Direktur Jenderal Badan Tenaga Atom Internasional (IAEA), Rafael Grossi, menegaskan perlunya penerapan sistem verifikasi yang sangat kuat untuk mengawasi program nuklir Iran. Pernyataan ini muncul di tengah berlangsungnya negosiasi gencatan senjata antara Iran dan Amerika Serikat, di mana transparansi nuklir menjadi salah satu poin krusial yang harus diselesaikan untuk menjaga stabilitas regional.
Grossi menekankan bahwa meskipun pemerintah Iran telah menyatakan secara resmi bahwa program nuklir mereka ditujukan untuk kepentingan sipil, pernyataan niat saja tidak cukup bagi badan pengawas internasional. Menurutnya, IAEA memerlukan akses penuh dan sistem verifikasi yang komprehensif untuk memastikan bahwa Iran tidak mengembangkan senjata nuklir, yang menjadi inti dari nota kesepahaman (MoU) 14 poin yang telah disepakati.
Ketegangan mengenai akses inspeksi ini berakar dari konflik bersenjata 12 hari antara Iran dengan Amerika Serikat dan Israel pada Juni tahun lalu. Sejak saat itu, Iran sempat menangguhkan kerja sama dengan IAEA. Meski inspektur telah diizinkan kembali masuk pada September lalu, akses ke situs-situs nuklir yang sempat dibom dan data cadangan uranium yang diperkaya masih menjadi titik sengketa yang belum terselesaikan.
Di sisi lain, terjadi perang pernyataan antara Washington dan Teheran terkait cakupan verifikasi. Amerika Serikat mengklaim bahwa Iran telah menyetujui inspeksi tingkat tertinggi dalam kesepakatan terbaru. Namun, Wakil Menteri Luar Negeri Iran, Kazem Gharibabadi, menyatakan bahwa akses ke situs yang diserang hanya akan dibahas dalam kerangka kesepakatan final, dengan syarat Amerika Serikat mencabut seluruh sanksi ekonomi.
Situasi ini menciptakan ketidakpastian diplomatik yang mendalam. Grossi menegaskan bahwa posisi IAEA bukanlah untuk menilai niat politik suatu negara, melainkan untuk melakukan verifikasi di lapangan secara objektif. Tanpa akses penuh, badan pengawas nuklir PBB tersebut tidak dapat memberikan jaminan keamanan yang dibutuhkan komunitas internasional terkait status program nuklir Iran saat ini.
Upaya negosiasi ke depan akan sangat bergantung pada kemampuan kedua belah pihak untuk menjembatani perbedaan mengenai protokol inspeksi. Bagi IAEA, verifikasi yang kuat adalah satu-satunya cara untuk mengubah komitmen diplomatik menjadi kepastian teknis yang dapat dipertanggungjawabkan kepada dunia, sekaligus mencegah eskalasi nuklir lebih lanjut di masa depan.