Pelanggan salah satu perusahaan energi utama di Hong Kong kini harus menanggung beban kenaikan biaya energi yang signifikan. Hal ini terjadi setelah konflik di Timur Tengah menyebabkan terhentinya pasokan gas dari Qatar sejak awal tahun ini, yang memaksa perusahaan melakukan penyesuaian biaya operasional yang drastis.
CEO HK Electric, Francis Cheng Cho-ying, mengungkapkan pada hari Minggu bahwa perusahaan tidak lagi menerima pasokan gas dari Qatar sejak Maret lalu. Gangguan ini dipicu oleh serangan Iran yang merusak fasilitas produksi gas, di mana fasilitas tersebut merupakan sumber utama kontrak pasokan gas untuk pembangkit listrik di Pulau Lamma.
Akibat terputusnya rantai pasokan tersebut, HK Electric terpaksa beralih ke pasar spot untuk memenuhi kebutuhan bahan bakar pembangkit listrik mereka. Namun, keputusan ini membawa konsekuensi finansial yang berat karena harga gas di pasar spot jauh lebih tinggi dibandingkan harga kontrak jangka panjang yang biasanya mereka miliki.
Cheng menegaskan bahwa dampak dari situasi ini sangat signifikan terhadap struktur biaya perusahaan. Menurutnya, perusahaan tidak memiliki pilihan lain selain membeli bahan bakar dengan harga pasar karena risiko ketidaktersediaan pasokan akan jauh lebih merugikan bagi stabilitas pasokan listrik secara keseluruhan di Hong Kong.
Sebagai langkah mitigasi atas membengkaknya biaya bahan bakar, HK Electric telah menaikkan biaya tambahan bahan bakar (fuel surcharge) untuk bulan Juli sebesar 33,9 persen. Angka ini melonjak menjadi 41,9 sen HK per unit listrik, dibandingkan dengan 31,3 sen HK pada bulan Juni sebelumnya.
Lebih lanjut, pihak perusahaan memberikan peringatan kepada para pelanggan bahwa kenaikan tarif listrik lebih lanjut kemungkinan besar akan terjadi dalam waktu dekat. Hal ini disebabkan oleh efek tunda dari biaya bahan bakar yang lebih tinggi yang belum sepenuhnya tercermin dalam tagihan pelanggan saat ini, sehingga tekanan ekonomi bagi masyarakat di Hong Kong diperkirakan akan terus berlanjut.