Kapal penumpang Nurul Salsa karam di perairan Selayar, Sulawesi Selatan, pada Rabu (15/7) pagi, menewaskan satu orang dan menyisakan 24 penumpang yang belum ditemukan. Kecelakaan laut tersebut terjadi akibat kegagalan mesin saat kapal berlayar membawa 74 orang, ternak, dan barang dagangan lintas pulau.
Badan Search and Rescue (Basarnas) setempat melaporkan bahwa 49 penumpang berhasil diselamatkan, sementara satu perempuan ditemukan meninggal dunia. Operasi pencarian masih menyisakan tantangan berat karena kondisi cuaca buruk di lokasi kejadian. Muhammad Arif Anwar, Kepala Basarnas wilayah setempat, menyatakan bahwa evakuasi awal dilakukan setelah nahkoda melaporkan kerusakan mesin yang tidak dapat diperbaiki di tengah laut.
Insiden ini bermula ketika Nurul Salsa bertolak dari Pulau Jampea menuju Selayar membawa muatan copra, sapi, dan sepeda motor. Kapal mulai tenggelam sebelum tim penyelamat tiba pada Kamis (16/7). Perbedaan jumlah manifes dan penumpang sesungguhnya kembali terulang. Manifest awal hanya mencatat 50 orang, namun verifikasi kemudian mengungkap ada 74 orang di atas kapal.
Praktik ketidaksesuaian manifes penumpang sudah lazim terjadi di Indonesia. Hal ini mempersulit proses evakuasi karena otoritas tidak memiliki data pasti mengenai jumlah korban saat kejadian. Lemahnya pengawasan di pelabuhan kecil menjadi pintu masuk bagi penumpang tanpa tiket resmi.
Indonesia merupakan negara kepulauan dengan lebih dari 17.000 pulau. Kapal tetap menjadi tulang punggung transportasi antardaerah, terutama di jalur yang tidak terjangkau pesawat. Namun, standar keselamatan sering kali diabaikan demi efisiensi biaya operasional.
Kecelakaan serupa pernah merenggut nyawa wisatawan asing di awal tahun ini. Pada Januari, tiga turis asal Spanyol meninggal ketika kapal mereka tenggelam di Indonesia timur. Seorang bocah laki-laki berusia 10 tahun dinyatakan hilang secara resmi setelah pencarian dihentikan.
Bagi masyarakat lokal, insiden Selayar menunjukkan risiko harian yang dihadapi pengguna transportasi laut. Nelayan dan pedagang lintas pulau adalah kelompok paling rentan terhadap kecelakaan akibat armada tua dan perawatan minim. Pemerintah daerah kerap kali kewalahan mengawasi rute-rute perintis yang tersebar luas.
Basarnas menyebut tinggi gelombang 2 hingga 2,5 meter serta angin kencang sebagai hambatan utama pencarian. Kapal perang TNI AL telah dikerahkan untuk memperluas area evakuasi yang diperkirakan berlanjut hingga malam hari. Cuaca ekstrem di perairan selatan Sulawesi kerap muncul di musim peralihan.
"Kru tidak mampu memperbaiki mesin, sehingga nahkoda menghubungi otoritas untuk meminta evakuasi," ujar Arif menjelaskan kronologi sebelum kapal tenggelam. Ia menambahkan bahwa kapal sudah dalam posisi sebagian tenggelam saat tim tiba di lokasi.
Arif menegaskan bahwa pencarian akan terus dilakukan meski gelap menyelimuti perairan. Dukungan dari unsur maritime lain diharapkan mempercepat penemuan korban yang masih hilang. Proses identifikasi penumpang selamat juga berjalan beriringan dengan pendataan ulang.
Ke depan, insiden ini harus menjadi momentum evaluasi sistem manifes digital di pelabuhan kecil. Integrasi data penumpang secara real-time dapat mencegah kebingungan saat darurat terjadi. Tanpa perbaikan regulasi, jumlah korban kapal tenggelam akan terus menjadi catatan kelam transportasi nasional.
Pemerintah perlu mempercepat program peremajaan armada pelayaran rakyat yang mayoritas berusia tua. Pembinaan teknis bagi nahkoda dan anak buah kapal juga tidak boleh sekadar bersifat administratif. Keselamatan di laut adalah hak dasar, bukan kemewahan bagi penumpang lintas pulau.