BNPB telah mengirim tim kesehatan jiwa dan gizi untuk mencegah gizi buruk dan trauma pasca bencana di tengah keterbatasan fasilitas medis di daerah.

Suharyanto, Kepala BNPB, mengungkapkan tantangan logistik mayoritas dihubungkan dengan topografi NTT yang berupa pulau-pulau kecil dan lereng curam. Pesawat Hercules C-130 TNI AU telah melakukan beberapa kali rotasi pengiriman bantuan dari Surabaya dan Kupang ke Maumere, namun cuaca buruk dan landasan pacu terbatas memperlambat operasional udara.

Gibran juga mengingatkan warga untuk tidak terburu-buru pulang ke rumah yang retak atau roboh. Potensi gempa susulan masih tinggi, tercatat hingga Kamis sore BMKG merekam 140 kali guncangan susulan dengan magnitudo 1,2 hingga 4,8. "Bapak, Ibu, di sini dulu ya. Ada gempa susulan. Nanti rumah yang rusak, sekolah-sekolah, kita perbaiki," ujarnya dengan nada santai namun tegas.

Pemulihan pascabencana sudah direncanakan ber tahap. Tahap pertama: penilaian kerusakan bangunan oleh tim teknis PUPR dan universitas lokal. Tahap kedua: pembangunan hunian sementara yang layak huni dengan standar Sphere. Tahap ketiga: rekonstruksi permanen dengan pendekatan "build back better" agar struktur tahan gempa.

Kunjungan ini juga menguji koordinasi antar kementerian di lapangan. Menko PMK Pratikno mengakui ada tumpang tindih peran antara BNPB, Kementerian Sosial, dan Pemda di awal tanggap darurat. Rapat koordinasi harian kini diwajibkan di posko utama Maumere untuk menyinkronkan data kebutuhan dan realisasi bantuan.

Masyarakat NTT, yang mayoritas beragama Katolik, merespons kehadiran Gibran dengan campur aduk. Sebagian mengapresiasi kehadiran pejabat tinggi, tapi banyak yang menuntut kejelasan jadwal pembangunan rumah baru. "Kami butuh pasti, bukan janji," ujar Maria Goreti, 42, pengungsi di tenda blok C yang kehilangan rumah dan usaha warung kecilnya.

Bencana ini mengingatkan Indonesia pada kerentanan struktural di wilayah zona merah gempa. NTT berada di jalur lengkung Sunda-Banda, rawan gempa dan tsunami. Investasi mitigasi — pemetaan risiko, bangunan tahan gempa, sistem peringatan dini berbasis komunitas — harus jadi prioritas anggaran daerah dan pusat, bukan sekadar reaksi saat bencana tiba.

Mengapa Ini Penting

Kunjungan Gibran menandakan shift narasi pemerintah dari top-down ke accountability langsung di lapangan. Permintaan maaf pejabat tinggi jarang terjadi dalam tradisi birokrasi Indonesia, menciptakan presedent baru untuk transparansi bencana. Namun, uji nyata ada di eksekusi: apakah data pengungsi 92 ribu jiwa terverifikasi akurat? Apakah logistik tembus ke dusun terpencil sebelum musim hujan tiba? Kegagalan mitigasi struktural di NTT — bangunan sekolah dan rumah sakit yang roboh — membuka pertanyaan keras soal pengawasan izin bangun dan alokasi dana desa untuk reduksi risiko. Bencana ini juga menguji kemampuan koordinasi kabinet merah putih dalam menghadapi krisis multi-sektoral di daerah 3T.

Sumber Asli
CNN Indonesia Nasional
Tanggal
20 Agustus 2026
Waktu Baca
4 menit