Nasional

Gunung Bromo Ditutup Total Akibat Kebakaran Lahan Luas 176 Hektar

Ringkasan

  • Taman Nasional Bromo Tengger Semeru resmi menutup akses wisata mulai Sabtu malam setelah kebakaran di kawah memperluas area terbakar hingga 176 hektar sejak Senin lalu.

Pengelola Taman Nasional Bromo Tengger Semeru melalui akun Instagram resmi mengumumkan penutupan akses bagi seluruh kegiatan wisata mulai Sabtu (9/8) pukul 18.00 WIB. Kebijakan ini berlaku untuk jangka waktu yang belum ditentukan, mengingat api masih menyebar di area kawah yang dikenal sebagai pasir laut. Wisatawan yang sudah membeli tiket masuk diberi opsi untuk menjadwalkan ulang kunjungan atau mengajukan pengembalian dana.

Kebakaran yang pertama kali terdeteksi Senin (5/8) awalnya hanya melahap area seluas 60 hektar. Namun dalam waktu empat hari, lahan terbakar melonjak hampir tiga kali lipat mencapai 176 hektar. Perluasan ini didorong oleh angin kering yang bertiup kencang di ketinggian serta kondisi vegetasi yang rentan terbakar di musim kemarau. Petugas BPBD Jawa Timur mencatat tidak ada korban jiwa, namun asap tebal sudah mengganggu visibilitas di jalur utama menuju puncak Penanjakan.

Gunung Bromo merupakan salah satu ikon pariwisata Jawa Timur yang menarik ratusan ribu pengunjung domestik dan mancanegara setiap tahun. Dayanya terletak pada pemandangan matahari terbit dari puncak Penanjakan serta keunikan kaldera berbentuk pasir laut yang mengelilingi kawah aktif. Penutupan total ini merupakan kebijakan langka — biasanya pengelola hanya membatasi zona tertentu saat aktivitas vulkanik meningkat. Kali ini, ancaman api liar memaksa langkah drastis demi keselamatan pengunjung, petugas, dan warga sekitar.

Dampak ekonomi mulai terasa bagi masyarakat Tengger yang bergantung pada sektor pariwisata. Pemilik jeep wisata, pemandu gunung, hingga pengelola homestay di desa-desa seperti Ngadisari dan Cemoro Lawang kehilangan penghasilan harian. Perhimpunan Pemandu Gunung Indonesia (PPGI) cabang Probolinggo memperkirakan kerugian mencapai puluhan juta rupiah per hari jika penutupan berlanjut hingga pekan depan. Pemerintah Kabupaten Probolinggo telah mengkoordinasikan bantuan sosial bagi kelompok rentan yang terdampak.

Upaya pemadaman digelar secara masif sejak Jumat. BPBD Jawa Timur mengerahkan dua helikopter water bombing jenis Bell 412 dan Mi-17 serta sejumlah drone penyemprot air untuk menyerbu titik api di lereng yang sulit dijangkau pasukan darat. Tim gabungan dari TNI, Polri, BNPP, dan masyarakat sekitar turun ke lapangan total 350 personel. Kendati demikian, medan curam dan angin puting beliung sering mengubah arah api, memperlambat penetrasi ke titik terpanas.

Kepala Balai Taman Nasional Bromo Tengger Semeru, Hendro Gunawan, menegaskan penutupan bukan keputusan sembarangan. "Ini langkah krusial untuk menjaga keselamatan pengunjung, petugas, dan masyarakat sekitar," ucapnya saat dikonfirmasi Minggu pagi. Ia menambahkan evaluasi harian akan dilakukan bersama tim teknis dan BPBD. Jika kondisi aman dan api terkendali, pembukaan bertahap bisa dipertimbangkan mulai zona perifer terlebih dahulu.

Penyebab kebakaran belum resmi diumumkan. Namun sejumlah saksi di desa Ngadas mengaku melihat percikan api dari aktivitas memasak di area kawah pada awal minggu. Polres Probolinggo telah membentuk tim penyidik untuk menelusuri apakah ada kelalaian manusia atau faktor alami seperti sambaran petir. Hasil investigasi akan menentukan apakah ada sanksi pidana bagi pelaku jika terbukti sengaja atau lalai.

Kebakaran di Bromo mengingatkan pada insiden serupa di Gunung Rinjani 2023 yang memakan korban jiwa dan menutup akses selama berbulan-bulan. Perbedaan utamanya, Bromo memiliki infrastruktur akses yang lebih terbuka dan dekat dengan pusat kota Probolinggo, memudahkan mobilisasi alat berat dan helikopter. Namun, keunikan ekosistem savana dan padang rumput di kawah membuat api menyebar cepat saat musim kemarau puncak.

BMKG Perak III Surabaya memprediksi hujan hanya akan turun di wilayah Bromo mulai pertengahan Oktober. Selama itu, curah hujan minim dan kelembapan rendah akan mempertahankan risiko kebakaran. Pengelola taman nasional sudah menyiapkan rencana mitigasi jangka panjang, antara lain pembuatan jalur pemotong api (firebreak) permanen dan penanaman tanaman penahan api seperti johar dan trembesi di zona rentan.

Bagi industri pariwisata nasional, kasus Bromo jadi pelajaran keras tentang kerentanan destinasi andalan terhadap bencana iklim. Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif mendorong diversifikasi produk wisata di kawasan sekitar — seperti wisata budaya Tengger, agrowisata kentang, dan homestay berbasis komunitas — agar ekonomi lokal tidak terlalu bergantung pada satu magnet wisata. Langkah ini juga sejalan dengan konsep pariwisata berkelanjutan yang digagas sejak 2022.

Masyarakat diharapkan tidak memasuki area tutupan secara liar. Beberapa hari lalu, sejumlah pengendara motor trail mencoba menembus jalur belakang dari desa Wonokitri, berisiko terjebak api dan menghambat evakuasi. Polres Probolinggo telah menempatkan pos pengamanan di tiga titik masuk utama. Pelanggar akan dikenai sanksi administratif sesuai Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor 15 Tahun 2023.

Langkah selanjutnya bergantung pada hasil evaluasi gabungan Senin (11/8). Jika curah hujan turun lebih awal atau upaya pemadaman berhasil memadatkan garis api, pengelola akan merilis jadwal pembukaan bertahap. Sementara itu, calon wisatawan disarankan memantau media sosial resmi @tsmtnationalpark dan website bpbd.jatimprov.go.id untuk informasi real-time. Refund tiket diproses maksimal 14 hari kerja melalui sistem pembayaran asal.

Mengapa Ini Penting

Penutupan Bromo bukan sekadar isu pariwisata, melainkan uji nyata ketahanan destinasi andalan Indonesia menghadapi bencana iklim yang semakin sering. Kerugian ekonomi masyarakat Tengger yang bergantung sepenuhnya pada aliran wisatawan membuka mata kita pada kerentanan model pariwisata monokultur. Lebih jauh, insiden ini memaksa pemangku kepentingan — dari pemerintah daerah hingga pelaku usaha — untuk benar-benar merancang diversifikasi ekonomi lokal dan infrastruktur mitigasi bencana yang proaktif, bukan reaktif. Jika tidak, setiap musim kemarau akan mengulang narasi yang sama: api menyala, gunung ditutup, warga menderita, lalu semua lupa saat hujan turun.

Sumber Asli
Channel NewsAsia
Tanggal
9 Agustus 2026
Waktu Baca
5 menit