Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi menyoroti fenomena anak-anak yang terlalu lama bermain gawai sebagai ancaman serius bagi kesehatan generasi mendatang. Dalam sambutannya pada Seminar Nasional dan Deklarasi Kedaulatan Kesehatan Indonesia 2045 di Bandung, Rabu (15/7/2026), ia menegaskan bahwa kebiasaan sedentari ini membuat anak kurang bergerak, melemahkan kondisi fisik, dan mengganggu tumbuh kembang.
Dedi mengungkapkan data yang mengkhawatirkan: penyakit yang dahulu hanya menyerang orang dewasa, seperti gagal ginjal dan diabetes, kini mulai ditemukan pada usia dini. "Ancaman masa depan bukan hanya kekurangan gizi, tetapi nutrisi dan gizi yang tidak dikelola jadi energi," ujarnya. Pernyataan ini menggarisbawahi kaitan antara pola hidup digital, asupan makanan tidak sehat, dan lonjakan kasus penyakit metabolik di kalangan anak.
Latar belakang peringatan ini adalah melonjaknya penetrasi smartphone dan tablet di lapisan masyarakat, termasuk anak-anak usia sekolah dasar. Survei Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) 2023 menunjukkan 62 persen pengguna internet di Indonesia berusia 5-12 tahun. Pandemi COVID-19 mempercepat ketergantungan layar untuk pembelajaran dan hiburan, sehingga batas waktu penggunaan gawai semakin kabur.
Ahli kesehatan anak telah lama memperingatkan dampak negatif sinar biru, gangguan tidur, dan penurunan aktivitas fisik akibat gawai. Namun, kaitan langsung dengan gagal ginjal dan diabetes tipe 2 pada anak masih jarang dibahas secara publik. Dedi, yang memiliki latar belakang dokter, mengangkat isu ini ke permukaan kebijakan, menandakan urgensi intervensi multi-sektoral.
Di Jawa Barat, provinsi dengan populasi terbanyak di Indonesia, beban ganda malnutrisi dan obesitas anak menjadi tantangan klasik. Data Dinkes Jabar 2024 mencatat prevalensi obesitas anak usia 5-12 tahun mencapai 12,5 persen, di atas rata-rata nasional. Kebiasaan makan camilan tinggi gula dan lemak trans sambil menatap layar memperparah situasi. Program Gizi Anak Sekolah (Progas) dan Gerakan Masyarakat Hidup Sehat (Germas) sudah ada, namun efektivitasnya terbatas tanpa perubahan perilaku di rumah.
Dampak berita ini meluas ke industri teknologi dan pendidikan. Pengembang aplikasi anak-anak mulai dituntut mendesain fitur kontrol waktu layar dan mode "istirahat mata". Sekolah-sekolah di Bandung telah mencoba kebijakan "sekolah bebas gawai" pada jam pelajaran, namun tantangan utamanya adalah konsistensi orang tua di rumah. Pakar psikologi anak menilai pembatasan gawai harus disertai alternatif aktivitas fisik yang menarik, bukan sekadar larangan.
Sementara itu, Dedi juga mengungkapkan rencana Pemprov Jabar meningkatkan nutrisi ibu hamil melalui skema bantuan langsung. "Ketika yang hamilnya bermasalah maka dia boleh ke toko, minimarket atau ke manapun untuk mengambil makanan yang dikonsumsi selama hamil. Ini sedang kita rumuskan karena tanggung jawab negara," jelasnya. Pendekatan berbasis voucher atau kartu pra-bayar untuk membeli makanan bergizi dinilai lebih efisien daripada distribusi paket sembako yang sering tidak tepat sasaran.
Kebijakan ini sejalan dengan konsep "1.000 Hari Pertama Kehidupan" (HPK) yang ditekankan Kementerian Kesehatan. Investasi nutrisi sejak kandungan terbukti mengurangi stunting dan risiko penyakit tidak menular di usia dewasa. Jabar menargetkan angka stunting turun ke bawah 14 persen pada 2026, dari 18,2 persen tahun 2023. Program nutrisi ibu hamil menjadi kunci percepatan pencapaian target tersebut.
"Secara material negara harus bertanggung jawab terhadap asupan makanan yang bergizi, minuman yang berkualitas, udara yang bersih. Seluruhnya negara harus bertanggungjawab terhadap itu. Memperhatikan aspek material manusia perkembangannya dalam setiap waktu," tegas Dedi. Pernyataan ini memposisikan kesehatan sebagai hak konstitusional, bukan sekadar program proyek politik musiman.
Ke depan, tantangan utamanya adalah implementasi lintas dinas. Dinas Kesehatan, Pendidikan, Sosial, dan Komunikasi Informatika harus menyusun roadmap terintegrasi: kurikulum literasi digital sehat di sekolah, regulasi iklan makanan tidak sehat di media anak, hingga ruang publik ramah bergerak di kota-kota Jabar. Anggaran tahun 2027 diharapkan merefleksikan prioritas ini.
Masyarakat sipil dan komunitas orang tua juga berperan vital. Inisiatif "Gerakan Anak Sehat Bergizi dan Aktif" (GASAKA) yang digulirkan oleh sejumlah LSM di Bandung bisa menjadi model replikasi. Kolaborasi antara pemerintah, akademisi, dan industri teknologi diperlukan untuk menciptakan ekosistem digital yang melindungi, bukan mengeksploitasi, kesehatan anak.