Internasional

Harga Bensin Melonjak di 145 Negara Usai Perang Iran, Indonesia Terancam Efek Domino

Ringkasan

  • Enam bulan sejak AS dan Israel menyerang Iran, harga bensin naik di 145 negara dan mengancam rantai pasok makanan global, dengan Myanmar mencatat kenaikan tertinggi 56 persen.

Data GlobalPetrolPrices yang dikutip Al Jazeera menunjukkan kenaikan harga bensin 95-oktan di 145 dari 170 negara yang dipantau sejak 23 Februari hingga 17 Agustus 2024. Perang yang dimulai dengan serangan AS dan Israel ke Iran pada 28 Februari telah mengganggu aliran minyak global dan mendorong harga minyak mentah ke level yang belum terlihat sejak krisis 2022.

Myanmar mencatat lonjakan paling tajam: harga per liter melonjak dari 0,77 dolar AS menjadi 1,20 dolar, naik 56 persen. Bhutan mengikuti dengan 55 persen, Cuba 51 persen, Uni Emirat Arab 50 persen, dan Nigeria 48 persen. Sebaliknya, 25 negara — kebanyakan produsen minyak dengan subsidi berat — justru mencatat harga stagnan atau turun tipis.

Di Amerika Serikat, rata-rata nasional bensin reguler naik dari 2,94 dolar per galon menjadi 4,09 dolar, lompat 39 persen menurut AAA. Dampaknya terasa nyata: uang 50 dolar yang dulu bisa mengendarai sedan keluarga sejauh 718 kilometer, kini hanya menjangkau 536 kilometer. Pengurangan jarak tempuh 25 persen itu berarti biaya transportasi harian naik signifikan bagi pekerja pendapatan tetap.

Kenaikan harga minyak tidak berhenti di pom bensin. Ekonom David McWilliams menegaskan bahwa transport adalah "darah kehidupan ekonomi global" — dari pupuk di ladang hingga truk yang mengangkut panen ke supermarket. Setiap kenaikan satu dolar per barel minyak mentah meneruskan efek rantai ke biaya logistik, penyimpanan dingin, dan akhirnya harga pangan di meja makan.

Negara berpenghasilan rendah yang mengimpor gandum dan pupuk dalam volume besar paling rentan. Bank Dunia memperkirakan setiap kenaikan 10 persen harga minyak mentah mendorong indeks harga pangan global naik 2-3 persen dalam kuartal yang sama. Untuk Indonesia yang masih mengimpor 3-4 juta ton gandum per tahun, ini ancaman serius bagi ketahanan pangan.

Minyak dan gas pun bukan sekadar bahan bakar. Plastik untuk botol air, kemasan makanan, casing ponsel, dan suntikan medis semua berasal dari minyak mentah. Polyester, nylon, dan akrilik yang mengisi rak pakaian olahraga hingga karpet juga turunan petrokimia. Bahkan Vaseline, lipstik, deterjen, cat dinding, dan pupuk nitrogen — tulang punggung produksi pangan modern — bergantung pada industri hulu minyak dan gas.

Di konteks Indonesia, kenaikan harga minyak global menciptakan dilem kebijakan. Sebagai negara yang pernah jadi eksportir minyak neto, Indonesia kini jadi importir neto produk minyak. Pertamina harus menstabilkan harga Pertalite dan Solar di level subsidi, sementara harga pasar global melonjak. Anggaran subsidi energi 2024 yang awalnya 306 triliun rupiah berpotensi melebihi alokasi jika harga Brent bertahan di atas 90 dolar per barel.

Program B30 (biodiesel 30 persen) yang digulirkan sejak 2020 justru jadi benteng pertahanan. Dengan memanfaatkan sawit dalam negeri, Indonesia mengurangi ketergantungan impor solar. Namun, harga CPO yang naik seiring komoditas global membuat ekonomi B30 semakin tipis. Pemerintah harus menyeimbangkan kebutuhan subsidisasi biodiesel bagi petani sawit dengan beban APBN.

Sektor transportasi darat — truk logistik, bus kota, ojek online — menyerap dampak pertama. Meskipun harga Solar subsidi ditahan 6.800 rupiah per liter, Solar non-subsidi dan Pertamax sudah naik berkali-kali tahun ini. Pengusaha logistik mengeluhkan margin yang menyusut, sementara pengemudi ojek online merasakan pendapatan harian tersisih setelah biaya bensin.

Industri petrokimia domestik seperti Chandra Asri dan Pertamina Petrochemical juga menghadapi tekanan ganda: biaya feedstock naik, tapi daya beli pasar lemah. Beberapa pabrik pupuk di Aceh dan Kalimantan sempat kurangi produksi karena harga gas mahal. Hal ini berisiko memicu kelangkaan pupuk di musim tanam, seperti yang terjadi pada 2022 silam.

Kementerian ESDM dan Pertamina kini mengevaluasi skema hedging minyak dan diversifikasi impor. Negosiasi kontrak jangka panjang dengan Saudi Aramco, Abu Dhabi National Oil Company, dan produsen Rusia dipercepat. Sementara itu, percepatan program B40 dan pengembangan refineri baru seperti Balikpapan dan Dumai jadi prioritas strategis jangka menengah.

Para analis energi memprediksi volatilitas harga akan bertahan hingga akhir 2024 minimal. Kunci ada pada apakah Iran menutup Selat Hormuz — di mana 20 persen minyak dunia lewat — dan seberapa cepat OPEC+ menyesuaikan produksi. Bagi Indonesia, lesson learned jelas: keamanan energi tidak hanya soal stok, tapi ketahanan rantai pasok dari hulu hingga hilir.

Mengapa Ini Penting

Perang Iran bukan sekadar konflik jarak jauh — ia menggerakkan domino harga yang menusuk kehidupan sehari-hari warga Indonesia. Kenaikan biaya transportasi dan pupuk akan naikkan harga beras, sayur, dan protein hewani di pasar tradisional. Program B30 yang jadi perisai energi kini diujicobakan oleh harga sawit yang sendiri naik. Jika subsidi energi meledak, anggaran pendidikan dan kesehatan bisa tersentuh. Ketahanan energi Indonesia akan diuji: apakah kita cukup cepat membangun refineri dan mengurangi ketergantungan impor sebelum krisis berikutnya?

Sumber Asli
Al Jazeera
Tanggal
24 Agustus 2026
Waktu Baca
5 menit