Internasional

Harga Energi Anjlok, Inflasi AS Catat Penurunan di Juni 2026

Ringkasan

  • Badan Statistik Tenaga Kerja AS melaporkan penurunan harga konsumen 0,4 persen pada Juni 2026 akibat anjloknya harga energi, terutama bensin, setelah ketegangan Selat Hormuz mereda sementara.

Departemen Tenaga Kerja melalui Biro Statistik Tenaga Kerja (BLS) merilis indeks harga konsumen (CPI) Amerika Serikat untuk Juni 2026 yang turun 0,4 persen secara bulanan. Penurunan tersebut merupakan respons langsung dari anjloknya harga energi, terutama minyak mentah dan bensin, setelah pasar global sempat bernapas lega atas meredanya ketegangan di Selat Hormuz.

Rata-rata harga bensin per galon (3,78 liter) tercatat 3,85 dolar AS, merosot dari 4,07 dolar AS sebulan sebelumnya menurut American Automobile Association (AAA). Penurunan ini memberi sandaran bagi konsumen AS yang selama berbulan-bulan memikul beban inflasi tinggi.

Ketegangan geopolitik di Timur Tengah menjadi latar belakang fluktuasi terbaru. Pada pekan-pekan awal Juni, pelayaran komersial di Selat Hormuz—jalur yang mengalirkan seperlima suplai minyak dunia—berangsur normal sehingga spekulasi pasokan membaik dan harga minyak melemah. Administrasi Trump memanfaatkan momentum itu untuk menegaskan narasi keberhasilan kebijakan luar negeri.

Namun, gencatan senjata antara Washington dan Teheran tidak bertahan lama. Serangan terhadap kapal tanker komersial pekan lalu memicu runtuhnya kesepakatan tersebut. Harga minyak langsung bereaksi naik dari level terendah 3,79 dolar AS per galon bensin menuju tren naik yang disebut para analis sebagai pembalikan singkat.

Data BLS menunjukkan energi secara keseluruhan ambruk 5,7 persen pada Juni, penurunan bulanan terdalam sejak April 2020 ketika pandemi menekan permintaan global. Harga minyak mentah anjlok 9,7 persen, sedangkan bensin turun 9,5 persen. Sektor lain seperti pakaian (-0,6 persen), mobil bekas (-0,2 persen), dan listrik (-1 persen) ikut mencatat koreksi.

Bagi Indonesia, yang merupakan negara pengimpor minyak neto, lonjakan atau penurunan harga energi global tidak pernah berdampak netral. Penurunan sementara harga minyak bisa meringankan beban subsidi bahan bakar dan menjaga neraca pembayaran, namun ketidakpastian di Selat Hormuz membuat proyeksi tersebut rapuh. Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral biasanya menyesuaikan kuota subsidi berdasarkan asumsi harga Indonesian Crude Price (ICP).

Dari sudut pandang industri teknologi lokal, harga energi yang stabil menjadi krusial bagi operasional pusat data dan layanan cloud. Biaya listrik menyumbang porsi besar dalam struktur pengeluaran penyedia layanan digital. Jika konflik Hormuz mendongkrak harga minyak mentah kembali di atas 80 dolar AS per barel, tarif listrik industri berpotensi naik dan memicu efek domino pada harga langganan teknologi.

Di sisi lain, konsumen Indonesia turut merasakan imbas melalui harga pangan yang berkorelasi dengan biaya logistik internasional. Meski laporan AS menunjukkan tomat turun 10 persen dan buah-sayur segar minus 0,5 persen, secara tahunan grocery AS naik 3 persen. Inflasi pangan global masih memberi tekanan pada rupiah jika impor komoditas tertentu meningkat.

Juru Bicara Wakil Pers Gedung Putih Kush Desai dalam cuitan di X menuturkan bahwa Presiden Donald Trump telah memprediksi harga minyak dan inflasi akan jatuh begitu lalu lintas Selat Hormuz normal. Pernyataan itu menjadi semacam klaim politik atas data CPI Juni yang positif bagi administrasinya.

Patrick De Haan, kepala analisis petroleum di GasBuddy, justru memperingatkan agar publik tidak terlena. “Laporan CPI Juni ibarat kaca spion—penurunannya nyata, tapi mencerminkan harga pekan lalu. Eskalasi baru membuat minyak kembali naik, WTI di atas 80 dolar hari ini, rata-rata nasional 3,81 dolar dan naik: bensin 4 dolar hanya berjarak hari, diesel kembali ke 5 dolar,” tulisnya di platform yang sama.

Bank Sentral AS (Federal Reserve) di bawah pimpinan baru Kevin Warsh, yang menggantikan Jerome Powell pada Mei, telah bersikap hawkish. Warsh menegaskan tidak ada toleransi bagi inflasi yang persisten tinggi. CME FedWatch memproyeksikan probabilitas 87,7 persen suku bunga tetap di 3,5–3,75 persen, sementara sisa peluang mengarah pada kenaikan 25 basis poin bulan ini.

Pasar saham AS merespons optimistis data tenaga kerja tersebut. Nasdaq menguat 0,9 persen, S&P 500 naik 0,5 persen, dan Dow Jones bertambah 0,1 persen di sesi tengah hari. Kendati demikian, dengan minyak WTI sudah menyentuh 80 dolar dan konflik geopolitik belum usai, reli tersebut berisiko dibatalkan oleh laporan harga energi pekan depan.

Mengapa Ini Penting

Fluktuasi inflasi AS dan harga energi global memiliki efek langsung terhadap kebijakan moneter Bank Indonesia, karena rupiah sering tertekan ketika the Fed mempertahankan suku bunga tinggi. Bagi ekosistem startup teknologi Tanah Air, biaya operasional server dan infrastruktur cloud sangat sensitif terhadap tarif listrik yang berujung pada harga energi impor. Ketergantungan pada rantai pasok semikonduktor dari kawasan dekat Selat Hormuz juga membuka risiko disrupsi produksi jika konflik memburuk. Masyarakat luas di Indonesia pada akhirnya menanggung dampak melalui harga BBM bersubsidi dan inflasi pangan yang terkait logistik internasional.

Sumber Asli
Al Jazeera
Tanggal
14 Juli 2026
Waktu Baca
5 menit