Jumlah korban tewas akibat gempa dahsyat yang mengguncang Venezuela pada 24 Juni lalu naik menjadi 4.734 orang, menurut pernyataan resmi pemerintah yang dirilis Senin (14/7). Data tersebut juga menyebutkan 16.740 orang terluka dan 6.462 orang berhasil diselamatkan.
Guncangan pertama berkekuatan 7,2 SR terjadi pada pukul 18.04 waktu setempat (11.04 WIB) dan 39 detik kemudian disusul gempa utama berkekuatan 7,5 SR yang menghantam negara di pesisir utara Amerika Selatan itu. Gempa susulan ini memicu kerusakan masif di sejumlah kota.
Venezuela tengah dilanda krisis ekonomi dan infrastruktur yang parah, sehingga banyak bangunan tidak dirancang untuk bertahan guncangan kuat. Banyak rumah susun dan fasilitas umum runtuh, memperburuk dampak bencana.
Pemerintah setempat telah menyalurkan bantuan kepada 128.324 keluarga dan mendirikan 107 kamp sementara yang menampung 20.231 orang. Fasilitas di kamp-kamp tersebut dinilai masih terbatas, sehingga banyak pengungsi bergantung pada sumbangan dari organisasi internasional.
Bantuan internasional berdatangan dari berbagai negara dan lembaga. Sebelumnya, Venezuela juga meminta agar cadangan emasnya di Inggris dicairkan untuk membiayai penanggulangan bencana.
Lebih dari 20.900 orang masih tinggal di kamp-kamp sementara, menunjukkan bahwa proses pemulihan akan memakan waktu lama. Banyak dari mereka kehilangan mata pencaharian dan akses ke layanan kesehatan dasar.
Bencana ini mengungkap kelemahan sistem penanggulangan bencana di Venezuela, berbeda dengan Indonesia yang memiliki sistem peringatan dini yang relatif canggih. Meski demikian, Indonesia juga pernah mengalami gempa berkekuatan di atas 7 SR, seperti pada gempa Sulawesi Tengah 2018 yang menewaskan lebih dari 4.300 orang.
Teknologi satelit dan drone telah membantu pemetaan kerusakan di Venezuela, meskipun penggunaannya masih terbatas. Di Indonesia, teknologi serupa telah diintegrasikan ke dalam sistem peringatan dini dan pemetaan risiko bencana.
Ketua Majelis Nasional Jorge Rodriguez menyatakan, “Sebanyak 4.734 orang tewas, 16.740 terluka, dan 6.462 telah diselamatkan,” dalam pernyataannya yang dirilis Senin lalu.
Ke depan, Venezuela diperkirakan masih akan menghadapi risiko aftershock yang dapat merusak infrastruktur yang sudah rapuh. Upaya rekonstruksi memerlukan dukungan internasional yang berkelanjutan dan perencanaan tata ruang yang lebih ketat.
Bagi Indonesia, bencana ini menjadi pengingat bahwa investasi pada infrastruktur tahan gempa dan sistem peringatan dini sangat krusial. Pengalaman Indonesia dalam penanggulangan bencana pascagempa juga dapat dibagikan untuk membantu Venezuela membangun ketahanan.
Kawasan Amerika Selatan dan Asia Tenggara sama-sama rawan gempa, namun kerja sama regional dalam berbagi teknologi dan pengetahuan dapat meningkatkan kesiapsiagaan bersama. Bencana di Venezuela menunjukkan bahwa tidak ada negara yang kebal dari bencana alam, dan solidaritas global tetap menjadi kunci.